Krisis Utang Di AS

Kalau saja tidak terjadi kesepakatan antara Partai Demokrat dan Partai Republik, maka negara superpower Amerika Serikat bisa saja bangkrut karena mengalami status gagal bayar utang (default). Ini gara-gara AS terjebak perangkap utang yang mencapai US$16,7 triliun sehingga menurunkan peringkat utang internasional dari triple B menjadi double B.

Di Amerika sendiri, krisis keuangan itu telah menyentuh sendi-sendi politik. Dari sisi tataran praktis, jika AS mengalami default atau gagal bayar utang, negeri itu bahkan tidak akan mampu membiayai pelaksanaan pemilihan presiden pada 2014. Bisa dibayangkan, dampak dari sisi politik tersebut bakal berupa spiral kegagalan politik yang bisa berujung pada sebuah jalan buntu. Sebagai pemain utama dalam percaturan politik global, dampak politik dari kegagalan menangani krisis ini sesungguhnya sama dahsyatnya dengan dampak pada sektor ekonomi.

Lalu apa dampak kebijakan terbaru ini? Kebijakan terbaru ini memang berhasil menyelamatkan AS dari kebangkrutan dan potensi gangguannya terhadap ekonomi global, tetapi akan disertai pemangkasan besar-besaran terhadap belanja sosial di dalam negeri seperti perawatan kesehatan, jaminan sosial, pensiun, dan lain-lain. Tetapi tidak ada kenaikan pajak sepeserpun untuk kaum kaya di Amerika Serikat.

Ini lagi-lagi Barack Obama, sang presiden yang semula digadang-gadang akan membawa perubahan dan harapan di Amerika Serikat, kini menjadi ”hantu” yang dapat menghancurkan kesejahteraan rakyat pekerja di Amerika Serikat. Sebelumnya, Obama menyetujui paket penyelamatan terhadap kaum kaya dan para bankir di AS senilai US$23,7 triliun.

Krisis utang sendiri terjadi, selain karena belanja militer yang sangat tinggi di masa-masa sebelumnya, juga dihasilkan oleh "pengambilan sistim perbankan oleh para penjudi", meminjam istilah Michael Hudson, profesor ekonomi di University of Missouri. Ini tidak terpisahkan dari perkembangan ekonomi global yang semakin mengarah pada finansialisasi dan spekulasi.

Dengan begini, seorang kapitalis dapat melipatgandakan keuntungan dalam waktu singkat. Dengan mengklik komputer, anda dapat memindahkan miliaran dolar di pasar keuangan di seluruh dunia. Persoalannya, model ini memang bisa menciptakan keuntungan dalam hitungan detik, namun tidak pernah menciptakan nilai baru, kecuali hanya industri, pertanian, perdagangan dan jasa yang menciptakan nilai baru.

Ini mendorong keterpisahan antara sistem finansial dan ekonomi riil. Karena finansialisasi sangat tergantung pada aksi spekulatif, maka tidak mengherankan kalau sektor finansial hinggap dari satu gelembung ke gelembung lainnya, dari krisis ke krisis.

Jika ditelusuri akar pokoknya, maka krisis utang yang terjadi di AS dan juga menyerang sebagian negara Eropa saat ini berpangkal pada kontradiksi dalam kapitalisme global, yaitu krisis over produksi, atau sering disebut over kapasitas.

BERITA TERKAIT

Awas Jebakan Utang

Berdasarkan data Kementerian Keuangan hingga akhir Agustus 2017, posisi utang Indonesia sebesar Rp3.825,79 triliun. Jumlah itu meningkat Rp45,81 triliun dari…

Utang dan Defisit Anggaran yang Berkualitas

Oleh: Joko Tri Haryanto, Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu *) Seiring pengajuan Rancangan APBN Perubahan (APBN-P) 2017, pemerintah memperkirakan defisit APBN…

Express Trasindo Jual Aset Tanah14,5 Hektar - Bayar Utang Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta - Lunasi utang pinjaman ke Bank Central Asia (BCA) sebesar Rp 500 miliar, PT Express Transindo Utama Tbk…

BERITA LAINNYA DI OPINI

"Public Chaos", Ujung Interpretasi Media yang Salah

  Oleh : Ricky Rinaldi, Peneliti Madya Lembaga Studi Informasi Strategis (LSIS) Tidak dapat dipungkiri bahwa aktor yang paling berperan…

Strategi "Survival of The Fittest" Bagi Mal

Oleh: Muhammad Razi Rahman Persaingan dalam ekonomi memang untuk para pelaku usaha yang tangguh, terutama bila kondisi perekonomian ternyata menjadi…

Reformasi Dana Insentif Daerah

Oleh: Joko Tri Haryanto, Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu *) Dalam APBN, kerangka hubungan pendanaan antara Pemerintah Pusat dan Daerah diterjemahkan…