Posisi APBN Diprediksi Masih "Aman"

Terkait Penurunan Harga Minyak Dunia

Kamis, 11/08/2011

NERACA

Jakarta---Pemerintah masih yakin tren penurunan harga minyak dunia belum pengaruhi penerimaan APBN dari sector migas. Alasanya patokan harga minyak Indonesia (ICP) masih di atas US$100. "ICP sendiri kan hari ini masih di atas US$ 100/barel (rata-ratanya). Tapi perkiraan kami rata-rata setahun sampai Desember 2011 itu US$ 95/barel per hari. Hitungan APBN masih bisa masuk, mudah-mudahan aman," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo kepada wartawan di Jakarta,(10/8)

Oleh karena itu, kata Evita lagi, patokan harga minyak ini kemungkinan besar takkan direvisi lagi. Karena sebelumnya sudah dipatok sekitar US$95/barel. "Dari sisi kami sendiri, bahwa dalam APBN-P 2011 sudah diketahui, asumsi harga minyak berada di US$ 95 per barel. Pada dasarnya nggak akan berubah banyak lagi, karena sekarang rata-rata masih di atas US$ 100 kan," tambahnya.

Menurut Evita, meski harga minyak dunia turun, namun pendapatan dari sector migas ditargetkan tetap tercapai. Hal ini karena sudah diprediksi akan sesuai target APBN Perubahan 2011. Harga ICP periode 1 Januari-31 Juli 2011 mencapai 111,85 dolar AS per barel. Pada Juli 2011, rata-rata ICP masih 117,15 dolar AS per barel

Menanggapi hal tersebut, Kepala Divisi Humas, Sekuritas, dan Formalitas Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) Gde Pradnyana setuju pendapatan negara tidak akan terpengaruh akibat adanya koreksi harga minyak. "Itu masih aman, apalagi kan sudah bulan Agustus, sedangkan 6 bulan pertama kan tinggi terus (harga minyak) jadi semestinya ini aman (untuk pendapatan negara)," timpal Gde.

Menurut Gde, saat ini Indonesia lebih kaya produksi gas ketimbang minyak. Apalagi harga minyak cenderung menurun. Dalam 5-6 tahun ke depan cadangan minyak Indonesia akan terus menurun, sedangkan produksi gas terus meningkat. "Ke depannya kita akan lebih banyak di gas. Jadi bukan produksi minyak. Kalau dinaikkan produksi minyaknya itu tidak mungkin," terangnya

Lebih jauh kata Gde, proyek-proyek migas yang selama ini dilakukan selalu lebih banyak cadangan gasnya. Sehingga, yang ditemukan selalu gas. "Discovery kita selalu gas, sehingga proyek-proyek yang ada selalu gas. Kita untuk minyak sekarang tidak mungkin," tambahnya.

Maka itu, BP Migas juga sebelumnya menyampaikan 10 proyek yang ditanganinya sejauh ini pun terdapat 9 proyek yang didominasi oleh gas. "Ini sudah kami coba usulkan beberapa kali, supaya gas itu masuk ke APBN, jangan hanya andalkan pada minyak saja. Karena kita ke depannya itu gas," tegas Gde.

Ditempat terpisah, Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo menuding turunnya harga minyak dunia lebih disebabkan ulang speklan yang memanfaatkan adanya gejolak ekonomi akibat krisis utang di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. "Yang kita musti waspadai kelihatannya adalah harga yang jatuh dari minyak itu, menunjukkan masih ada spekulan komoditi, khususnya komoditi minyak," ujarnya.

Mantan Dirut Bank Mandiri ini menambahkan hal ini sudah menjadi kajian dari anggota dengan PDB terbesar (G20). Pasalnya G20 telah menyatakan komitmennya untuk mengendalikan spekulan ataupun institusi-institusi yang melakukan spekulasi di bidang komoditi itu.

Dikatakan Agus, spekulasi itu terjadi karena adanya penurunan rating dari beberapa negara, yang secara otomatis berdampak kepada negara-negara tersebut dalam menghimpun dana pinjaman. "Pricing-nya akan lebih tinggi dan otomatis membuat semuanya menjadi waspada," tambah dia.

Karenanya, jelas Agus, pemerintah akan tetap melakukan antisipasi dan mewaspadai perkembangan dari ekonomi dunia khsususnya AS dan Eropa. "Karena mulai dari aspek keuangan, pertumbuhan ekonomi, dan juga aspek pengelolaan risiko dari investor itu bisa berubah, bisa berbeda-beda," pungkasnya. **cahyo