Depresiasi Rupiah Kian Dalam

Setelah pengumuman resmi KPU atas pasangan capres dan cawapres Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS terus merosot. Apakah ini terpengaruh atas figur kedua pasangan tersebut yang berdampak terhadap rupiah? Tidak jelas, tapi yang pasti penguatan US$ terhadap posisi rupiah di tengah minusnya performa perdagangan domestik Indonesia, telah membuat rupiah melorot menembus level Rp 11.800. Angka ini merupakan level terendah rupiah terhadap dolar AS sejak 18 Februari 2014 yang berada pada Rp 11.848.

Ironisnya, dolar AS saat ini lagi menguat di pasar Asia. Kemerosotan rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi neraca perdagangan Indonesia kuartal I-2014 yang masih defisit US$1,96 miliar, dan inflasi yang naik tipis pada Mei 2014 menambah dorongan rupiah menggapai Rp 11.800 per US$.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengakui pelemahan rupiah hingga mencapai kisaran Rp 11.800 akibat pengaruh rilis data neraca perdagangan yang mencatat defisit. "Nilai tukar sekarang antara Rp 11.600 dan Rp 11.800. Kalau seandainya kondisi neraca perdagangan Januari-April dapat dilakukan perbaikan, defisit neraca perdagangan dapat diperbaiki dan diharapkan defisit sifatnya sementara," ujarnya saat rapat kerja Badan Anggaran di Gedung DPR, Selasa (3/6).

Agus pun berkilah bahwa pelemahan kurs rupiah juga disebabkan karena transaksi berjalan Indonesia yang terus mengalami tekanan. "Di tahun 2012 transaksi berjalan Indonesia defisit US$24 miliar. Tahun 2013 meningkat menjadi US$29 miliar. Ini sudah berjalan selama 9 kuartal. Hal ini sangat berperan terhadap nilai tukar Indonesia," kata dia.

Padahal depresiasi nilai tukar rupiah itu justru merupakan salah satu cara untuk memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan (current account) yang saat ini semakin melebar. Malah depresiasi rupiah itu terjadi karena defisit transaksi berjalan itu sendiri yang membesar. Kalau masalah defisitnya tidak segera diatasi, maka nilai rupiah juga akan terus terdepresiasi ke depannya.

Menyoal apakah defisit transaksi berjalan juga akan bisa teratasi apabila neraca modal dan finansialnya meningkat, hal ini belum bisa dipastikan jikalau hal itu efektif dan akan bisa secara cepat mengatasi defisit tersebut. Tapi depresiasi rupiah ini jelas akan menguntungkan bagi ekspor Indonesia, yang pada akhirnya akan bisa memperbaiki neraca perdagangan dan neraca pembayaran Indonesia (NPI).

Apabila nilai efektif nilai tukar rupiah sudah undervalued, ini akan meningkatkan daya saing ekspor kita. Namun persoalannya ekspor non migas kita tidak juga mulai membaik. Investasi (di pasar modal, atau juga di PMDN/PMA) nya akan masuk atau tidak, itu juga masih tergantung kepada ekspektasi terhadap pemerintahan baru, serta apakah Indonesia bisa menjaga iklim bisnis secara baik atau tidak pasca Pilpres nanti.

Karena itu, dalam menghadapi depresiasi rupiah saat ini, BI jangan terlalu mempedulikan masalah depresiasi. Tapi anggap lah itu sebagai suatu bentuk penyesuaian terhadap masalah-masalah yang ada dalam perekonomian saat ini, dan obatnya tentunya ada di permasalahannya tersebut. Di sisi lain, kalangan pengusaha yang masih berorientasi pasar domestik saja, untuk bisa mengembangkan “sayap” bisnisnya ke pasar ekspor. Karena dengan adanya depresiasi rupiah malah menyebabkan daya saing ekspor Indonesia, terutama dari segi harga, menjadi lebih tinggi.

Ini sebagai warning kepada pengusaha Indonesia untuk menengok pasar luar negeri. Jangan hanya terpaku kepada pasar dalam negeri saja. Karena selain masalah internal, rupiah juga terpengaruh kondisi global yang tidak terlalu menguntungkan bagi Indonesia, yaitu penarikan stimulus moneter oleh The Fed yang sudah dilaksanakan sejak Desember 2013.

Related posts