Perikanan Air Tawar Jadi Andalan Ketahanan Pangan Nasional - Pasar Domestik dan Ekspor Makin Meningkat

NERACA

Bogor - Forum Konsolidasi Budidaya Tawar Nasional merupakan agenda tahunan Direktorat Produksi, Ditjen Perikanan Budidaya sebagai ajang untuk mengkonsolidasikan seluruh stakeholders terkait dalam menampung berbagai saran dan masukan sebagai bahan rekomendasi dan tindaklanjut kebijakan yang bersifat implementatif. Tema yang diangkat tahun ini adalah “Usaha Budidaya Ikan air tawar sebagai andalan ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi Indonesia.”

"Untuk itu saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Saudara sekalian pada pertemuan kali ini, sumbang saran dan masukan yang konstruktif sangat diperlukan guna pelaksanaan program kebijakan perikanan budidaya yang lebih baik kedepannya," kata Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto dalam sambutannya di acara Forum Konsolidasi Budidaya Tawar Nasional di Bogor, Rabu malam (21/5).

Slamet pun menjelaskan memasuki Tahun 2015 mendatang, Indonesia akan dihadapkan pada dua moment penting yaitu tantangan baru dalam menghadapi Asian Economi Community (AEC) Tahun 2015 dan memasuki tahapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ke-3 (periode Tahun 2015-2019).

"Tentunya dua moment ini harus kita sikapi sebagai sebuah pekerjaan rumah bersama, baik pemerintah maupun seluruh stakeholders dalam menjadikan Indonesia sebagai bagian yang memberikan peran besar dalam kancah perdagangan ASEAN dan dunia," ujar dia.

Dia juga mengungkapkan RPJMN ke-3 merupakan landasan bagi tahapan pembangunan perikanan budidaya secara nasional untuk 5 tahun ke depan sebagai bagian penting dalam menopang pembangunan ekonomi nasional. Untuk itu, Ditjen Perikanan Budidaya telah menetapkan arah kebijakan strategis dalam mendorong pembangunan perikanan budidaya tersebut melalui dengan mendorong peningkatan produksi perikanan budidaya untuk kebutuhan ekspor yang berdaya saing. Kemudian mendorong peningkatan produksi dalam rangka menopang ketahanan pangan dan gizi masyarakat.

"Mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan menjamin terhadap pelestarian dan keberlanjutan sumberdaya perikanan budidaya," tambah Slamet.

Slamet menegaskan hal yang perlu di garis bawahi terkait bagaimana subsektor perikanan budidaya menjadi basis bagi penguatan ketahanan pangan nasional. Hal ini tidak terlepas dari fenomena laju pertumbuhan penduduk dunia khususnya Indonesia yang semakin pesat, disisi lain adanya transformasi pola konsumsi masyarakat yang cenderung berbasis pada kebutuhan pangan yang aman dan sehat, maka sektor perikanan menjadi sangat strategis dalam menopang ketahanan pangan dan gizi masyarakat.

"Ini bisa kita lihat bahwa trend konsumsi ikan semakin meningkat dari tahun ke tahun dan jauh melampaui konsumsi daging merah," jelas dia.

Disamping itu, lanjut dia, ada hal menarik selama periode Januari 2014, dimana baru pertama kalinya sepanjang sejarah bahwa produk perikanan telah secara nyata memberikan share dominan terhadap inflasi. Oleh karena itu, pemerintah dalam hal ini Ditjen Perikanan Budidaya akan terus mendorong terhadap pengembangan komoditas penting dan strategis sebagai upaya dalam menjamin ketersediaan dan kestabilan stok terutama di tingkat produsen misalnya sidat, lele, udang galah dan komoditas budidaya air tawar lainnya.

"Komoditas penting dan strategis tersebut merupakan komoditas yang secara nyata telah memasyarakat dan menjadi bagian yang menguasai hajat hidup orang banyak," kata Slamet.

Menurut Slamet, optimalisasi pemanfaatan secara arif dan berkelanjutan menjadi hal mutlak, inilah yang melatarbelakangi bahwa dalam RPJMN ke-3 ini Ditjen Perikanan Budidaya pada budidaya air tawar akan lebih memfokuskan pada intensifikasi melalui efisiensi biaya produksi dengan penggunaan benih bermutu dan penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) untuk peningkatan daya saing.

Dalam upaya pengembangan Budidaya Air tawar diperlukan upaya penyediaan bahan baku pakan lokal melalui budidaya Integrated Multi Tropic level Aquaculture (IMTA) untuk mendapatkan bahan baku yang terjamin kualitas, kuantitas dan kontinuitasnya mengingat 60 % biaya produksi adalah pakan dan utamanya untuk mengatasi minimnya margin pada usaha budidaya ikan air tawar. Pemilihan komoditas yang tepat dan memperhatikan kearifan lokal.

"Kesiapan regulasi akan didorong terutama terkait pengelolaan tata ruang dan zonasi perairan umum dalam pemanfaatannya di bidang perikanan budidaya," imbuh dia.

Dia juga menuturkan Ditjen Perikanan Budidaya dalam hal ini telah menyiapkan tujuh jurus utama alam menghadapi MEA 2015 tersebut yaitu mendorong penerapan teknologi yang aplikatif, inovatif, efisien dan berwawasan lingkungan. Menciptakan sistem usaha dan investasi pada subsektor perikanan budidaya yang kondusif. Mendorong perbaikan infrastruktur yang mendukung usaha budidaya. mendorong peningkatan mutu hasil produksi perikanan budidaya melalui Sertifikasi Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB).

