APBN 2012 Dinilai Lebih Ekspansif

Capai Rp1400 T

Selasa, 09/08/2011

NERACA

Jakarta-----Pemerintah menegaskan anggaran belanja negara pada 2011 meningkat sekitar Rp 1.400 triliun. Ada kenaikkan sekitar Rp200 triliun. Namun APBN 2011 tersebut akan lebih ekspansif. "Yang jelas anggaran kita di tahun 2012 itu ekspansif. Kalau tahun ini kita Rp 1.200 triliun. Mungkin 2012 nanti akan Rp 1.400 triliun," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa kepada wartawan di Jakarta, 8/8

Dengan anggaran sebesar itu, kata Hatta, pemerintah berusaha mengurangi defisit anggaran dibanding tahun sebelumnya. Bahkan anggaran infrastruktur akan lebih dipertajam. "Dan akan lebih tajam sasaran-sasarannya, karena tiap tahun kita pertajam. Seperti porsi infrastruktur, porsi-porsi yang terkait dengan MP3EI akan semakin tajam," tambahnya.

Diakui Ketua umum PAN ini, kenaikan anggaran yang dikatakan ekspansif tersebut akan dibarengi dengan meningkatnya belanja pemerintah yang juga akan ekspansif. "Belanja kita juga akan ekspansif, sedangkan belanja yang bersifat perjalanan dan sebagainya juga sudah kita hemat. Belanja barang untuk keperluan office, pembangunan gedung, itu kita cut," janjinya.

Lebih jauh mantan Mensesneg ini menambahkan akan terus melakukan penghematan. Hatta berjanji bahwa di setiap Kementerian harus ada penghematan penggunaan listrik sampai 20%, penghematan konsumsi BBM, dan lain-lain. "Ini terkait dengan Instruksi Presiden soal penghematan di bidang energi untuk penggunaan listrik dan juga air," imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan pihaknya merasa tertantang untuk mengejar target defisit APBN 2012 yang sebesar 1,5% dari PDB. Namun tantangan ini dinilai cukup berat. Karena penerimaan negara harus diperbesar untuk menutup defisit itu. "Yang keliatan cukup mendapat tantangan adalah penerimaannya. Penerimaannya diperbesar," ujarnya.

Menurut Agus Marto, penerimaan akan diperbesar atau belanja yang akan diperketat pada 2012. Sementara untuk defisit pada tahun depan, dia mengungkapkan, diproyeksikan sebesar 1,5%. Angka ini lebih rendah dari defisit dalam APBNP 2011 yang sebesar 2,1%.

"(Defisit) 1,5% dan 1,5% dibandingkan dengan sekarang 2,1%. Itu kan menunjukkan komitmen kita dan itu masih dalam rancangan yang akan dibawakan oleh Presiden di tanggal 16 (Agustus) nanti," tandasnya.

Sebagai informasi, dalam APBNP 2011 pendapatan negara dan hibah ditargetkan sebesar Rp 1.169 triliun, penerimaan perpajakan ditargetkan sebesar Rp 878,68 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) ditargetkan sebesar Rp 286,56 triliun, dan penerimaan pertambangan panas bumi ditargetkan sebesar Rp 356,11 miliar.

Sebelumnya, Deputi Neraca dan Analisis Badan Pusat Statistik (BPS), Slamet Sutomo mengungkapkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan II-2011 berdasarkan indeks tendensinya mengalami kenaikan di seluruh sektor. Pada triwulan II-2011 secara umum Indeks Tendensi Bisnis (ITB) meningkat menjadi 105,75 dari triwulan pertama sebesar 102,16. "Secara umum ITB sejalan dengan yang di dalam PDB," ujarnya

Di tengah kenaikan angka-angka ITB di semua sektor, lanjutnya, hanya sektor keuangan mengalami pertumbuhan yang melambat. Pasalnya, penyaluran kredit pada sektor perbankan terhambat karena kasus menyangkut kartu kredit beberapa waktu lalu. "Pertumbuhan bank pada triwulan pertama sebesar 7,33% ke 6,89% pada triwulan II menurun karena kasus Citibank," terangnya.

Perubahan kenaikan angka dalam perkiraan ITB di triwulan kedua, tambahnya, terlihat signifikan pada sektor pengangkutan dan komunikasi. "Pada triwulan kedua ini sektor tersebut diperkirakan memiliki nilai indeks sebesar 112,96. Karena saat ini bertepatan dengan lebaran," imbuhnya. **cahyo