Menteri Berkampanye Sebaiknya Mundur - PEMILIHAN PRESIDEN 2014

Jakarta – Himbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar para menteri yang bakal aktif dalam kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 menyatakan mundur dari Kabinet Indonesia Bersatu II, mendapat beragam tanggapan dari berbagai kalangan.

NERACA

Di mata ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, dalam etika politik memang sudah seharusnya dioptimalkan para menteri ini untuk mundur dari pemerintahan. Hal ini dilakukan untuk fokus atas kepentingan politik para menteri ini. Sehingga, tidak akan mengganggu segala kebijakan pemerintahan, khususnya kebijakan ekonomi.

“Meskipun pemerintahan SBY tinggal beberapa bulan lagi, namun mundurnya para menteri sektor ekonomi yang jadi Timses ini akan berpengaruh besar terhadap kondisi perekonomian, khususnya dalam pengambilan kebijakan strategis di pemerintahan,” kata Eko kepada Neraca, Selasa (3/6).

Namun, lanjut Eko, meskipun para menteri ini akan mundur dan digantikan pejabat yang baru maka tidak akan mempengaruhi kebijakan ekonomi pemerintahan. Hal ini dikarenakan pemerintahan SBY tidak akan mengambil kebijakan strategis dalam mengubah fundamental ekonomi. “Dalam sisa pemerintahan SBY ini, kabinet atau menteri tidak akan mengambil kebijakan strategis atau dengan kata lain lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan khususnya kebijakan ekonomi,” ujar Eko.

Eko mengungkapkan, hal yang dilakukan pemerintahan SBY saat ini adalah menstabilkan perekonomian setelah Pilpres nanti. Apalagi, nilai tukar rupiah sedang turun akibat defisit neraca perdagangan, maka diperlukan kebijakan yang tepat dalam mengatasinya. “Perekonomian Indonesia tidak akan berpengaruh secara besar, apalagi diharapkan naik dikarenakan kebijakan pemerintahan sekarang tidak akan mengambil kebijakan yang fundamental. Apalagi dengan mundurnya para menteri ini akan tidak memberikan gebrakan yang besar dalam perekonomian,” ungkap dia.

Sementara bagi pengamat kebijakan publik Agus Pambagio, kebijakan yang dilakukan presiden dalam mempersilakan para menterinya yang ikut tim sukses para Capres dan Cawapres merupakan kebijakan untuk menjalankan sisa pemerintahannya dengan maksimal melalui menteri-menterinya yang fokus dalam pemerintahan. “SBY sedang membutuhkan pembantunya untuk fokus dalam mengerjakan pemerintahan yang tidak akan lama lagi akan berganti pimpinan pemerintahan,” ujarnya, kemarin.

Menurut Agus, dipandang dalam kebijakan publik ini maka keputusan untuk mundur oleh menteri ini dipandang sangat perlu dilakukan dikarenakan kebijakan pemerintahan melalui menterinya akan mempengaruhi pasar ekonomi. Perekonomian akan berjalan sulit apabila menterinya terpecah konsentrasinya dalam dunia politik ini.

“Pengunduran para menteri ini bisa saja dilakukan apabila melihat kebijakan menteri ini membutuhkan konsentrasi penuh, tanpa ada kepentingan politiknya sehingga masyarakat bisa menilai para menteri bisa bekerja profesional,” ujar Agus.

Agus juga menambahkan, apabila terjadi para menteri itu mengundurkan diri, kondisi perekonomian Indonesia akan begini-begini saja dan tidak ada perubahan perbaikan yang signifikan. Para menteri yang menjadi Timses ini tidak berkonstribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. “Oleh karenanya, ada atau tidak adanyta para menteri yang jadi Timses maka kondisi perekonomian Indonesia tetap saja tidak akan membaik,” lanjut dia.

Cenderung Stagnan

Sedangkan dalam kacamata dosen FEUI dan macroeconomist EC-Think, Telisa Aulia Falianty, memprediksi bahwa kondisi perekonomian Indonesia dalam beberapa bulan ke depan akan mengalami stagnan dan cenderung akan berjalan sendiri tanpa arah tujuan yang jelas. Pasalnya pada beberapa bulan tersebut akan ada masa transisi jabatan pemerintahan.

"Sudah sangat jelas pada masa transisi pemerintahan, perekonomian dalam negeri akan mengalami stgnansi dan cenderung berjalan sendiri atau auto pilot. Lebih parah lagi,kalau sejumlah menteri ekonomi dikabinet SBY jilid 2 ini, banyak yang mundur karena ikut dalam tim sukses,"ungkap Telisa, Selasa.

Lebih lanjut Telisa mengatakan, kondisi masa transisi pemerintahan tidak akan berjalan baik, karena ada banyak sejumlah investor baik dari dalam negeri maupun asing, pasti akan menunggu masa peralihan pemerintahan tersebut. "Untuk rencana kerja pemerintah 2015 nanti, disarankan fokus pada penguatan fiskal yang sejalan dengan penguatan ekonomi domestik. Salah satunya dengan memperkuat investasi, moneter dan nilai tukar."Kontribusi ini harus berdampak pada pengurangan kemiskinan," tegas Telisa.

Di tengah masa transisi saat ini, pemerintahan baru diharapkan mengevaluasi sekaligus meninjau kembali sasaran yang belum tercapai saat ini. Tahun 2015 juga menjadi tahun transisi menjalankan RPJMN 5 tahunan. "Arah yang tetap sesuai jangka panjang. Proyeksi pembangunan 6 % cukup realistis di tengah tantangan 2015. Perhatian pemerintah laju perekonomian ekonomi yang menyebabkan inflasi," tukas Telisa.

Sementara Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ) M Riza Damanik mengatakan, jika menteri mengundurkan diri akan menambah beban berat bagi pemerintah sekarang. "Tugas presiden akan semakin berat jika menteri mundur di akhir masa jabatannya," katanya.

Karena apa, satu sisi jika mereka mundur maka presiden akan dipusingkan dengan mencari pegantinya. Di sisi lain penggantinya belum tentu produktif untuk menjalankan di sisa waktu yang hanya hitungan bulan saja. "Waktunya terlalu mepet, jadi pasti akan ada dampak jika ada pergantian kepemimpinan," tandas Riza.

Tapi, sambung Riza jika memang para Menteri disibukan dengan spekulasi ikut dalam tim sukses pencapresan, kondisi itu jelas sangat mempengaruhi kinerja para menteri karena tidak fokus dalam bekerja tidak ada salahnya presiden untuk menggantinya. Dari pada masih menjabat tapi tidak bekerja maksimal.

Riza menghimbau pada prinsip dasarnya jika memang masa jabatannya sudah mau selesai, alangkah baiknya menteri bisa bekerja lebih baik. Sehingga dapat dipandang sebagai menteri berkinerja baik, dan pasti akan dilirik pada pemerintahan di periode mendatang. Dari pada gambling ikut serta dalam tim sukses sedangkan kinerjanya malah memburuk. mohar/iwan/agus/rin

Related posts