IKM Makanan dan Minuman Bakal Sulit Bersaing - Menyongsong Pasar Bebas ASEAN 2015

NERACA

Jakarta - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) menyebutkan industri kecil dan menengah makanan dan minuman (mamin) lokal tidak bisa bersaing dengan produk asing dalam Asean Economic Community (AEC) 2015 karena permasalahan proses produksi.

“Menghadapi AEC 2015, IKM makanan dan minuman lokal harus mempunyai spesifikasi dan keunikan jika ingin mendapatkan pasar. Permasalahan proses produksi menjadi alasan utama dan IKM kurang memperhatikan soal kebersihan hingga pengemasan yang higienis,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gapmmi, Franky Sibarani, di Jakarta, Senin (2/6).

Proses produksi dengan menggunakan teknik tradisional, menurut Franky, tidak bisa menjadi alasan dalam menghasilkan produk yang bersih. “Pendampingan IKM oleh pemerintah jangan hanya sektoral tetapi harusnya menyeluruh. Saat ini, IKM kurang bersaing, tidak efisien dalam produksinya,” paparnya.

Franky menambahkan, upaya IKM nasional bersaing di sektor makanan dan minuman tingkat Asean masih sangat sulit karena IKM masih berjibaku dengan persaingan ditingkat lokal. “Hanya beberapa produk yang mampu menjelajahi negara-negara sekitar dan sedikit sekali berasal dari IKM,” ujarnya.

Sementara itu potensi sumber daya alam yang besar dapat menjadi modal untuk meningkatkan mutu industri kecil dan menengah (IKM). Untuk itu, tidak ada alasan IKM Indonesia tidak bisa bersaing di tingkat global.

Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan IKM di Indonesia mencapai 3,2 juta unit usaha, dan 70 % IKM tersebut tersebar di Pulau Jawa. Tetapi permasalahannya, masih banyak IKM di Indonesia yang belum bisa memenuhi standar nasional sehingga sulit bersaing.

"Produk IKM masih sulit untuk disandardisasi karena faktor SDM dan barang-barang yang dibuat belum menggunakan mesin otomatis (handmade-red) walaupun sebagian sudah ada yang diekspor," ujar Dirjen IKM Kementerian Perdagangan, Euis Saedah.

Menurut Euis, pemerintah terus memacu peningkatan hasil produksi IKM dengan jalan memberikan tenaga penyuluh lapangan serta bantuan untuk peralatan mesin-mesin yang dibutuhkan dengan harga yang disubsidi hingga 40%. "Dalam tahun ini, kita bantu 2 miliar rupiah untuk industri testil, dan ini pengembangan produk pakaian jadi harus menjadi produk fashion dari serat alam yang berlimpah," paparnya.

Permasalahan lain yang masih dihadapi oleh para pelaku IKM di Indonesia, dikatakan Euis, adalah rendahnya kemampuan SDM karena tingkat pendidikan dan tingkat keterampilan didapat secara turun-termurun sehingga sulit mengembangkan inovasi produk. Selain itu, teknologi mesin yang digunakan masih menggunakan peralatan lama yang sudah tua.

"Selama ini, pemasarannya hanya dilakukan pada masyarakat ekonomi bawah, tetapi kalau sudah diinovasi dengan baik, tentunya produk ini sudah bisa bersaing. Seperti di Palembang ada Trya songket yang selalu menginovasi produk setiap ada pameran atau permintaan," jelasnya.

Dia mengatakan dalam sejarahnya, memiliki pertumbuhan IKM cukup baik, dan Sumsel memunyai produk makanan yang mampu dikirim ke luar dalam satu bulan mencapai 3.000 ton. Potensi yang ada ini perlu dikembangkan, terutama dalam kemasan, agar bisa bertahan lebih lama.

"Sekarang sudah memunyai daya tahan lebih baik, begitu juga kemasannya, dan ini harus lebih ditingkatkan lagi," tuturnya.

Sementara itu, Eddy Sutopo, pengusaha kerupuk dan pempek dari Palembang, mengaku dirinya telah mampu memproduksi mesin pemotong kerupuk yang lebih ekonomis dibandingkan dengan teknologi modern. "Pekerjaan saya lebih mudah dengan adanya mesin inovasi sendiri, serta biaya produksi juga lebih murah," ujar Eddy yang pernah meraih penghargaan dari Presiden sebagai IKM terbaik di Indonesia.

Menurut Eddy, yang sekarang masih menjadi kendala adalah kesulitan mendapatkan modal usaha karena rumitnya prosedur yang diajukan oleh pemerintah sehingga proses ini mengganggu produksi kerja.

Sulit Bahan Baku

Hal senada disampaikan oleh Agus Efrisal, perajin sandal songket. Ia mengakui kesulitan bahan baku menjadi kendala dalam meningkatkan produksi sandalnya, bahkan ini harus didatangkan dari Surabaya.

"Kalau bahan songket banyak di Palembang, tetapi lapis sandal masih harus didatangkan dari Surabaya, begitu juga dengan lemnya. Dan ini tentunya berpengaruh besar terhadap pemodalan," jelas Agus.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumsel, Permana, mengakui kesulitan bahan baku menjadi perhatian pihaknya dalam meningkatkan IKM di Sumsel. Tetapi, untuk itu, pihaknya akan menggandeng perusahaan besar agar dapat menyediakan bahan baku untuk para IKM.

"Selama ini, sangat ironis songket kita produksinya besar, tetapi untuk bahan baku saja baru satu tempat yang menyediakannya, dan ini tentunya jadi perhatian kita untuk membantu IKM," katanya.

Terkait pemodalan, Permana mengatakan pihaknya telah memberikan kredit lunak kepada IKM dengan tidak memberikan agunan. "Kami telah menggandeng beberapa perbankan dan perusahaan besar untuk dapat membantu IKM dalam hal permodalan, tentunya dengan kredit yang mudah,"katanya.

Related posts