Pemerintah Dukung Kenaikan Cukai Rokok

NERACA

Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mendukung penaikkan cukai rokok dari 45%-57% untuk menekan jumlah perokok yang belakangan cenderung meningkat.

"Dengan menaikkan cukai diharapkan dapat menekan jumlah perokok. Banyak dari lansia yang mengalami masalah kesehatan di usia senja ternyata dia adalah perokok sejak muda," kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Jakarta, Senin (2/6).

Dia pun mengaku prihatin banyaknya masyarakat kurang mampu yang justru mengutamakan membeli rokok daripada kebutuhan yang lebih penting.

"Parahnya, banyak perokok itu adalah kalangan seperti petani, nelayan dan buruh yang berpenghasillan rendah. Dengan kata lain, mereka memilih untuk menggunakan uangnya membeli rokok dibandingkan memperbaiki kualitas gizi keluarga," katanya.

Berdasarkan data Riskesdas 2013, sebesar 44,5% dari total perokok aktif merupakan penduduk yang mata pencahariannya petani, nelayan dan buruh.

Sebagaimana diberitakan, upaya pemerintah menekan angka perokok menemui kendala yaitu masih murahnya harga rokok di Indonesia. Selain itu, akses membeli rokok cenderung gampang terutama untuk kategori eceran yang mudah di dapat di berbagai tempat. Belum lagi aturan pembatasan penjualan rokok hanya bagi orang dewasa 18 tahun atau lebih kurang efektif mencegah anak bawah umur dalam membeli rokok.

Sementara itu, terdapat protes dari petani tembakau terkait upaya Pemerintah dalam mengurangi angka perokok. Ribuan petani tembakau di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, berkumpul di sisi timur alun-alun Temanggung untuk menentang Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Sebagai bentuk penentangan tersebut mereka merokok bersama-sama dengan rokok linting. Bahkan beberapa dari mereka melinting rokok ukuran besar.

Koordinator lapangan Agus Parmuji mengatakan petani tembakau menentang peringataan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, karena menurut peraturan tembakau merupakan tanaman legal.

Menurut dia, Hari Tanpa Tembakau sangat mengkhawatirkan, karena tembakau merupakan komoditas unggulan di salah satu kabupaten di Jawa Tengah itu.

Menurut dia, peringatan hari antitembakau merupakan suatu upaya pembunuhan terhadap mata pencaharian petani tembakau. [ant/ardi]

Related posts