LPDB Berencana Menggandeng BTN

Butuh Dana Tambahan Rp9 T

Selasa, 09/08/2011

Jakarta - Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) Kementerian Negara Koperasi dan UKM Kemas Danial mengungkapkan, untuk menutup kekurangan dana bergulir tahun ini pihaknya bakal segera menggandeng Bank Tabungan Negara (BTN). “Kita tinggal negosiasi mengenai Juknis penyalurannya dan BTN siapkan dana sekitar Rp1-2 triliun. Ini langkah terobosan dari LPDB setelah permohonan tambahan dana kepada Kementrian Keuangan belum juga disetujui”, kata Kemas kepada wartawan di Jakarta, Senin.

Menurut Kemas, LPDB akan merekomendasikan koperasi-koperasi yang tergolong bankable kepada BTN. “Kita berharap Juknis yang disetujui adalah Juknis LPDB karena akan lebih mempermudah bagi calon debitur dari kalangan koperasi”, imbuh dia.

Bicara mengenai tingkat suku bunga, Kemas mengakui, belum ada kesepakatan pihaknya dengan BTN. Bank plat merah itu mematok 12,7%, sementara LPDB berharap tingkat suku bunga di bawah 12%. “Kami menginginkan berkisar 11-11,5%. Kenapa memilih BTN karena bank tersebut belum pernah menggarap sektor koperasi dan UMKM. Hal ini juga untuk menambah daya jangkau penyaluran kredit BTN”, ungkap Kemas.

Kemas menjelaskan, sejak tahun 2008 hingga 8 Agustus 2011 LPDB-KUMKM telah mencairkan dana pinjaman/pembiayaan sebesar Rp1,24 triliun. Dana tersebut disalurkan kepada sebanyak 730 mitra LPDB-KUMKM yang terdiri dari 632 koperasi primer, 33 koperasi sekunder, 47 Perusahaan Modal Ventura (PMV), 15 Bank, dan 3 UKM strategis, serta 159.367 UMKM.

Dari total 730 mitra LPDB-KUMKM dan 159.367 UMKM tersebut, terdapat tiga wilayah terbesar yang menyerap dana bergulir LPDB. Tiga di antaranya yakni provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Kemudian, menyusul tiga provinsi lainnya yaitu Sulawesi Selatan, DKI Jakarta dan Bali. Proporsi wilayah serapan dipertimbangkan dengan melihat perkembangan dari segi ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan dari suatu wilayah penerima dana.

Terkait jumlah penyaluran dan penyerapan dana bergulir, terpantau telah menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Secara spesifik, pada tahun 2008 tercatat sebanyak 2.721 mitra LPDB-KUMKM telah menerima dana bergulir yakni sebesar Rp35,12 miliar. Kemudian pada tahun 2009, penyaluran dana bergulir meningkat menjadi Rp 210,42 miliar dan diserap oleh 89.142 mitra LPDB yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

Dilanjutkan pada tahun 2010, dana pinjaman/pembiayaan yang telah digulirkan LPDB-KUMKM sebanyak Rp410,90 miliar diserap oleh 41.971 mitra. Sedangkan untuk tahun 2011, hingga 8 Agustus 2011 ini tercatat jumlah penyaluran dana pinjaman/pembiayaan LPDB-KUMKM telah mencapai Rp597,34 miliar.

Dana tersebut terserap oleh 420 mitra LPDB-KUMKM yang terdiri dari 399 koperasi primer, 13 koperasi sekunder, 5 Bank, dan 3 UKM strategis, serta 25.449 UMKM di seluruh Indonesia. Sehingga secara kumulatif, sebanyak 730 mitra LPDB-KUMKM dan 159.367 UMKM telah menerima dana bergulir LPDB-KUMKM sejak tahun 2008 hingga 8 Agustus 2011.

Terkait dengan target penyaluran, kata Kemas, pada tahun 2011 LPDB-KUMKM akan salurkan Rp1,25 triliun dengan presentasi 90% akan diserap oleh koperasi, dan 10% sisanya diserap mitra LPDB-KUMKM seperti Lembaga Keuangan Bank (LKB) dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) seperti Perusahaan Modal Ventura (PMV), Perusahaan Perkreditan, dan lain-lain.

“Sesuai komitmennya, LPDB-KUMKM akan terus berupaya meningkatkan jumlah dana pinjaman/pembiayaan hingga kebutuhan masyarakat akan penambahan modal usaha terpenuhi. Peningkatan jumlah dana LPDB-KUMKM tersebut tentu saja sebagai upaya mendukung program pemerintah dalam meningkatkan angkatan kerja dan mengurangi pengangguran. Sehingga jelas implikasinya adalah mengurangi angka kemiskinan dan jumlah pengangguran di Indonesia”, papar Kemas.

Monitor Tingkat NPL

Sementara itu, dalam rangka meningkatkan monitoring pengembalian pinjaman/pembiayaan dari Koperasi dan UKM, LPDB-KUMKM akan menambah satu bagian baru yakni bagian Pengendali Piutang atau Collection. Dengan demikian tingkat non-performing loan (NPL) dapat dipertahankan serta lancar tidaknya pembayaran dapat termonitor dengan baik. “Kami berharap strategi ini dapat bermanfaat di masa kini dan mendatang”, tandas Kemas.

Kemas mengatakan, penambahan bagian ini rencananya efektif di bulan September 2011. Selain merupakan strategi LPDB, penambahan bagian ini merupakan upaya preventif guna menghindari kredit macet.

Kredit macet yang dimaksud adalah akibat keterlambatan maupun kelalaian koperasi dan UKM dalam mengembalikan pinjaman/pembiayaan kepada LPDB-KUMKM. Kelalaian tersebut yang berusaha ditekan oleh bagian “collection”. Bagian ini selain tugasnya sebagai “pengingat”, mereka juga berperan aktif dalam memantau pembayaran, jatuh tempo, serta berkomunikasi dengan para mitra LPDB-KUMKM di seluruh Indonesia.

“Collection akan menghubungi pengurus koperasi apabila waktu pembayarannya sudah dekat dengan jatuh tempo,” jelas Kemas Danial. Dengan batas satu minggu sebelum jatuh tempo, collection akan diingatkan melalui sistem komputer yang canggih. “Sistem akan mengidentifikasikan koperasi-koperasi yang sudah dekat waktu pembayaran, sudah jatuh tempo, harus membayar bunga, dan hal lainnya,” tambah Kemas Danial.

Harapannya, penambahan staf collection sebanyak enam orang untuk tahun 2011 ini, dapat meningkatkan mutu dan kualitas LPDB-KUMKM ke depan. Untuk tahun mendatang, direncanakan ada penambahan beberapa staf lagi untuk bagian tersebut. Tujuan paling utama adalah, menjaga tingkat NPL LPDB-KUMKM agar terjaga dengan baik..