Rentan Pasar Global

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Kepanikan investor sebagai imbas dari kondisi di Amerika Serikat dan Eropa, telah memicu anjloknya pergerakan indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga ke level paling terpuruk. Tercatat perdagangan saham pada akhir pekan lalu, merupakan pengalaman paling pahit karena indeks turun 200 poin ke level 3.921 dan sejak itu indeks terus bergerak melemah hingga di bawah batas psikologis 4.000.

Rupanya musibah yang terjadi di negeri seberang mampu merontokkan kekuatan indeks saham dalam negeri yang sudah dibangun sejak Juni dan Juli, hanya gara-gara rumor negara adidaya itu tidak mampu membayar utang. Kondisi ini tentu sangat ironis, kerja keras pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi positif tidak memberikan pengaruh signifikan untuk mempertahankan penguatan indeks.

Seharusnya, positifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan inflasi yang stabil mampu menciptakan kondisi indeks saham dalam negeri tahan banting dari berbagai terpaan isu global. Pasalnya, tidak ada alasan indeks dalam negeri jatuh begitu terpuruk, karena pengalaman telah membuktikan itu. Sebut saja, pristiwa pemboman teroris JW Marriot pada tahun 2008 silam, pergerakan indeks masih positif dan padahal saat itu pemerintah Indonesia mendapatkan travel warning dari negara lain karena faktor ketidak amanan.

Bukan kali ini saja, akibat ulahnya sendiri, negara Amerika telah merugikan ekonomi negara lain dan termasuk Indonesia dengan aksi massif pelaku pasar melakukan ambil untung dan termasuk investor lokal yang ikut-ikutan. Alhasil dari aksi kepanikan investor juga membuat pusing pemerintah Indonesia untuk meredam kepanikan yang terus memicu ambil untung. Khawatiran potensi indeks saham bisa berbalik arah ke pengalaman terpuruk sangat mungkin terjadi, seperti berujung pada suspensi atau penghentian perdagangan karena krisis ekonomi Lehman Brother di Amerika yang telah memicu pelaku pasar terus melakukan aksi jual.

Namun seperti memberikan obat penenang, pemerintah mencoba menyakinkan para pelaku pasar bila koreksi indeks hanya akan berlangsung sesaat dan bahkan menilai pelaku investor pasar modal sedang melakukan "tes pasar" dan menguji daya tahan fundamental pasar modal Indonesia ketika bursa sempat bergejolak akibat krisis di Amerika Serikat (AS) serta Eropa. Terlepas benar atau tidaknya apa yang ditudingkan pemerintah, yang pasti sikap pemerintah terhadap industri pasar modal masih dinilai belum komprehensif.

Sejatinya industri pasar modal dalam negeri tidak akan terpengaruh dengan berbagai isu negatif apapun, bila saja pelaku pasar didominasi investor lokal dan bukan asing yang hanya tahu menempatkan dananya sebagai pengamanan dari krisis ekonomi yang melanda negerinya. Berbeda cerita, bila investor didominasi orang lokal yang tidak akan menjual sahamnya hanya karena bersifat jangka pendek.

Kemudian kapitalisasi pasar modal yang besar bisa menggerakkan roda perekonomian serta memberikan dampak yang lebih luas lagi. Jika sudah begini industri pasar modal akan sama pentingnya dengan pasar di Tanah Abang yang mempunyai andil dan kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Semoga!

BERITA TERKAIT

BEI Gelar Roadshow Pasar Modal Ke Tiongkok - Bidik Lebih Banyak Investor Asing

NERACA Jakarta  - Meskipun penetrasi pasar modal di dalam negeri masih rendah, hal tersebut tidak membuat PT Bursa Efek Indonesia…

Minat Investasi di Pasar Modal Meningkat - Investor di Kalsel Tumbuh

NERACA Banjarmasin – Besarnya tekad PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk terus mengkampanyekan Yuk Nabung Saham dengan menggandeng beberapa perusahaan…

Anak Sekolah Paling Rentan Terkena DBD

Anak-anak sekolah menjadi kelompok yang paling rentan terkena penyakit demam berdarah dengue."Anak-anak dari pagi dan siang duduk dalam ruang kelas…

BERITA LAINNYA DI OPINI

"Public Chaos", Ujung Interpretasi Media yang Salah

  Oleh : Ricky Rinaldi, Peneliti Madya Lembaga Studi Informasi Strategis (LSIS) Tidak dapat dipungkiri bahwa aktor yang paling berperan…

Strategi "Survival of The Fittest" Bagi Mal

Oleh: Muhammad Razi Rahman Persaingan dalam ekonomi memang untuk para pelaku usaha yang tangguh, terutama bila kondisi perekonomian ternyata menjadi…

Reformasi Dana Insentif Daerah

Oleh: Joko Tri Haryanto, Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu *) Dalam APBN, kerangka hubungan pendanaan antara Pemerintah Pusat dan Daerah diterjemahkan…