BI Proyeksikan Mei 2014 Inflasi 0,09%

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pada Mei 2014 terjadi inflasi yang akan berada pada kisaran 0,09% hingga 0,1%. Perkiraan tersebut masih sejalan dengan laju inflasi yang mengarah pada target di 2014 sebesar 4,5% plus minus 1%.

“Kira-kira (inflasi) mungkin antara 0,09% sampai 0,1%(month-to-month).Itu inflasi untuk bulan Mei 2014 dan saya rasa masih sejalan dengan target inflasi di akhir 2014,” ujar Gubernur BI, Agus D.W. Martowardojo, di Jakarta, Jumat (30/5).

Agus menilai, perkiraan inflasi yang sebesar 0,09% hingga 0,1% pada Mei 2014 tersebut, masih sesuai dengan harapan Bank Indonesia. Laju inflasi masih berada dalam koridor sasaran inflasi 2014.

Selain itu, lanjutnya, BI juga terus mengamati hasil diskusi yang dilakukan oleh DPR terkait dengan Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBNP). “Karena ini adalah satu yang sebaiknya memang bisa ditangani lebih awal sehingga fiskal Indonesia senantiasa dapat terjaga dalam kondisi sehat,” tukasnya.

Sebagaimana diketahui, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2014 mencatatkan deflasi sebesar 0,02%, sehingga menurunkan angka inflasi tahunan menjadi 7,25%.

Sedangkan menurut Kepala ekonom Bank Danamon Anton Gunawan memperkirakan laju inflasi pada Maret 2014 akan menyentuh 0,04%.

Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan Maret 2013 0,63% atau Maret 2012 0,07%. Namun, tetap lebih tinggi dibandingkan pada Maret 2011 dan 2010. Pada tahun tersebut terjadi deflasi masing-masing -0,32 dan -0,14.

Anton menjelaskan inflasi Maret yang diperkiraan sebesar 0,04% didorong kenaikan harga cabai rawit. “Harga cabai mungkin naik disebabkan erupsi Gunung Kelud (Kediri, Jawa Tengah) yang mengakibatkan hujan abu,” ujar Anton.

Sebagai informasi, Kediri merupakan salah satu pemasok cabai nasional. Letusan Gunung Kelud yang terjadi pada pertengahan Februari diperkirakan merusak tanaman cabai di wilayah tersebut.

Namun, Anton mengingatkan musim panen sudah dimulai. Hal tersebut bisa menguntungkan mengingat harga beras bisa turun. Sebagai catatan, selama ini harga beras merupakan salah satu kontributor utama penyumbang inflasi. Jalur distribusi yang sempat terganggu akibat cuaca juga sudah normal sehingga kenaikan harga bisa ditekan. “Harga makanan mungkin sedikit turun terutama beras, ayam, telur dan ikan,” katanya.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti menilai, adanya proyeksi Mei akan terjadi inflasi salah satu penyebabnya karena adanya kenaikan tarif listrik tersebut tidak terlalu besar terhadap inflasi, hanya sekitar 0,2-0,3%.

“Kalau untuk hitung-hitungan kita sebenarnya tidak terlalu besar. Jadi dampak secara keseluruhan itu antara 0,2 hingga 0,3 persen. Jadi kalau inflasi awal pergerakan kita misalnya 5,3, ya dengan adanya kenaikan tarif listrik tadi, inflasi total itu bisa ke 5,5 lah paling tidak," katanya.

Lebih lanjut dia menuturkan, dampak kenaikan tarif listrik yang tidak besar terhadap inflasi karena industri sudah banyak menggunakancommercial rate. Oleh karena itu, harga yang ditetapkan juga merupakan hargacommercial.

“Tapi kenapa enggak terlalu besar karena kalau dilihat dari industri sebenarnya mereka sudah banyak yang pakaicommercial rate, jadi harganya juga merupakan harga yangcommercialjuga. Terus kan juga sangat tegantung dengan komponen apa yang penggunaan listriknya besar,” tandas dia. [agus]

BERITA TERKAIT

Tol Balikpapan-Samarinda Ditargetkan Beroperasi Mei 2019

  NERACA   Jakarta - PT Jasa Marga Tbk melalui anak usahanya, PT Jasamarga Balikpapan Samarinda (JBS), menargetkan Jalan Tol…

Lebak Ingin Contoh Cara Kabupaten Bangli Tekan Inflasi

Lebak Ingin Contoh Cara Kabupaten Bangli Tekan Inflasi NERACA Lebak - Kabupaten Lebak, Banten, ingin mencontoh cara Kabupaten Bangli (Bali)…

Pemerintah Didesak Benahi Perekonomian Kepri - Inflasi Batam dan Tanjungpinang Tinggi

    NERACA   Batam - Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kembali menjadi sorotan, dikarenakan menyumbang dua kota dengan inflasi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…