Mengingat Kembali Sepotong Kejujuran Suryadharma Ali - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Mantan Rektor UIN Malang

Pada suatu saat, saya menghadap menteri agama, Suryadharma Ali di kantornya. Tatkala dipersilahkan masuk, di hadapan beliau, ternyata masih ada orang menghadap, yang ternyata adalah sekretarisnya sendiri, yaitu Dr. Saefuddin. Sekalipun masih ada orang lain, mungkin dianggap tidak mengapa, saya masuk ruang penting itu.

Sebelum urusan dengan sekretarisnya itu selesai, masih di ruang kerja itu, saya disuruh duduk untuk menunggu. Dengan tidak sengaja, saya mendengar pembicaraan menteri agama dan sekretarisnya itu. Pembicaraan itu ternyata serius. Sekretarisnya ditegur keras terkait honor yang diterima hari sebelumnya. Sekretaisnya dianggap kurang teliti kerjanya hingga dikhawatirkan menimbulkan masalah di kemudian hari.

Honor yang dimaksudkan tersebut bukan lantaran kurang jumlahnya, tetapi justru sebaliknya, ternyata kelebihan. Setelah sampai di rumah, amplop berisi uang sebagai haknya itu dilihat kembali, ternyata diketahui ada hal tidak lazim, yaitu adanya tambahan uang transport. Menurut Suryadharma Ali, uang pengganti transport itu tidak lazim dan tidak boleh diterima, oleh karena kegiatan itu berlangung di kantornya sendiri. Maka, uang dimaksud, lewat sekretarisnya, harus dikembalikan.

Saya mendengar sendiri, Pak Menteri mengingatkan sekretarisnya, agar kapan saja tatkala menyerahkan uang kepadanya harus berhati-hati. Beliau tidak ingin ada kesalahan dalam menerima uang. Bahkan, setelah kejadian itu, masih pada waktu saya menghadap, beliau mengemukakan apa yang dirasakan di kantornya. Kedudukannya sebagai menteri, terlalu tidak terlalu dirasa aman. Hal yang sehari-hari dirasakan berat olehnya, bahwa tidak mengetahui tingkat loyalitas bawahan, apakah mereka benar-benar loyal, setengah loyal, atau pura-pura loyal.

Menyadari kenyataan itu, beliau merasa harus berhati-hati dalam bekerja di tengah kegelapan, dalam arti tidak terlalu mengerti isi hati dari mereka yang dekat dengannya. Pada kesempatan yang lain, tatkala juga saya sedang menghadap, beliau bercerita tentang madrasah miliknya sendiri. Pak Suryadharma Ali mengaku mendapat amanah dari mertuanya untuk membina madrasah. Sebagai seorang menteri, apa sulitnya memberikan prioritas kepada madrasah binaannya, dengan cara memerintahkan anak buahnya agar madrasah dimaksud dibantu, sehingga menjadi tampak bagus.

Akan tetapi selama menjadi menteri agama, beliau mengaku belum perah memberi bantuan sedikit pun kepada madrasah yang dirintis oleh mertuanya itu. Alasannya, berapa pun bantuan yang diberikan akan disorot oleh masyarakat. Beliau lebih memilih untuk membiarkan madrasah itu apa adanya, tokh pikirnya, lembaga pendidikan Islam itu masih hidup dan berjalan tanpa bantuan pemerintah.

Di akhir pembicaraan soal madrasah itu, beliau mengemukakan bahwa lembaga pendidikan Islam yang berada di bawah tanggung jawabnya sendiri harus ikut berkorban, tidak boleh menerima bantuan apapun, hanya karena berada di bawah pembinaan seseorang yang sedang menjabat sebagai menteri agama. Beliau lantas menutup pembicaraannya dengan mengatakan bahwa, semua pihak telah diberi pengertian agar tidak memanfaatkan posisinya untuk kepentingan keluarga dan orang dekat lainnya. Itulah sepotong kejujuran Suryadharma Ali yang pernah saya dapatkan dari yang bersangkutan sendiri.

Tapi apapun, sekarang ini beliau sudah dijadikan tersangka oleh KPK. Tentu lembaga yang memiliki otoritas pemberantasan korupsi itu telah memiliki alasan untuk menetapkan beliau dengan status yang menjadikan hati sangat susah itu. Semoga sajalah kebenaran, kejujuran, dan keadilan berhasil ditegakkan oleh orang-orang yang berkompeten di negeri ini. Manakala semua itu tercapai, maka apapun, insya Allah, akan diterima oleh mantan menteri agama ini. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

Related posts