OJK Akui Industri Reksa Dana Tumbuh Pesat - Dana Kelola Capai Rp 200,70 Triliun

NERACA

Jakarta – Gencarnya manajer investasi merilis produk reksa dana untuk mengincar investor ritel, memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan dana kelola di industri reksa dana. Berdasarkan keterangan resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Selasa (3/6), disebutkan total dana kelolaan reksa dana hingga lima bulan pertama tahun ini mencapai Rp200,70 triliun. Jumlah itu naik sekitar Rp690 miliar dibanding posisi akhir April sebesar Rp200,01 triliun.

Disebutkan pula, naiknya dana kelolaan reksa dana hingga akhir Mei 2014 didukung naiknya jumlah unit penyertaan. Pada bulan lalu, jumlah unit penyertaan reksa dana naik sekitar 780 juta menjadi 124,24 miliar dibanding posisi bulan sebelumnya sebanyak 123,46 miliar.

Sementara dana kelolaan reksa dana hingga akhir bulan lalu, mayoritas masih dikontribusi dari reksa dana saham. Dana kelolaan reksa dana berbasis saham tercatat mencapai Rp86,29 triliun atau 42,69% dari total dana kelolaan reksa dana. Sedangkan, reksa dana terproteksi mengontribusi 20,49% atau senilai Rp41,42 triliun.

Posisi ketiga adalah reksa dana pendapatan tetap senilai Rp30,01 triliun atau sekitar 14,85%. Reksa dana campuran membukukan dana kelolaan sebesar Rp18,36 triliun atau 9,09% terhadap keseluruhan dana kelolaan. Reksa dana pasar uang mencatat dana kelolaan senilai Rp14,47 triliun atau 7,16% dan reksa dana indeks Rp411,54 miliar atau 0,20%.

Sementara reksa dana syariah berbasis campuran mencatat dana kelolaan sebesar Rp4,10 triliun atau 2,03%, reksa dana syariah berbasis terproteksi sebesar Rp1,12 atau 0,56%, reksa dana syariah berbasis saham Rp2,83 triliun atau 1,40%.

Sedangkan, reksa dana syariah berbasis indeks sebesar Rp158,29 miliar atau 0,08%, reksa dana syariah berbasis pendapatan tetap Rp480,61 miliar atau 0,24% dan reksa dana syariah pasar uang sekitar 0,12% atau Rp231,36 miliar. Sementara dana kelolaan ETF pendapatan tetap Rp1,74 triliun atau 0,86%, ETF Saham Rp363,69 miliar atau 0,18% dan ETF Indeks senilai Rp130,89 miliar atau 0,06% dari total dana kelolaan reksa dana.

Tahun ini, Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) menargetkan dapat meningkatkan investor reksa dana sekira 15-20%. Saat ini jumlah investor reksa dana sekira 180 ribu dengan dana kelolaan sekira Rp200 triliun.

Ketua APRDI, Denny Taher mengatakan, pihaknya optimis dana kelola industri reksa dana akan terus tumbuh, “Kami di APRDI sudah bikin blue print untuk pengelolan investasi reksa dana hingga 2017. Di tahun itu pertumbuhan hingga 5 juta dengan dana kelola Rp1.000 triliun,”paparnya.

Menurut Denny, dengan target tersebut pihaknya akan menyiapkan banyak program dan peraturan guna menyederhanakan transaksi untuk investor reksa dana,”Blue print ini perlu didukung dengan beberapa perubahan regulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang saat ini peraturan OJK mendukung ini," kata Denny.

Denny menjelaskan, salah satu hal yang perlu diubah regulasinya adalah mengenai peraturan transaksi. Apabila dipermudah, akan banyak masyarakat investasi di reksa dana."Sementara itu, regulasi yang perlu ditinjau ulang adalah mengenai kebijakan dalam melakukan reporting. Akan lebih efisien, kalau menggunakan kertas-kertas itu menambah biaya, dan menjadi mahal," tutupnya.

Kata Denny, pertumbuhan AUM di tahun lalu cenderung melaju flat. Hal ini disebabkan adanya volatilitas pasar. Namun, di awal tahun industri reksa dana melaju pesat. Dirinya mengakui, memang pada tahun 2017 industri reksa dana ditargetkan akan mengelola dana sebesar Rp1.000 triliun. Target tersebut juga akan dibarengi dengan target lima juta investor di tahun yang sama. (bani)

Related posts