Kinerja Keuangan Antam Tidak Lagi Sekilau Emas - Catatkan Rugi Bersih Rp 272,6 Miliar

NERACA

Jakarta – Kinerja keuangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tidak sekilau emas yang diproduksi dan di jual. Pasalnya, sampai dengan kuartal pertama tahun ini, perseroan masih mencatatkan rugi bersih Rp 272,6 juta dan pendapatan sebesar Rp2,3 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, pada periode tersebut, penjualan perseroan turun dari periode yang sama 2013 sebesar Rp3,33 triliun. Padahal beban pokok penjualan sebesar Rp2,2 triliun dari Rp2,6 triliun. Namun laba bruto perseroan turun drastis menjadi Rp44,2 miliar dari Rp664,7 miliar. Kemudian untuk beban usaha sebenarnya menurun menjadi Rp140 miliar dari Rp237,7 miliar.

Maka dengan demikian rugi laba bersih mencapai Rp95,7 miliar dari Rp427,06 miliar. Kemudian dengan pajak penghasilan Rp31,5 miliar maka rugi mencapai Rp272,6 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun 2013 perseroan masih mengalami keuntungan Rp407,6 miliar.

Selain itu, penurunan juga terjadi pada total aset menjadi Rp21,4 triliun dari Rp21,8 triliun dan demikian juga dengan total liabilitas turun menjadi Rp9,02 triliun dari Rp9,07 triliun. Sebelumnya, perseroan diganjar penurunan peringkat korporasi perusahaan oleh tiga lembaga pemeringkat, diantaranya oleh Moody’s Investors Services dari Ba3 menjadi B2 dan dari B+ menjadi B– dari Standard and Poor’s Ratings Services. Peringkat obligasi perusahaan juga berubah menjadi idA dari sebelumnya idAA–oleh perusahaan pemeringkat PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Akibat penurunan peringkat tersebut, Direktur Utama PT Aneke Tambang Tbk, Tato Miraza pernah bilang, pihaknya berkomitmen mengambil pendekatan yang prudent dan konservatif dalam belanja modal perusahaan ke depan dan mempertahankan posisinya.“Meski kami kecewa melihat penurunan peringkat ini, kami ingin menekankan bahwa ANTAM tetap merupakan entitas kunci industri pertambangan global yang memiliki cadangan dan sumber daya mineral yang besar,”ujarnya.

Selain itu, perseroan juga menyakini rencana pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga dengan kerjasama PT Freeport Indonesia akan berjalan mulus. Pasalnya, rencana pembangunan smelter dengan kerjasama PT Freeport Indonesia masih terus dibicarakan dan menunggu keputusan langsung PT Freeport yang kini tengah melakukan diskusi bersama pemerintah,”Masih dibicarakan dengan Freeport. Sekarang biarkan Freeport fokus dulu berbicara dengan pemerintah,”ujarnya.

Tato menuturkan, perseroan telah menentukan sikap mengenai kesanggupan membangun smelter melalui kerja sama dengan Freeport. Realisasi pembangunan smelter tembaga ini telah selesai tahap Pra Studi Kelayakan (Pre-Feasibility Study). Ada pun kepemilikan saham mayoritas dalam proyek ini diakui tengah dibahas bersama Freeport. Besaran ini bergantung penghitungan struktur dan pengerjaan yang bakal diserahkan oleh masing-masing perusahaan. "Itu yang masih dibicarakan mengenai strukturnya," ujar dia.

Tato menambahkan, dana yang bakal digelontorkan bagi proyek smelter bisa saja tidak melalui corporate financing. Perseroan bisa mengajukan pinjaman dana atau kredit yang diperoleh dari pihak perbankan,”Pendanaan bisa diatur dengan struktur yang bukan corporate financing, bisa project financing, macam-macamlah, oftaker financing. Itu ada struktur yang bisa dipakai untuk tidak membebani pendanaan perseroan," kata Tato. (bani)

Related posts