Perlu BUMN Pakan Ikan Untuk Stabilitas Harga - Sektor Akuakultur

NERACA

Medan-Pada era industrialiasi perikanan budidaya saat ini, pakan memegang peranan penting di dalamnya. Terlebih dengan digulirkannya industrialisasi perikanan budidaya berbasis blue economy, perlu didukung ketersediaan pakan yang ramah lingkungan baik lingkungan budidaya maupun lingkungan di sekitar usaha budidaya.

“Saat ini perlu terobosan dalam industri pakan ikan/udang nasional seperti penyediaan pakan yang ramah lingkungan dalam arti mudah terdegradasi dan juga tidak mengandung bahan-bahan kimia atau logam berat terlarang. Disamping itu, isu yang selalu dibicarakan terkait dengan pakan adalah harga pakan yang tinggi dan terus meningkat setiap saat, kualitas pakan yang kurang stabil dan pengadaan bahan baku yang semakin sulit,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, pada saat memberikan pengarahan dalam acara Forum Pakan Udang/Ikan Nasional di Hotel Arya Duta Medan, Senin (2/6).

Lebih lanjut Slamet mengatakan bahwa ketiga isu tersebut sangat terkait satu sama lain dan dapat menjadi kendala dalam pengembangan usaha budidaya di masa yang akan datang. “Untuk mengatasi harga pakan yang cenderung terus mengalami kenaikan, dirasa perlu adanya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) semacam BULOG untuk menjaga kestabilan harga pakan. Disamping itu, kebijakan yang diambil untuk mengatasi masalah harga pakan ini adalah mendorong peningkatan produksi tepung ikan dari bahan baku lokal dengan memanfaatkan teknologi fermentasi,” papar Slamet.

Permasalahan harga pakan ini juga dapat diatasi dengan pembentukan Kelompok Pakan Mandiri yang mampu menghasilkan pakan dengan harga terjangkau, kualitas terjaga dan secara kontinyu. “Pembentukan Kelompok Pakan Mandiri ini akan didukung dengan pembinaan dan pengawalan oleh para penyuluh perikanan yang telah dibekali dengan ilmu dan teknologi cara pembuatan yang sesuai dengan standard yang telah ditetapkan. Sehingga kekhawatiran produksi pakan mandiri tidak sesuai dengan SNI dapat dihindari,” tambah Slamet.

Perkembangan usaha budidaya ikan yang terus meningkat telah mendorong kenaikan kebutuhan pakan ikan/udang. Hal ini tentu saja juga membawa imbas positif pada perkembangan industry pakan. Terjadi peningkatan produksi pakan dan pada umumnya telah mencapai kapasitas produksi pabrik pakan. Bahkan beberapa pabrik pakan telah melakukan ekspansi dengan mendirikan pabrik pakan baru di sentra-sentra produksi perikanan budidaya.

“Untuk itu, kami menghimbau kepada para produsen pakan bahwa sekarang ini sudah saatnya para produsen pakan menunjukkan keberpihakan kepada pembudidaya melalui jalinan kerjasama dan kemitraan antara pabrik pakan dengan pembudidaya, sehingga hubungan yang saling menguntungkan dapat terwujud,” kata Slamet.

Penelitian dan perekayasaan tentang pakan ikan/udang akan terus didorong, sehingga akan diperoleh pakan berkualitas dengan harga terjangkau. “Penelitian tentang sumber protein nabati sebagai pengganti tepung ikan, kemudian pemanfaatan ikan jenis herbivore sebagai sumber tepung ikan perlu terus dikaji dan di teliti.

Saat ini Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara dan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi telah berhasil memproduksi suplemen pakan yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan. Ini perlu didorong untuk diproduksi secara massal karena mampu meningkatkan pemanfaatan pakan dalam suatu usaha budidaya, sehingga mengurangi biaya produksi pakan dan pada akhirnya mampu meningkatkan keuntungan usaha budidaya,” ungkap dia.

Pertemuan ini dihadiri para produsen pakan, importer pakan dan bahan baku pakan ikan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi seluruh Indonesia, dan para pakar nutrisi pakan ikan dan sangat diharapkan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan pakan yang sedang di hadapi.

“Hasil pertemuan ini sangat kami harapkan mampu dimanfaatkan dan diterapkan dalam menghadapi masalah harga pakan dan juga bahan baku pakan karena dalam menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015, produk budidaya dengan nilai tambah tinggi akan meningkatkan daya saing produk khususnya di Pasar ASEAN,” tukas Slamet.

Tekan Impor

Indonesia masih ketergantungan terhadap bahan baku pakan ikan impor yaitu tepung ikan. Akibatnya harga pakan ikan pun mengalami kenaikan seiring dengan pelemahan rupiah. Semakin mahalnya biaya pakan ikan telah mempengaruhi produktifitas dari ikan yang dihasilkan para pembudidaya. Atas dasar tersebut, Direktur Jenderal Budidaya Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto menilai perlu dibentuknya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus menangani pakan ikan.

Slamet yang ditemui di Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIUUK) Karangasem, Bali menjelaskan sejauh ini belum ada BUMN yang khusus menangani masalah bahan baku pakan ikan yaitu tepung ikan. Tepung ikan masih menjadi komponen utama sumber protein dalam formulasi pakan dari ikan. "Maka dari itu, perlu kiranya semacam Badan Urusan Logistik (Bulog) yang khusus menangani pakan ikan. Fungsinya sebagai bufferstock dan menjaga harga agar harga pakan tidak naik dengan tinggi," ungkap Slamet pada kesempatan sebelumnya.

Ia mengakui bahwa seiring dengan melemahnya rupiah belakangan ini telah membuat harga pakan mengalami kenaikan. Hal tersebut karena bahan baku pakan ikan masih diimpor. Salah satu negara yang terkenal sebagai pemasok bahan baku pakan ikan adalah Chili. "Di Chili, itu sebagai pemasok utama bahan baku pakan ikan. Karena, disana mempunyai ikan teri yang besar sebagai bahan baku utama pakan ikan," ucapnya.

Namun begitu, Slamet mengatakan pihaknya juga berusaha untuk tetap mengandalkan bahan baku lokal agar tidak berketergantungan terhadap bahan baku impor. "Kedepannya, kita mulai mengidentifikasi sentra-sentra untuk pakan tepung ikan, mengupayakan menggunakan bahan baku lokal seperti dari biji-bijian dan eceng gondok serta mengupayakan agar para pembudidaya membuat pakannya sendiri. Disamping itu, kita juga bekerjasama dengan perusahaan pakan dengan murah yang berkualitas," ujarnya.

Related posts