Tarif Listrik Industri Bakal Kembali Naik - Pemerintah Ingin Hemat Anggaran

NERACA

Jakarta – Anggaran subsidi yang tertera dalam Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) akan mengalami kenaikan seiring dengan pelemahan rupiah. Untuk menghadapi anggaran subsidi yang terus meningkat, pemerintah berencana untuk menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk 5 golongan non perusahaan publik. Dampak dari kenaikan tersebut, ditaksir negara akan mendapatkan penghematan anggaran sebesar Rp4,8 triliun.

"Melihat kondisi sekarang, kami mengusulkan untuk kenaikan tarif listrik untuk golongan industri I-3 untuk perusahaan non terbuka. Kalau yang terbuka sudah kemarin,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik di Jakarta, Selasa (3/6).

Ia menjelaskan kelima golongan tersebut antara lain golongan industri I-3 untuk perusahaan non terbuka. Kedua, kenaikan tarif listrik rumah tangga R1 dengan daya 3.500-5.500 VA dengan rata-rata kenaikan sebesar 5,7% tiap 2 bulan. Langkah ini diperkirakan akan menghemat Rp 0,37 triliun. Ketiga adalah sektor rumah tangga R1 dengan daya 2.200 VA, rata-rata kenaikan sebesar 10,43%.

Ini diperkirakan akan memberi penghematan Rp 0,99 triliun. “Khusus untuk rumah tangga dengan daya 450-900 VA, saya katakan tidak masuk dalam rencana kenaikan tarif listrik,” tegas Jero. Keempat adalah di sektor pemerintahan (P-2) di atas 200 KVA dengan kenaikan rata-rata sebesar 5,36% setiap 2 bulan. Dengan kenaikan ini akan menghemat Rp 0,10 triliun. Kelima adalah penerangan jalan umum (P3) dengan rata-rata kenaikan sebesar 10,69% diperkirakan akan menghemat Rp0,43 triliun.

Menurutnya, kenaikan ini akan dilakukan dalam waktu sisa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Penaikan tarif listrik itu berdampak pada penghematan subsidi listrik sebesar Rp 1,8 triliun. “Sebelum pemerintahan selesai kita akan naikkan. Kita akan dapat Rp 1,8 triliun jadi hemat lah,” tegasnya.

Rencana penaikan ini akan segera dibahas bersama Komisi VII DPR-RI. “Listrik bisa tahun pemerintah SBY dan sangat rasional. Ini kan masih dengan Badan Anggaran DPR-RI nanti dengan komisi VII,” cetusnya. Dia berharap penaikan ini membuat konsumern rumah tangga bisa menghemat penggunaan listrik. “Tapi sebaiknya sekarang juga sudah dihemat. Jangan nyalakan TV kalau tidak nonton, AC juga,” saran Jero.

Sementara itu, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman mengatakan, penyesuaian tarif ini berlaku apabila terjadi perubahan indikator ekonomi makro yaitu Kurs, ICP dan Inflasi. “Prinsipnya begini, itu kan listrik tergantung pada ICP dan dolar. Kalau dolar naik kan listriknya naik. Untuk golongan kaya kan bayar listriknya sesuai dengan dolar. Bayar listriknya tergantung dolarnya berapa saat itu. Kalau dolar turun, bayar listriknya juga turun,” tandasnya.

Dampak Ekonomi

Pengamat Ekonomi Universitas Bandarlampung (UBL), Erwin Octavianto lebih menyoroti pada pelayanan PT PLN yang belum maksimal. “Selama ini, yang dipersoalkan hanya kerugian PLN sebagai pendistribusian listrik, hingga membuat masyarakat bertanya-tanya. Padahal, pelayanan menjadi parameter kenaikan TDL,” terang dia.

Dalam konteks ini, menurut Erwin, masyarakat pasti akan protes jika kenaikan TDL tidak sejalan dengan pelayanan yang diberikan. "Dampak yang paling dirasakan, adalah UMKM sektor industri rumah tangga," katanya. Meliputi usaha makanan, percetakan dan usaha lain yang bergantung pada pelayanan PLN.

Kenaikan tarif listrik, ujar dia, juga akan berpengaruh pada inflasi dan kenaikan biaya usaha produksi. “Saya prediksi, peningkatan harga barang plus minus bisa mencapai 5-10%. Sedangkan inflasi bergerak di angka 0.02%," duganya.

Senada dengan Erwin, pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi, menilai kenaikan tarif dasar listrik (TDL) akan berpengaruh pada industri dan rumah tangga. Dampak kenaikan TDL bagi industri pada gilirannya akan berdampak pada inflasi. Dia menyebutkan, sektor industri yang akan terkena dampak terbesar adalah jasa perhotelan, perdagangan, kuliner, tekstil dan produk tekstil (TPT), keramik, serta kimia. “Jenis-jenis industri seperti itu membutuhkan pasokan tenaga listrik yang cukup besar,” ujarnya.

Dengan demikian, dia mengatakan, akan terdapat peningkatan beban operasional yang berimbas pada peningkatan harga jual komoditi. Hal tersebut pada gilirannya akan menimbulkan inflasi. Adapun dampaknya kepada rumah tangga, dia menyebutkan, rata-rata adalah keluarga yang berasal dari kalangan menengah yang paling terasa atas kenaikan TDL tersebut, semenjak kebijakan tersebut diberlakukan bagi pelanggan yang menggunakan daya listrik 1.300 VA ke atas. “Meskipun demikian, pengeluaran akan cukup tersita dengan kenaikan tersebut,” ujarnya.

Selain itu, dia menambahkan, kebijakan tersebut tidak sebanding antara dampak yang terjadi dengan tujuan pemerintah menaikkan tarif listrik, yakni menambah produksi listrik. Dia menyangsikan tujuan itu bisa tercapai. Pasalnya, dia beranggapan, penambahan produksi listrik yang dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) seringkali tak efisien. Hal itu justru malah menimbulkan pemborosan.

Related posts