Bidikmisi, Hidupkan Harapan Mahasiswa Tidak Mampu

Puluhan tahun sudah pendidikan tinggi Indonesia eksis dan berkembang di bumi persada ini. Namun, akses untuk menempuh jenjang pendidikan ini kerap kali menjadi batu sandungan bagi mereka yang berasal dari kalangan keluarga pra sejahtera. Untungnya, melalui program bidikmisi, pintu-pintu akses pendidikan untuk mereka jadi terbuka luas

NERACA

Selamat, Anda telah lulus Ujian Nasional. Lalu kenapa? Meski pengumuman kelulusan telah usai, masih saja menyisakan pesimisme akan masa depan sebagian siswa yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Penyebabnya tak lain adalah mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan selama pendidikan tersebut berlangsung. Ya, pendidikan berbiaya mahal adalah fakta. Khusus untuk kondisi di Indonesia saat ini, biaya pendidikan, khususnya pendidikan tinggi terus meroket, naik dan naik lagi.

Dunia kampus yang seharusnya menjadi dunia penuh harapan, tempat menempa para calon intelektual harapan bangsa untuk merubah kondisi negara menjadi lebih baik lagi, terkesan hanya bisa di akses oleh mereka yang berkantong tebal saja, tidak bagi yang memiliki keterbatasan dalam finansial. Komersialisasi pendidikankah?

Setidaknya, ada dua hambatan besar anak-anak keluarga pra sejahtera tidak memasuki gerbang pendidikan tinggi. Pertama, jelas betul, faktor ketiadaan biaya. Kedua, yang merupakan dampak dari faktor pertama. Lantaran tidak ada biaya, anak-anak keluarga pra sejahtera kebanyakan tidak berani mencanangkan impiannya hingga tinggi.

Untungnya, kini pintu-pintu akses pendidikan untuk mereka telah dibuka, bahkan akses tersebut akan senantiasa ditingkatkan efektivitasnya. Program bidikmisi merupakan salah satunya. Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan, berbeda dari beasiswa yang berfokus pada memberikan penghargaan terhadap yang berprestasi, bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan yang mana memberikan fasilitas pada yang tidak mampu untuk dapat memutus mata rantai kemiskinan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof Dr Mohammad Nuh menyatakan, tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 2,6 Triliun bagi progam Bidik Misi. Biaya tersebut diberikan kepada 220.000 mahasiswa, termasuk 60.000 mahasiswa baru pada tahun ajaran 2014/2015. Jumlah ini meningkat dibanding setahun lalu, dimana penerima progam Bidik Misi hanya 50.000 untuk mahasiswa baru, dengan total anggaran yang disiapkan sebesar Rp 2,4 triliun.

“Tahun ini ada peningkatan 10% dibandingkan tahun lalu dan kemungkinan juga akan terus meningkat karena program tersebut memiliki hasil yang memuaskan,” ujar Mendikbud usai memberikan orasi ilmiah pada wisuda mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), belum lama ini.

Mendikbud mengungkapkan, mahasiswa penerima progam ini mampu berprestasi cemerlang, bahkan ada yang melampaui target kuliah selama delapan semester seperti pada umumnya di jenjang S1.

“Karena ada mahasiswa penerima Bidikmisi yang lulus lebih cepat, anggaran Bidikmisi tahun lalu masih ada sisa dan akan digunakan kembali pada progam Bidikmisi mahasiswa baru tahun 2014/2015,” ujar dia

Lebih lanjut, Mendikbud menyatakan akreditasi perguruan tinggi khususnya swasta yang menerima anggaran Beasiswa Pendidikan Bagi Mahasiswa Berprestasi (Bidikmisi) pada tahun ini tidak harus terakreditasi A seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Banyak pertimbangan, kami membuka lebar bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk bisa mendapat anggaran Bidikmisi dan syaratnya pun juga tidak harus terakreditasi A seperti yang diberlakukan tahun 2012. Syarat akreditasi A bagi PTS itu sekarang tidak lagi mutlak," kata dia

Bagi mereka yang bisa lulus tujuh semester dan indeks prestasi (IP)-nya bagus serta mau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Sambung dia, juga sudah disiapkan beasiswa, baik di perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri.

"Kami berharap dengan progam Bidikmisi S2 ini mata rantai kemiskinan bisa terputus, bahkan mampu jumlah master dan doktor mulai pada lima hingga sepuluh tahun ke depan. Saya perkirakan lima sampai sepuluh tahun lagi ada ribuan doktor dan master di Indonesia," ujarnya.

Program Bidikmisi di Universitas Brawijaya (UB) Malang dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun lalu kuota Bidikmisi di kampus itu sebanyak 1.500 mahasiswa baru, namun realisasi melebihi kuota karena ada tambahan mahasiswa afirmasi dari Papua dan daerah perbatasan.

Tak hanya UB, Universitas Sebelas Maret (UNS) juga mengalami peningkatan. Kuota beasiswa Bidikmisi tahun 2014 sebanyak 1.400. Kuota itu meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 1.320, pada tahun 2012 sebanyak 1.020, dan tahun 2011 sebanyak 700 mahasiswa. Peningkatan juga terlihat di perguruan tinggi swasta.

Related posts