Indonesia Bisa Pasar Bursa Thailand - Dampak Sentimen Politik

NERACA

Jakarta – Krisis politik yang terjadi di Thailand memberikan dampak terhadap sentiment negatif pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun disatu sisi, kondisi ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia menarik investor asal Thailand untuk berinvestasi di BEI.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Ito Warsito mengatakan, krisis yang terjadi di Thailand akan berdampak bagi negara lain, termasuk Indonesia, “Disamping dampak negatif, ada juga dampak positif berupa rencana niatan investor asal Thailand mengalihkan dananya ke Indonesia,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, perpindahan dana investor bursa Thailand akan sesuai mekanisme indeks dan itu akan ada waktu tunggu. "Sesuai dengan benchmark global, akan ada waiting pembobotan masing-masing negara," katanya.

Oleh karena itu, lanjut Ito, berdasarkan pembobotan indeks tersebut akan ada perpindahan flow. Perpindahan tersebut akan terjadi pada setiap negara yang terjadi krisis seperti Thailand baru-baru ini. "Krisis Thailand akan merubah pembobotan indeks di sana," jelas dia.

Kini penguasa Thailand berada pada tangan besi militer. Setelah militer memaksa perdana menterinya turun dengan kudeta tidak berdarah. Ini kuderta kesekian kalinya yang terjadi di negara tersebut. Bahkan akibat seringnya militer mengkudeta pemimpinya, membuat negara lain mengecam aksi kudeta tersebut.

Sebagai informasi, akhir pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup anjlok 91,670 poin (1,84%) ke level 4.893,908. Sementara Indeks LQ45 jatuh 24,121 poin (2,84%) ke level 824,551. Saham-saham di Bursa Efek Indonesia dilanda aksi ambil untung akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Akhir pekan kemarin, mata uang rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta melemah sebesar 42 poin menjadi Rp11.674 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp11.632 per dolar AS.

Selain faktor hari libur yang cukup banyak pada pekan kemarin juga menjadi salah satu pemicu pelaku pasar saham melakukan ambil untung. Tercatat sembilan dari sepuluh sektor di lantai bursa terpangkas dan yang paling dalam adalah aneka industri dengan koreksi lebih dari empat persen. Indeks sektor perdagangan jadi satu-satunya yang masih positif.

Ini merupakan kali pertamanya investor asing melakukan jual bersih (foreign net sell) di bulan ini. Transaksi jual asing tercatat sebesar Rp 469,18 miliar di pasar reguler dan negosiasi. Sejak awal bulan tahun ini asing rata-rata melakukan beli bersih tiap perdagangan. Dana asing yang parkir di bursa masih sangat tinggi, saat ini mencapai Rp 41,5 triliun. Aksi jual oleh investor asing ini terjadi di saham-saham unggulan, seperti di sektor konsumer dan perbankan.

Perdagangan berjalan ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 206.153 kali pada volume 7,912 miliar lembar saham senilai Rp 9,529 triliun. Sebanyak 119 saham naik, 193 turun, dan 63 saham stagnan. Hanya satu pasar saham di Asia yang bisa menguat, yaitu bursa Hong Kong. Sisanya terjebak di zona merah menutup perdagangan akhir pekan.(bani)

Related posts