Hantu Defisit Neraca Transaksi Berjalan

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Triwulan I tahun 2014, defisit neraca transaksi berjalan mencapai US$ 4,191 miliar atau setara dengan 2,06% dari PDB nasional. Bank Indonesia memperkirakan bahwa defisit neraca transaksi berjalan untuk keseluruhan tahun 2014 akan tetap terjaga pada level kurang dari 3% terhadap PDB. Penulis melihat bahwa masalah defisit neraca transaksi berjalan adalah bersifat laten, sepanjang Indonesia belum berhasil mengefisienkan ekonomi nasionalnya.

Sebagai awam mudah saja memahami kenapa defisit selalu terjadi. Yang paling sederhana adalah bahwa pendapatannya adalah lebih kecil dari pengeluarannya. Atau dalam dunia perdagangan barang dan jasa yang dibeli jauh lebih besar daripada yang dijual, baik di pasar dalam negeri maupun di pasar luar negeri. Bersifat laten karena setiap waktu defisit bisa terjadi.

Ada persoalan yang bersifat fundamental harus bisa dijawab oleh instrumen kebijakan yang tidak hanya diranah makro saja, tetapi juga diranah kebijakan yang bersifat mikro. Masalah yang paling fundamental tersebut adalah persoalan daya saing ekonomi nasional yang hingga saat ini belum berhasil dibenahi.

Efisiensi dan produktifitas yang rendah selalu menghantui atau menjadi ancaman laten terjadinya defisit akibat kita boros berbelanja dari impor dan tidak sungguh-sungguh bekerja dengan baik untuk memperbaiki daya saing internasional. Kalau kita gunakan PDB sebagai faktor untuk pembanding, maka nisbah ekspor Indonesia terhadap PDB ekonomi angkanya tidak pernah beranjak dari kisaran 25% dari PDB.

Ini pertanda bahwa Indonesia belum berhasil menjadi pedagang ekspor yang handal di pasar dunia,selain kondisi harga inputnya harus dibayar mahal. Apalagi belanja jasa yang harus dibayar Indonesia tetap tinggi,dan pada triwulan I-2014 defisitnya mencapai US$2,214 miliar. Belanja barang dan jasa dari luar negeri cukup besar, sehingga tabungan negara dalam bentuk cadangan devisa perubahannya tidak terlalu besar. Kisaran tahun ini pada angka US$ 105 miliar karena posisi yang harus di simpan dan dibelanjakan tidak berimbang.

Bank Indonesia mampu menggunakan instrumen moneternya untuk menjaga agar defisit dapat dikendalikan. Tapi dia bisa kelelahan dan "mati berdiri" jika pengelola kebijakan mikronya tidak efektif dalam pengertian bahwa kebijakan sektor dan kewilayahannya hanya menghasilkan tingkat produktifitas yang tidak tinggi akibat banyak faktor yang mendistorsi.

Kebijakan di tingkat mikro ini yang seringkali justru merongrong dan menggerogoti terhadap kebijakan makro di bidang moneter dan fiskal karena struktur di sektor mikronya rapuh yang ditandai sangat boros dalam menggunakan devisa untuk impor bahan pangan,BBM,dan kebutuhan bahan baku/penolong, komponen/suku cadang dan barang modal.

Negara dengan jumlah penduduk yang besar,mencapai hampir 250 juta jiwa pada tahun ini, kecukupan kebutuhan hidup mereka harus semaksimal mungkin dipenuhi dari produksi nasional baik yang bersumber sektor pertanian maupun dari sektor industri pengolahan. Sangat berisiko kalau kebutuhan sekitar 250 juta jiwa penduduk Indonesia harus dipenuhi dari impor dalam skala yang besar.

BERITA TERKAIT

Defisit BPJS Kesehatan Tahun Ini Diprediksi Meningkat

      NERACA   Jakarta – Defisit BPJS Kesehatan pada tahun ini diprediksi semakin meningkat. Hal itu seperti dikatakan…

IMPOR MASIH MENDOMINASI - Presiden Ingin Defisit Garam Cepat Diatasi

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo menilai bahwa potensi garam yang dihasilkan di tambak garam Desa Nunkurus Kabupaten Kupang, Nusa…

Gelar Islamic Tourism Expo - BNI Syariah Targetkan Transaksi Rp 50 Miliar

NERACA Jakarta – Masih besarnya potensi wisata halal di dalam negeri, menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Maka dalam rangka…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Darurat Kinerja

Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Kurang dari seminggu yang lalu, beberapa daerah di…

Menghadapi Ketidakpastian

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Membicarakan soal ekonomi tidak ada habisnya. Mata dan telinga selalu melihat dan…

Menguji Efektivitas “Super Deduction Tax”

Oleh: Nailul Huda, Peneliti INDEF Peran inovasi dan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi sangat vital mengingat kondisi perekonomian saat ini yang…