Sentimen vs Fundamental

Rabu, 12/02/2014

Di tengah suasana tahun politik, kondisi pasar uang dan pasar modal dalam jangka pendek secara teoretis, ada faktor sentimen yang dimungkinkan bergerak berbeda dibandingkan tren pergerakan fundamental ekonomi. Meski dalam jangka panjang koreksi atas sentimen yang berbeda pasti akan terjadi. Hal ini karena para pelaku ekonomi merupakan aktor rasional yang terus mendasarkan keputusan cost-benefit berdasar pada hal-hal yang bersifat fundamental.

Sebaliknya, saat fundamental ekonomi suatu negara memburuk, perekayasaan sentimen di pasar tidak akan efektif untuk misalnya meyakinkan investor berinvestasi baik di pasar modal maupun sektor riil. Khusus di pasar modal dan pasar keuangan, sensitivitas terhadap sentimen relatif tinggi bila dibandingkan dengan di sektor riil.

Namun apabila kita lihat dalam spektrum lebih panjang, pergerakan kinerja pasar modal dan keuangan akan berjalan searah dengan pergerakan fundamental ekonomi. Misalnya pada semester II-2013, ketika isu pengurangan stimulus moneter III (quantitative easingIII) disampaikan oleh The Fed ditambah dengan ketidakseimbangan antara ekspor-impor nasional, sentimencapital-outflowmeningkat.

Hasilnya indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap US$ melemah. Namun ketika Indonesia mampu memperbaiki aspek fundamental ekonomi seperti menjinakkan pergerakan inflasi, membuat surplus neraca perdagangan, meningkatkan cadangan devisa, dan menjaga realisasi pertumbuhan ekonomi pada akhir 2013, kita menyaksikan tren positif IHSG dan pergerakan nilai tukar rupiah pada kuartal I-2014.

Artinya, meski terguncang dalam jangka pendek, dalam jangka menengah dan panjang pasar akan membangun sentimen positif berdasarkan tren penguatan fundamental ekonomi nasional. Pada tahun politik seperti yang kita alami saat ini, gerak sentimen di pasar akan membentuk pola bagaimana kita memperkuat fundamental ekonomi nasional.

Bisa saja gerakan IHSG dan nilai tukar dipengaruhi sesaat oleh event, tetapi saya berkeyakinan pasar akan melihat kembali halhal yang bersifat fundamental ekonomi. Misalnya pasca-pengumuman hasilquick-count,IHSG pada penutupan Kamis (10/4) turun sebesar 3,16% atau 115,68 poin dan berada pada level 4.765,73. Namun keesokan harinya IHSG menguat sejak pembukaan pasar dan ditutup menguat 1,07% menjadi 4.816,58.

Membaiknya sejumlah indikator makroekonomi merupakan sinyal kuat bagi munculnya sentimen positif pelaku usaha bagi perekonomian nasional. Tren penguatan fundamental ekonomi dan sentimen para pelaku pasar ke perekonomian Indonesia sejak awal 2014 diakibatkan serangkaian kebijakan yang telah ditempuh sebagai policy responses sepanjang semester II-2013.

Dua paket kebijakan untuk mengendalikan inflasi, memperbaiki posisi neraca transaksi perdagangan dan pembayaran, penguatan daya beli masyarakat, penguatan cadangan devisa, dan mendorong investasi serta hilirisasi semakin memperkuat fundamental ekonomi nasional. Kondisi ini membuat pasar domestik tetap atraktif untuk berinvestasi.

Menurut guru besar ekonomi UI Prof Firmanzah PhD, gabungan antara terjaganya daya beli masyarakat, kebijakan industrialisasi dan hilirisasi, serta terjaganya stabilitas keamanan dan politik membuat dunia usaha di Indonesia terus bergerak. Sejumlah sektor ekonomi diperkirakan terus tumbuh positif sepanjang kuartal I-2014 seperti industri pengolahan, transportasi dan telekomunikasi, pariwisata, ritel, properti dan pertanian.

Sentimen positif para pelaku usaha terhadap perekonomian nasional diharapkan tetap membaik menjelang pelaksanaan Pilpres 2014. Tertibnya masa persiapan, kampanye, masa tenang, pencoblosan, perhitungan quick count dan penyelesaian konflik perhitungan menunjukkan kematangan bangsa Indonesia dalam berdemokrasi.