Indonesia Ditantang Wujudkan Kota Humanis

NERACA

Singapura – Seiring makin berkembangnya populasi masyarakat di dunia dan banyaknya masyarakat yang tinggal di kota-kota besar, kondisi ini tentunya menjadi tantangan bagi negara-negara di dunia untuk bisa memberikan pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan. Maka event World Cities Summit di Singapura menjadi ajang beberapa walikota di dunia untuk sharing informasi dan gagasan terhadap tantangan yang dihadapi ke depan, khususnya negara berkembang seperti Indonesia.

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengatakan, tantangan kedepan bagi pemerintah kota di dunia adalah bagaimana menjaga kelanjutan suatu kota, seperti air bersih, kebersihan dan ramah lingkungan. Pasalnya, tiap tahunnya penduduk di dunia banyak hijrah atau urbanisasi ke kota-kota besar, “Setidaknya tercatat ada sekitar 70% masyarakat dunia bakal tinggal di kota-kota besar pada tahun 2050,”ujarnya di Singapura, kemarin.

Tentunya, berkembangnya masyarakat di dunia akan memberikan dampak yang berarti dari sisi ekonomi dan sosial. Namun disatu sisi menjadi tantangan, bagaimana menciptakan gaya hidup masyarakat tetap berkualitas dan ramah lingkungan. Kata Perdana Menteri Lee, Singapura telah banyak belajar dari negara maju bagaimana menciptakan kota yang humanis, green teknologi dan ketersediaan transfortasi umum. Sementara Walikota Bandung yang hadir dalam World Cities Summit, Ridwan Kamil menuturkan, pihaknya akan mengandalkan teknologi yang dikembangkan dari mahasiswa Intitut Teknologi Bandung (ITB) dalam penanganan dan pengembangan perkotaan hanya dengan menggunakan komputer.

Dia menjelaskan, nantinya hasil dari setiap aplikasi yang diberikan para mahasiswa tersebut akan disimpan dan dijadikan asset pemerintah, “Tentunya, ketika aplikasi teknologi tersebut sudah bisa direalisasikam, asset tersebut akan dikeluarkan,”ungkapnya. Dirinya mengklaim, terobosan tersebut mampu membuat Pemkot Bandung menghemat biaya. Artinya, Pemkot Bandung tidak lagi harus menggunakan jasa konsultan berbayar. Lanjutnya, pihaknya berjanji meneruskan apa yang sudah dirintisnya sampai operasional kota Bandung bisa dikendalikan dengan menggunakan ragam aplikasi teknologi.

Pengunaan aplikasi teknologi juga diperuntukkan bagi perjalanan menuju Bandung sebagai kota pintar atau smart cities. Hal itu berarti semua operasional layanan pemerintah bisa dilayani melalui pengaturan komputer. Misalnya, pengontrolan lampu jalan, lalu lampu lalu lintas dan beberapa di area public,”Saya harap tahun ini kami bisa mendapatkan 50 aplikasi teknologi berbasis komputer, terutama untuk software pengelolaan kota. Bandung sebagai kota pintar bisa terealisasi dalam 2-3 tahun, andai target-target dari sisi kuantitatif dan kualitas aplikasi teknologi terpenuhi," tegasnya.

Sementara Walikota Batam, Ahmad Dahlan menuturkan, ada empat point kemajuan suatu kota diantaranya, keterpaduan perencanaan pembangunan dari jangka pendek dan panjang. Kedua, kepemimpinan yang kuat dan independen. Ketiga, dukungan dari semua tingkatkan pemerintahan, dan keempat, mendesain dukungan masyarakat yang berbasis tekhnologi,”Dengan adanya dukungan tekhnologi, adanya Standard Intellegent Cities, dan anggaran yang cukup, maka akan mempercepat kemajuan kota dimana pun di dunia, dan Batam telah menuju kota yang berbasis tekhnologi,” kata Dahlan. (bani)

Related posts