Budidaya Tuna Jaga Stabilitas Produksi - Tidak Lagi Andalkan Hasil Tangkapan

NERACA

Denpasar – Indonesia dikenal sebagai penghasil ikan tuna terbesar di dunia. Tercatat total produksi tuna mencapai 613.575 ton per tahun dengan nilai ekonomis sebesar Rp 6,3 triliun per tahun. Kendati demikian jika mengandalkan dari hasil tangkapan, maka kelestarian ekosistem ikan tuna nasional kian menyusut. Oleh karenanya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) getol meramu dan mengaplikasikan teknologi tinggi guna mampu membudidayakan ikan tuna.

Kepala Balitbang KKP Achmad Poernomo menuturkan Indonesia merupakan salah satu produsen ikan tuna terbesar dunia, meski begitu jangan sampai kelestarian ikan tuna ini menjadi hilang. Maka dari itu, pihaknya melalui badan pengembangan teknologi kelautan sedang berupaya keras untuk dapat membudidayakan ikan tuna guna menjaga keberlanjutan ekosisitem ikan tuna jangka panjang.

“Kerangka pembangunan pengelolaan laut ke depan adalah yang tadinya hanya mengelola sumber daya laut, tapi fokus kami ke depan adalah dengan menjaga keberlanjutan sumber daya laut untuk jangka panjang. Salah satu yang menjadi konsen kita ke depan adalah dengan membudidayakan ikan tuna,” kata Achmad pada saat membuka acara Press Tour wartawan perikanan dan kelautan di Singaraja, Provinsi Bali, pekan lalu.

Untuk mencapai itu, tentu saja dengan mengaplikasikan teknologi tinggi agar dapat dibudidayakan dan dilestarikan. "Jika mengandalkan dari alam atau hasil tangkapan lama kelamaan akan habis, maka dari itu untuk menjaga kelestariannya dan tentu saja stabilisasi produksi maka perlu dibudidayakan untuk menjaga keberlanjutannya. Oleh karenanya perlu teknologi tinggi untuk membudidayakannya,” ujarnya.

Adanya aplikasi teknologi itu dibenarkan oleh Kepala Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perikanan Budidaya KKP, Tri Heru Prihadi, saat ini memang kami sedang mengembangkan teknologi untuk budidaya ikan tuna. Dan saat ini Indonesia merupakan yang kedua setelah Japan untuk yang mencoba mengembangkan pemijahan ikan tuna. “Untuk ikan tuna baru Indonesia dan Japang yang sedang mencoba untuk membudidayakan,” ungkapnya.

Tujuannya tidak lain adalah untuk mengembangkan perikanan nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan dengan teknologi tinggi, sederhana dan ramah lingkungan. Sehingga mampu diserap oleh masyarakat secara keseluruhan. “Saat ini konsennya bagaimana nanti teknologi yang diterapkan mampu diserap oleh masyarakat, ini yang sedang terus kami kembangkan,” tuturnya.

Mengejar Ketertinggalan

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL), Gondol, Bali, Rudhy Gustiano mengatakan saat ini yang sudah mampu membudidayakan ikan tuna baru Japan dan Australia itu pun untuk jenis tuna bluefin. Dulu kami sudah melakukan pemijahan namun begitu terhenti karena tidak dilakukan pembesarannya. Maka dari itu, kini kami sedang melakukan pembenihan sekaligus pembesaran untuk jenis yellowfin (tuna sirip kuning).

“Dulu kami bersama Japan mengembangkan teknologi untuk budidaya ikan tuna, namun kami sempat terhenti dan Japan sudah mulai membudidayakan ikan tuna oleh karenanya kita harus kejar agar mampu membudidayakan ikan tuna,” katanya.

Adapun kami menargetkan meski dalam balai ini sudah dilakukan proses budidaya baik pemijahan maupun pembesaran, namun demikian dimasyarakat pembudidaya lokal memang belum ada yang mencobanya mengingat costnya masih sangat tinggi butuh investasi besar untuk budidaya ikan tuna. “Teknologinya sedang kami kembangkan seefektif dan efisien mungkin agar mampu diserap oleh pembudidaya lokal. Kami menargetkan pada tahun 2017 sudah dibudidayakan secarama umum,” paparnya.

Sedangkan menurut Jhon Haryanto Hutapea, Kepala Layanan Tekhnis BBPPBL), Gondol, Bali yang juga peneliti ikan tuna menuturkan investasi budidaya ikan tuna sangat tinggi. Namun begitu profit yang didapatkan sangat besar mengingat harga ikan tuna sangat tinggi. Secara hitungan skala ekonomi jika melakukan pembesaran saja dalam jangka 1 tahun saja bisa menghasilkan ikan tuna dengan berat sekitar 20 kilogram sedangkan per kilogram Rp 80.000 jika dikalikan 20 saja per ekornya sudah Rp. 1,8 juta. “Memang investasinya besar, tapi profitnya tinggi,” katanya.

Ini bisa dikembalikan pada masyarakat apakah mau memilih untuk pembenihan atau pembesaran, tergantung pada sisi kemampuan permodalannya. “Saat ini di Indonesia masyarakat maupun pembudidaya belum ada yang melakukan budidaya ikan tuna disamping investasi besar resikonya juga tinggi. Tapi saat ini kami sedang konsen mengadopsi teknologinya agar bisa diaplikasikan ke masyarakat,” tutupnya.

Related posts