PGN Jadi Tulang Punggung Transformasi Energi - Pemanfaatkan Gas Bumi

NERACA

Jakarta – Seiring meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia menjadikan gas alam sebagai alternatif energi yang relatif lebih murah dan ramah lingkungan. Terlebih Indonesia memiliki cadangan gas alam yang cukup banyak atau terbesar ke-12 di dunia, namun gas alam Indonesia belum dimanfaatkan dengan baik. Sekitar 50.3% dari produksi gas alam Indonesia yang digunakan untuk konsumsi, sisanya diekspor. Minimnya konsumsi domestik pada gas alam terkait dengan belum memadainya infrastruktur gas di seluruh wilayah Indonesia.

Komitmen pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur gas, akan secara signifikan meningkatkan permintaan gas alam baik untuk industri, rumah tangga maupun transportasi. Menurut Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Penguatan Strukur Industri, Achdiat Atmawinata, kebutuhan energi untuk sektor industri yang terbesar adalah gas alam pada tahun 2025 nanti yaitu sebesar 1.360" juta british thermal unit (mmbtu) atau 51,2% dari total penggunaan energi sektor industri.

Oleh karena itu, guna memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dan juga mendukung transformasi penggunaan energi dari BBM ke gas yang tengah diserukan pemerintah, hal ini menjadi tantangan bagi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk memenuhi ketersediaan pasokan gas dan termasuk pengembangan infrastruktur gas di Indonesia. Kini menjawab tuntutan transformasi energi dari BBM ke gas, PGN terus melakukan percepatan pengembangan infrastruktur di Indonesia, diantaranya dengan pembangunan pipa terintegrasi di Jawa Tengah (Jateng).

Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso mengatakan, ruas transmisi Kalija I digunakan untuk mengalirkan gas bumi sebesar 116 juta kaki kubik per hari dari Lapangan Kepodang ke PLTGU Tambak Lorok yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Jawa-Bali-Madura sebanyak 1.300 megawatt.

Hendi menuturkan, PGN akan terus menjadi yang terdepan dalam percepatan konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG), baik di sektor industri, UKM, transportasi dan rumah tangga,”Konversi BBM ke gas bumi mendesak untuk dilakukan karena ketergantungan pada minyak bumi yang mahal dan impor akan membuat rapuh ketahanan energi kita,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, langkah PGN yang serius dalam mengembangkan jaringan pipa gas akan berdampak besar terhadap percepatan pemanfaatan gas bumi dan konversi BBM ke gas bumi sebagaimana penugasan pemerintah melalui Kementerian ESDM. Di samping itu, PGN juga terus meningkatkan upaya penambahan pasokan gas termasuk LNG untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Tentunya meningkatnya permintaan gas akan memberikan dampak terhadap kinerja keuangan bagi PT Perusahaan Gas Negara Tbk. Pasalnya, perseroan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia yang perannya sebagai distributor dan transmitor gas, tentunya bersama Pertamina akan menjadi tulang punggung dalam penggunaan gas alam sebagai sumber energi alternatif.

Selain itu, fasilitas terintegrasi yang dimiliki PGAS seperti jaringan pipa gas, (Floating Storage Regasification Unit/FSRU), (Mobile Refueling Unit/MRU) akan menjadikan PGN sebagai pemain terdepan dalam industri gas alam nasional.

Kinerja Keuangan

Tengok saja, perseroan berhasil mencatatkan pendapatan neto sebesar US$ 841,6 juta atau sekitar Rp9,7 triliun pada kuartal pertama tahun 2014. Sementara laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (laba bersih) sebesar US$ 176,7 juta atau sekitar Rp2 triliun.

Kata Hendi Prio Santoso, kenaikan pendapatan diperoleh dari peningkatan volume penjualan dari usaha distribusi sebesar 5,07% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yaitu dari 833,43 MMSCFD menjadi 875,71 MMSCFD,”Peningkatan volume distribusi merupakan kontribusi dari peningkatan pasokan gas terutama dari lapangan corridor block,” ujarnya.

Sedangkan dari usaha transmisi, PGN dan anak usaha PT Transportasi Gas Indonesia mengalirkan gas sebesar 834,24 MMSCFD dari 876,83 MMSCFD pada periode tahun sebelumnya. Menurutnya, meskipun PGN mulai mengalirkan gas Medco Lematang ke pembangit listrik PLN sejak awal 2014, namun penurunan penyerapan gas oleh offtaker menyebabkan penurunan volume transmisi PGN dan anak usaha.

Dari sisi beban pokok pendapatan, kenaikan harga beli gas dari pemasok mulai 1 September 2012 dan 1 April 2013 mempengaruhi kenaikan beban pokok pendapatan di periode triwulan I/2014 sebesar 35,3% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, Pada 16 Mei 2014 ini, PGN menerbitkan obligasi internasional senilai US$ 1,35 miliar dengan kupon 5,125% dan tenor 10 tahun. Rencananya, dana hasil penerbitan obligasi ini digunakan untuk menambah modal kerja dan melaksanakan rencana-rencana perseroan sejalan dengan strategi bisnis yang telah disusun perseroan.

Manfaat lainnya adalah mendapatkan tambahan kas bersih bagi keuangan perseroan, memperoleh pendanaan dengan jangka waktu pengembalian pokok relatif lebih panjang dan bunga tetap untuk mendanai pengembangan usaha perseroan jika dibandingkan dengan alternatif pendanaan lainnya. Selain itu, juga memperluas cakupan perseroan terhadap investor internasional dan meningkatkan target jumlah pendanaan perseroan dan mempertahankan tingkat likuiditas perseroan dengan ketersediaan dana yang memadai dalam merealisasikan rencana pengembangan usaha perseroan. (bani)

Related posts