40% Anak Indonesia Menderita Gizi Buruk

Persoalan gizi buruk masih menghantui sebagian warganya. Bagaimana bisa di era sekarang, masih dijumpai ribuan, dan ratusan ribu anak balita, yang menjadi pemegang masa depan Indonesia menderita gizi buruk.

NERACA

Kasus gizi buruk umumnya menimpa balita dengan latar belakang ekonomi lemah. Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak dari kurang gizi hingga busung lapar. Menurut UNICEF saat ini ada sekitar 40 % anak Indonesia di bawah usia lima tahun menderita gizi buruk. Betapa banyaknya bayi dan anak-anak yang sudah bergulat dengan kelaparan dan penderitaan sejak mereka dilahirkan.

Ketidakseriusan pemerintah terlihat jelas ketika penanganan kasus gizi buruk terlambat seharusnya penanganan pelayanan kesehatan dilakukan disaat penderita gizi buruk belum mencapai tahap membahayakan. Setelah kasus gizi buruk merebak barulah pemerintah melakukan tindakan ( serius ).

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Dr.Anung Sugiantono M Kes mengatakan, perbaikan gizi memiliki dampak besar terhapap kesehatan ibu, contohnya keberhasilan penanggulangan anemia pada ibu hamil akan mengurangi 23% angka kematian ibu melahirkan. Begitu juga pemberian kalsium pada ibu hamil akan menurunkan 19 persen kematian ibu melahirkan.

“Dampak masalah gizi terhadap kecerdasan seperti seorang anak mengalami gangguan akibat kekurangan iodium akan mengalami kehilangan kecerdasan sebesar 10-50 IQ,begitu juga dengan anemia pada anak balita akan menurunkan kecerdasan sebesar 5-10 IQ point,” ujarnya.

Secara garis besar, menurut Anung, masalah gizi yang secara pubilc health terkendali yakni kekurangan vitamin A dan gangguan akibat kurang iodium. Secara nasional masalah defesiensi vitamin A berada dibawah 0,13 persen lebih rendah dari batas masalah kesehatan masyarakat yaitu 0,5 persen. Keberhasilan mengatasi masalah defesiensi vitamin A ini terjadi di seluruh Kabupaten/Kota.

“Masalah yang belum dapat diselesaikan (un –finished agenda) yaitu masalah Stuting dan Gizi kurang pada anak Balita. Saat ini prevelensi stunting mencapai 37,2 persen dan gizi kurang mencapai 19 persen. Persoalan ini merupakan tantangan bagi kita semua karena masalah stunting dan gizi kurang tidak bisa di kerjakan secara sendiri oleh jajaran kesehatan,” tuturnya.

Anung mengatakan masalah gizi yang sudah meningkat dan mengancam kesehatan masyarakat yakni maslah kelebihan gizi, meskipun terjadi pengurangan anak balita kelebihan gizi dari 14,0 persen tahun 2010 menjadi 11,9 persen tahun 2013 tetapi persoalan ini masih serius karena memicu penyakit tidak menular pada usia lebih muda.

Sementara itu Dokter Spesialis Gizi Dr.Laila Hayati, M Gizi,SpGK. Masalah gizi di Indonesia yang saat ini memasuki masalah gizi ganda artinya masalah gizi belum teratasi sepenuhnya. Selain itu, masalah gizi lainnya kerap muncul adalah perawakan pendek pada anak bedasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 pada anak di usia 6-12 tahun, prevelensi anak kependekan 25,6 persen,anak kekurusan 11,2 persen dan anak kegemukan 9,2 persen. Jadi partisipasi orang tua untuk memastikan anak terhindar dari masalah gizi.

“Kasus gizi kurang bertambahnya usia anak tidak disertai penambahan berat badan dan banyak kasus gizi kurang bisa disebabkan karena anak tersebut kekurangan zat besi. Idealnya ketika anak bertambah umur bertambah juga berat dan tingginya. Namun, nutrisi yang tidak seimbang menyebabkan anak tidak mengalami pertambahan berat badan mencapai berat badan ideal,”kata Dr Laila.

Faktor kemiskinan sering menimbulkan kasus gizi buruk, sebab tekanan ekonomi membuat kuantitas maupun kualitas ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga menjadi rendah. Faktor penyebab yang lain adalah kurangnya pemahaman tentang masalah gizi, buruknya pelayanan kesehatan, dan kondisi lingkungan

Related posts