Singapura Perketat Izin Industri Properti - Wajibkan Konsep Green Building

NERACA

Singapura – Hunian yang ramah lingkungan atau green building, saat ini tengah menjadi tren di beberapa kota di dunia dalam beberapa tahun terakhir. Hal inipula yang menjadi perhatian utama para pengembang atau pelaku industri properti di Indonesia, baik itu sekedar promosi pemasaran atau tuntutan permintaan pasar. Namun yang pasti, keberhasilan Singapura dalam menciptakan industri properti yang ramah lingkungan dan humanis perlu ditiru. Pasalnya, dalam tiga tahun terakhir, pemerintah Singapura mewajibkan dengan tegas setiap pembangunan properti ataupun apartemen harus green market atau ramah lingkungan dan bukan sekedar hijau belaka.

Chairman Center for Liveable Cities Singapura, Liu Thai Ker mengatakan, saat ini pemerintah Singapura sangat ketat memberikan izin pembangunan properti dan salah satunya soal green building. Alasannya, aspek ramah lingkungan menjadi hal penting demi keberlangsungan kehidupan kota,”Dalam tiga tahun terakhir, setiap bangunan atau apartemen di Singapura wajib memenuhi aspek green market. Maka bila tidak, pembangunan tersebut tidak diberikan izin,”tandasnya di Singapura, Senin (2/6).

Dirinya pun mengakui, perencanaan pembangunan yang humanis dan ramah lingkungan tidak mudah di lakukan. Pasalnya, kota Singapura juga pernah mengalami hunian yang kumuh dan tidak teratur akibat kurangnya perencanaan yang matang. Menurutnya, masalah besar yang dihadapi kota-kota di dunia dan termasuk di Indonesia, adalah perencanaan yang belum matang dan bagaimana bisa memenuhi kebutuhan penduduknya.

Dia menjelaskan, menyadari akan pentingnya lingkungan yang humanis dan sensitif terhadap seni. Kini kota Singapura menjadi lebih baik dan banyak dikunjungi masyarakat di dunia. Lanjutnya, hunian ramah lingkungan tentunya akan berimbas pada efisiensi energi dan ini menjadi fundamental utama.

Kata Liu, pemerintah Singapura juga memperhatikan hunian bagi masyarakat kelas bawah yang ditangani langsung oleh Housing Development Board atau Badan Urusan Perumahan. Dimana dalam pembangunan properti tersebut dipasarkan dengan harga yang terjangkau, disamping juga disubsidi oleh pemerintah. Kendatipun demikian, bicara kualitas tetap prioritas bukan murah tetapi murahan, “Public Housing atau hunian masyarakat kelas bawah, dibangun dengan teringterasi fasilitas umum atau mixed use, seperti rumah sakit, transprotasi dan pasar. Sehingga kondisi ini membuat penghuninya makin nyaman,”ujarnya.

Salah satu pilot project green properti yang ditangani pemerintah adalah kawasan kota Punggol di Timur Laut Singapura. Dari sekian banyak apartemen yang dibangun oleh pengembang, pemerintah Singapura juga telah membangun 50 ribu unit yang dikhususnya bagi rakyatnya untuk kelas menengah ke bawah. Dimana pembangunan ini dianggarkan sekitar 2,5% dari Anggaran Belanja Pemerintah Singapura.

Asal tahu saja, dari 5 juta populasi rakyat Singapura sebanyak 80% tinggal di apartemen. Tiap tahunnya, Housing Development Board Singapura terus membangun apartemen untuk mengantisipasi peningkatan populasi masyarakatnya. Bahkan dalam tiga tahun terakhir, lembaga yang mengurusi perumahan rakyat menengah ke bawah ini telah membangun 25 ribu unit tiap tahunnya. (bani)

Related posts