Inflasi Diprediksi Bakal Berlanjut

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan sumbangan inflasi bakal terus berlanjut sampai dengan dua bulan mendatang. Kondisi ini disebebakan karena pengusaha banyak yang sudah membebani peningkatan harga jual pada konsumen alasannya adalah adanya tarif dasar listrik baru per Mei 2014. Padahal, harga listrik untuk industri seharusnya baru tertagih awal Juni. Ini membuat inflasi bulan lalu terkerek ke tingkat 0,16 persen, di atas prediksi awalBPS.

"Awalnya kami memproyeksikan seharusnya inflasi bisa di bawah 0,1 persen pada Mei 2014.tapi faktanya 0,16% ini dikarenakan adanya kenaikan harga yang dibebankan merata ke konsumen. Harga produk macam-macam naik, alasannya karena kenaikan tarif dasar listrik itu," kata Deputi Bidang Statistik Barang dan JasaBPSSasmito Hadi Wibowo, di Jakarta, awal pekan kemarin.

Tapi, langkah pengusaha itu masih membuka kemungkinan positif untuk data inflasi Juni 2014. Soalnya, harga-harga barang bulan depan sudah mengalami penyesuaian. Ancaman besar yang menyebabkan inflasi dalam periode berikutnya adalah adanya tahun ajaran baru di seluruh tingkat pendidikan, serta mulai bulan puasa. Sehingga inflasi akan masih nampak di Indonesia hingga dua bulan mendatang. "Pokoknya kalau di Indonesia, puasa sampai lebaran, masyarakat akan konsumtif. Pengaruhnya, sekitar lebaran, baru bisa kita tahan inflasinya," kata Sasmito.

Indeks Harga Konsumen untuk Mei 2014, sebesar 0,16%. Ini terutama akibat peningkatan harga di makanan jadi, minuman, rokok, elpiji, serta sandang dan perhiasan. Inflasi tahun kalender 1,56 persen. Sedangkan inflasi inti dalam perbandingan tahun ke tahun berada di level 4,82 persen.

Sedangkan menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo Tarif dasar listrik (TDL) untuk industri besar secara berkala dinaikkan per 1 Mei 2014 lalu. Kenaikan TDL tersebut akan menyebabkan kenaikan harga-harga barang dan dapat berdampak kepada inflasi.

Meskipun demikian, BI menganggap kenaikan TDL industri tak perlu diikuti kenaikan suku bunga. "Policykami, BI rate itu untuk menghandle inflasi. Dengan melihat kemarin dampak TDL dan lain-lain itu inflasi akhir tahun 5 persen. Masih di kisaran 4,5 plus minus 1 persen," katanya.

Dengan melihat kondisi itu, Perry menyatakan agar bank sentral tidak melihat ada keperluan untuk menaikkan atau menurunkan suku bunga acuan BI alias BI rate dalam konteks untuk menyikapi inflasi.

Ia mengakui, kenaikan TDL industri memang akan berdampak ke inflasi. Namun demikian, Perry mengungkapkan saat ini pertumbuhan industri di Tanah Air menunjukkan perkembangan yang relatif baik. Baik secara umum maupun sektoral, pertumbuhan industri masih cukup baik dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2014.

"Pertumbuhan industri kemarin itu sekitar 6 persen di sektor manufacturing. Konstruksi juga sekitar itu. Transportasi dan telekomunikasi tumbuh sekitar 10 persen," sebut dia.

Dengan gambaran kondisi pertumbuhan industri domestik tersebut, bank sentral memandang pertumbuhan ekonomi domestik cukup kuat di tengah berbagai situasi global. Selain itu, dari sisi domestik, risiko yang masih dihadapi adalah inflasi dan defisit transaksi berjalan. [agus]

Related posts