Buang "Pikiran Latah" Indonesia Kena Krisis

Publik Harus Berpikir Positif

Kamis, 11/08/2011

NERACA

Jakarta---Krisis ekonomi global yang dipicu dari utang Amerika Serikat (AS) seharusnya memunculkan pikiran yang positif dan kreatif. Sehingga Indonesia bisa terhindar dari dampak krisis tersebut. "Jadi jangan ikut-ikutan khawatir ekonomi dunia akan terjadi di Indonesia, Jadi sekarang harus berpikir positif," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo kepada wartawan di Jakarta, Rabu (10/8)

Menurut Agus, tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan, karena Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat. "Indonesia kita sudah tahu kita mempunyai domestik ekonomi yang cukup kuat, cukup luas, kita harapkan itu menjadi dasar kita pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil," jelasnya.

Lebih jauh kata mantan Dirut Bank Mandiri ini, pemerintah tetap mewaspadai adanya koreksi pada saham-saham yang dinilai pasar over valuation. "Jadi, memang akan ada koreksi tapi kalau kita lihat dari neraca pembayaran, fiskal lihat dari kinerja pasar modal perbankan, semua dalam keadaan baik," urainya.

Agus menambahkan pemerintah telah mengambil langkah untuk mengantisipasi imbas dari diturunkannya rating AS dan Eropa. "Karena, kalau memang mau menghimpun dana tentu nanti akan ada permintaan tingkat bunga yang lebih tinggi karena rating lebih rendah, tentunya bisa berimplikasi kepada pasar keuangan dunia," tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan, gejolak keuangan dunia terutama di pasar saham belakangan ini tidak akan berpengaruh besar terhadap perekonomian Indonesia, termasuk pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan mencapai 6,6% sampai akhir 2011. "Kami melihat tentu saja kalau dinamika ini tidak berkepanjangan bergejolak terus, kita melihat semua yang akan berjalan tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap perekonomian kita," ujarnya di Jakarta, Rabu (10/8)

Menurut mantan Dirjen Pajak ini, dalam kesepakatan protokol krisis ekonomi dengan Kementerian Keuangan, kondisi sekarang juga masih jauh dari gejala krisis di Indonesia karena hanya indikator indeks saham yang bermasalah, sementara indikator lain seperti kurs rupiah, nilai SUN, dan capital outflows (dana asing yang keluar) masih baik. "Sekarang, kan, yang banyak terkena indeks harga saham. Kurs rupiah walaupun bergerak kita coba kendalikan terus supaya volatilitasnya tidak terlalu besar sehingga kita secara umum masih di daerah lampu hijau," tambahnya

Menyangkut capital outflow, Darmin mengakui meski ada, tetapi jumlahnya masih dalam batas normal dan tidak sampai mengganggu perekonomian nasional.

Menghadapi gejolak keuangan dunia akibat penurunan rating obligasi jangka panjang AS, Darmin mengatakan BI sudah melakukan berbagai tindakan yang merupakan kebijakan rutin Bank Indonesia sehari-hari. "Itu kerjaan sehari-hari kita. Kita ikuti dengan cermat, sambil menyiapkan langkah-langkah yang perlu kita ambil. Kita punya langkah-langkah antisipatif kalau gejolak ini semakin berat seperti crisis protocol bersama-sama Menkeu," katanya.

Darmin menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi di AS menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi negara itu masih akan berlangsung lama sehingga menimbulkan tanda-tanda AS akan menurunkan tingkat suku bunganya untuk mendorong perekonomian.

Dengan kondisi itu, lanjutnya, banyak yang menduga AS akan kembali menerbitkan dollar AS dalam jumlah besar atau quantitative easing yang bisa berdampak terhadap peningkatan capital inflows ke Indonesia. "Capital inflows akan masuk terus sampai recovery AS dipercaya sebagai basis perbaikan terus-menerus," katanya. **cahyo