Menperin Harap Industri Lokal Persiapkan Diri - Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

NERACA

Batam - Dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015, Kementerian Perindustrian menyiapkan berbagai langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan industri nasional.

"Pelaku usaha juga diharapkan dapat mempersiapkan diri meningkatkan daya saing produknya untuk menghadapi MEA 2015 sehingga akan mampu menghadapi persaingan yang semakin kompetitif di antara negara ASEAN baik dalam rangka mengisi pasar ASEAN maupun pasar dalam negeri," ujar Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat di Batam, akhir pekan kemarin.

Selanjutnya, Menperin menyampaikan kinerja sektor industri sampai dengan Triwulan I Tahun 2014. Di tengah kondisi perekonomian yang masih belum stabil, industri pengolahan non-migas mampu tumbuh sebesar 5,56% atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,21%. Cabang industri yang tumbuh tinggi, di antaranya Industri Makanan, Minuman & Tembakau sebesar 9,47%, Industri Alat Angkut, Mesin & Peralatannya sebesar 6,03%, serta Industri Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya sebesar 5,17%.

Sementara itu, ekspor produk industri pada Triwulan I Tahun 2014 sebesar US$ 29,27 milyar atau mengalami kenaikan sebesar 3,55% dibandingkan periode yang sama tahun 2013. Ekspor produk industri memberikan kontribusi signifikan sebesar 66,05% dari total ekspor nasional. Defisit neraca perdagangan produk industri telah ditekan sebesar 87,8%, dari US$ -3,87 milyar pada Triwulan I 2013 menjadi US$ -473,8 juta pada Triwulan I 2014.

Sebelumnya, mantan ketua umum Kadin ini juga mengatakan berbagai persiapan dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Hal ini untuk meningkatkan kualitas dan daya saing Indonesia agar tidak kalah dengan negara lain di lingkungan ASEAN.

Menurut Hidayat, pihaknya memfokuskan pada upaya penguatan struktur dan peningkatan dukungan iklim industri untuk mempertahankan penguasaan pasar dalam negeri dan ASEAN. "Penguatan struktur industri ini dilakukan melalui pengembangan kemampuan industri dalam jangka panjang. Percepatan pengembangan sektor industri hingga 2015, melalui program pengembangan industri hilir berbasis agro, migas dan bahan tambang mineral, industri berbasis SDM dan pasar domestik, serta IKM (Industri Kecil dan Menengah)," ujarnya.

Sementara, pemanfaatan pasar dalam negeri dan ASEAN sebagai base-load dilakukan dengan peningkatan law enforcement dalam rangka penerapan dan pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI). Selain itu dilakukan pengaturan lanjut pelabuhan dalam rangka pembenahan administrasi dan handling procedures and cost.

"Membangun peraturan teknis untuk menghilangkan impor produk tidak standar, membangun early warning system untuk mengamat perkembangan impor. Juga membangun kemampuan market dan industrial intelligent, meningkatkan compliance terhadap standar produk ASEAN, serta membangun produk spesifik Indonesia," terang dia.

Dalam rangka peningkatan dukungan iklim industri, kata Hidayat, kebijakan jangka pendek adalah melalui upaya menurunkan biaya modal, biaya energi, dan biaya manpower. Selain itu, biaya logistik, jaminan ketersediaan bahan baku, serta biaya logistik iklim investasi.

"Jangka menengah melalui upaya jaminan pasokan bahan baku, pengawasan impor untuk meredam produk ilegal, optimalisasi P3DN, serta menghilangkan gangguan keamanan. Sedangkan jangka panjang dengan meningkatkan faktor pendukung industri, membangun kemampuan SDM industri, dan membangun R&D industri," pungkas Menperin.

Related posts