SBY : Jangan Terjebak Budaya Utang

Merespon Krisis Utang AS dan Eropa

Selasa, 09/08/2011

NERACA

Jakarta---Belajar dari krisis utang AS dan Eropa, maka pemerintah tak mau mauk dalam jebakan utang. Sehingga bisa membahayakan perekonomian negara. Karena itu Presiden SBY merespon soal persiapan penurunan utang Indonesia. "Utang itu di masa krisis sering menjadi solusi. Tetapi kalau tidak kita perlukan maka tidak boleh kita masuk dalam budaya berutang," ungkap Presiden SBY di Jakarta, Senin (8/8)

Lebih lanjut SBY menambahkan pemerintah telah siap untuk menurunkan rasio utang Indonesia. Sehingga anggaran makin sehat dan tidak tergantung dengan utang lagi.”Oleh karena itu kita memperbaiki debt to GDP rasio (rasio utang terhadap PDB). Tahun lalu sudah kurang 2,5% dan akan kita terus turunkan tahun depan,” terangnya.

Menurut SBY, sekuat apapun negara seperti AS dan Eropa, jika defisit anggarannya besar, maka rasio utang pun akan sangat tinggi dan ekonomi menjadi tidak aman. Ini telah dibuktikan dalam sejarah. "Karena itu, penerimaan negara, baik pajak maupun non pajak perlu ditingkatkan. Mengatur pembelanjaan yang tepat sehingga tidak perlu defisit," tambahnya

Saat ini pemerintah tengah mencermati penuh situasi yang terjadi di Eropa dan AS. SBY mengatakan, ekonomi Indonesia saat ini sudah lebih baik dan siap menahan krisis yang terjadi dari luar. "Satu-satunya yang perlu kita cermati dan antisipasi adalah turunnya IHSG kita yang relatif tajam tetapi tidak perlu khawatir ini terjadi secara global. Ini terjadi di AS, Eropa, dan Asia," kata SBY.

Yang jelas, kata Kepala Negara mendesak semua system bekerja secara sinergis, Sehingga bisa terhindar dari krisis. “Kita pahami betul IHSG itu. Dengan pemahaman ekonomi kita dalam keadaan baik, tidak perlu ada kepanikan apapun, kecemasan apapun, sistem harus bekerja penuh dan di tingkat kementerian agar segala sesuatunya bisa kita kelola dengan baik," papar SBY.

Berdasarkan catatan, total utang pemerintah Indonesia hingga Juni 2011 mencapai Rp 1.723,9 triliun. Dalam sebulan utang pemerintah naik Rp 7,34 triliun dibanding Mei 2011 yang sebesar Rp 1.716,56 triliun. Jika dibandingkan dengan jumlah utang di Desember 2010 yang sebesar Rp 1.676,85 triliun, jumlah utang hingga Juni 2011 bertambah Rp 47,05 triliun.

Jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah hingga Juni 2011 mencapai US$ 200,52 miliar. turun dibandingkan per Mei 2011 yang sebesar US$ 201,07 miliar. Tapi masih lebih tinggi dibandingkan Desember 2010 yang sebesar US$ 186,5 miliar.

Sementara itu, Dirjen Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan, Rahmat Walutanto mengaku meskipun saat ini telah terjadi penarikan dana asing pada Surat Berharga Negara (SBN). Namun pemerintah merasa belum perlu melakukan intervensi.

Hanya saja, kata Rahmat, pemerintah saat ini terus menerus mengamati pasar berdasarkan Crisis Management Protocol dan komunikasi dengang primary dealers. "Tapi, sejauh ini belum dilakukan operasi pasar," terangnya.

Rahmat menuturkan, sampai pukul 11.15, situasi pasar SBN memang melemah tipis namun masih dalam kategori stabil. Meskipun IHSG terkoreksi tajam 4,99% menjadi 3.725,78. Harga Surat Utang Negara (SUN) tenor panjang turun 75-100 bps (0,75-1,0), sedangkan yang jangka pendek dibawah 50 cents. Akan tetapi, yield SUN 10 tahun masih sekitar 6,9%. "Sejauh ini tidak terlihat tanda-tanda selling off apalagi reversal, karena nilai tukar masih berada pada Rp8.556,6 (-11%)," tambahnya.

Berdasarkan data perdagangan Jumat 6 Agustus, investor asing menjadi net seller SUN sebesar Rp663,27miliar. **cahyo