Pengembangan perikanan budidaya berbasis blue economy. Peningkatan nilai tambah produk mutlak diperlukan sehingga perlu ada jaminan efesiensi dan minim limbah (zero waste). Mendorong kemandirian dalam menghasilkan induk dan benih unggul. Mendorong peningkatan sumberdaya manusia yang tangguh dan berpola pikir modern.

"AEC Tahun 2015 sudah di depan mata, langkah awal lainnya yang harus segera dilakukan adalah dengan menyatukan pemahaman terhadap seluruh stakeholders khususnya Pemerintah Daerah. Pemahaman dan persamaan persepsi ini perlu agar daerah paham dan segera menyiapkan langkah antisipatif bagaimana menyiapkan sumberdaya yang ada melalui kerjasama sinergi dengan Pemerintah Pusat," jelas dia.

"saya mengajak kepada semua pihak untuk terus bersinergi dan mempunyai komitmen bersama dalam memajukan perikanan budidaya yang lebih baik," lanjut Slamet.

Direktur Produksi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Coco Kokarkin Soetrisno menambahkan budidaya air tawar mempunyai potensi yang sangat luar biasa khususnya budidaya minapadi. Minapadi sendiri merupakan budidaya terpadu yang meningkatkan produktivitas lahan sawah yang menghasilkan padi dan juga ikan.

"Budidaya minapadi perlu ditingkatkan untuk mencapai ketahanan pangan dan membuat petani sawah memproduksi komoditas ikan yang memberikan nilai tambah," kata dia.

Dia juga mengutarakan perkembangan budidaya minapadi di Indonesia menjadi salah satu strategi perikanan budidaya dalam meningkatkan produksi perikanan budidaya secara nasional. Sebagian besar daerah Indonesia sudah mengembangkan budidaya minapadi.

"Sebagian besar ikan yang dibudidayakan dengan metode budidaya ini adalah ikan mas dan ikan nila walaupun sebenarnya tidak hanya dua komoditas tersebut yang dapat dibudidayakan dengan metode ini. Komoditas lain yang dapat dibudidayakan dengan metode ini antara lain nilem, tawes dan udang galah," ujar Coco.

Coco pun mengungkapkan dalam mensosialisasikan budidaya minapadi diperlukan informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai betapa penting serta manfaatnya budidaya ini. Memang dibandingkan dengan negara China yang sudah mempunyai channel televisi khusus pertanian sehingga memudahkan negara ini dalam memberikan informasi kepada masyarakat mengenai program pertanian maupun perikanan.

"Namun, kami bisa memberikan edukasi atau informasi kepada masyarakat melalui website yang sudah ada dan melalui poster-poster tersebar di beberapa daerah. Hal ini akan memudahkan masyarakat mendapatkan pengetahuan terhadap sektor budidaya perikanan ini," ungkap dia.

Dia mengatakan meskipun dalam beberapa bulan lagi akan terjadi pergantian pucuk pimpinan pemerintahan dan begitupula dengan pergantian pimpinan kementerian, namun tidak akan mempengaruhi atas kebijakan budidaya minapadi ini. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya akan memberikan penjelasan kepada pimpinan baru untuk memahami betapa pentingnya budidaya minapadi ini, apalagi untuk memperkuat ketananan pangan.

"Kami pun akan berkordinasi dengan stakeholder pemerintahan lainnya dalam mengawal setiap kebijakan budidaya perikanan, khususnya budidaya air tawar dan dalam hal ini budidaya minapadi," tandas Coco.

Coco juga mengungkapkan budidaya air tawar merupakan budidaya yang berkontribusi besar atas pengentasan kemiskinan dan kemandirian ekonomi. Oleh karenanya, dibutuhkan konsolidasi dan membangun sinergi oleh stakeholder dalam mengembangkan budidaya air tawar ini.

"Melalui pengembangan budidaya air tawar ini maka akan membuat komoditas ikan air tawar yang berdaya saing dan mendorong perekonomian nasional, serta bisa menopang ketahanan pangan," tambah dia.

BERITA TERKAIT

Sejumlah Industri Jepang Disebut Siap Investasi di Indonesia

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan bahwa sejumlah industri di Jepang berkomitmen untuk berinvestasi di Indonesia. “Saya…

Dunia Usaha - Sektor Industri Didorong Tangkap Peluang Pasar Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya mewujudkan Indonesia menjadi salah satu pusat fesyen muslim dunia pada tahun 2020.…

Pemerintah Pastikan Tindak Tegas Pencurian Ikan

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan pihaknya pasti bakal terus menindak tegas aktivitas pencurian ikan yang…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Komoditas - Ekspor Minyak Sawit Indonesia Naik 13 Persen di September 2019

NERACA Jakarta – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengungkapkan ekspor minyak sawit Indonesia pada September 2019 mencapai 26 juta…

Pengusaha Ritel Harapkan Pertumbuhan UMKM Dipacu

NERACA Jakarta – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey berharap pemerintah mampu mendongkrak pertumbuhan usaha mikro, kecil…

Potensial Kerek Ekspor, IKM Gula Palma Dipacu Ciptakan Terobosan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong Industri Kecil Menengah (IKM) nasional untuk melakukan terobosan agar memiliki daya saing…