Rentan Pasar Global

Rabu, 10/08/2011

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Kepanikan investor sebagai imbas dari kondisi di Amerika Serikat dan Eropa, telah memicu anjloknya pergerakan indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga ke level paling terpuruk. Tercatat perdagangan saham pada akhir pekan lalu, merupakan pengalaman paling pahit karena indeks turun 200 poin ke level 3.921 dan sejak itu indeks terus bergerak melemah hingga di bawah batas psikologis 4.000.

Rupanya musibah yang terjadi di negeri seberang mampu merontokkan kekuatan indeks saham dalam negeri yang sudah dibangun sejak Juni dan Juli, hanya gara-gara rumor negara adidaya itu tidak mampu membayar utang. Kondisi ini tentu sangat ironis, kerja keras pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi positif tidak memberikan pengaruh signifikan untuk mempertahankan penguatan indeks.

Seharusnya, positifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan inflasi yang stabil mampu menciptakan kondisi indeks saham dalam negeri tahan banting dari berbagai terpaan isu global. Pasalnya, tidak ada alasan indeks dalam negeri jatuh begitu terpuruk, karena pengalaman telah membuktikan itu. Sebut saja, pristiwa pemboman teroris JW Marriot pada tahun 2008 silam, pergerakan indeks masih positif dan padahal saat itu pemerintah Indonesia mendapatkan travel warning dari negara lain karena faktor ketidak amanan.

Bukan kali ini saja, akibat ulahnya sendiri, negara Amerika telah merugikan ekonomi negara lain dan termasuk Indonesia dengan aksi massif pelaku pasar melakukan ambil untung dan termasuk investor lokal yang ikut-ikutan. Alhasil dari aksi kepanikan investor juga membuat pusing pemerintah Indonesia untuk meredam kepanikan yang terus memicu ambil untung. Khawatiran potensi indeks saham bisa berbalik arah ke pengalaman terpuruk sangat mungkin terjadi, seperti berujung pada suspensi atau penghentian perdagangan karena krisis ekonomi Lehman Brother di Amerika yang telah memicu pelaku pasar terus melakukan aksi jual.

Namun seperti memberikan obat penenang, pemerintah mencoba menyakinkan para pelaku pasar bila koreksi indeks hanya akan berlangsung sesaat dan bahkan menilai pelaku investor pasar modal sedang melakukan "tes pasar" dan menguji daya tahan fundamental pasar modal Indonesia ketika bursa sempat bergejolak akibat krisis di Amerika Serikat (AS) serta Eropa. Terlepas benar atau tidaknya apa yang ditudingkan pemerintah, yang pasti sikap pemerintah terhadap industri pasar modal masih dinilai belum komprehensif.

Sejatinya industri pasar modal dalam negeri tidak akan terpengaruh dengan berbagai isu negatif apapun, bila saja pelaku pasar didominasi investor lokal dan bukan asing yang hanya tahu menempatkan dananya sebagai pengamanan dari krisis ekonomi yang melanda negerinya. Berbeda cerita, bila investor didominasi orang lokal yang tidak akan menjual sahamnya hanya karena bersifat jangka pendek.

Kemudian kapitalisasi pasar modal yang besar bisa menggerakkan roda perekonomian serta memberikan dampak yang lebih luas lagi. Jika sudah begini industri pasar modal akan sama pentingnya dengan pasar di Tanah Abang yang mempunyai andil dan kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Semoga!