Jadi Orang Biasa, Tapi Bermanfaat Luar Biasa

Ismoyo S Soemarlan

Jadi Orang Biasa, Tapi Bermanfaat Luar Biasa

Kesukaannya berkumpul dan berorganisasi, ternyata tidak sia-sia, tapi justru sebaliknya. Banyak manfaat yang bisa dipetik, jika dijalankan dengan sungguh-sungguh.

“Sejak kecil saya sudah aktif dalam hal organisasi. Menjadi ketua kelas, ketua OSIS, hingga sekarang aktifdi beberapa organisasi,” kata Ismoyo Soegiarto, pendiri Bali Villa Associaton (BVA).

Menurut Ismoyo yang biasa disapa Moyo, sebelum berdiri BVA, imej orang tentang vila masih sangatlah negatif. Setidaknya ada empat hal negative dri keberadaan vila di bali, maupun di tempat lainnya. Yaitu, pertama, tidak membayar pajak, kedua, banyak vila bodong atau tak memiliki izin yang sah. Ketiga, vila sering dijadikan sebagai tempat untuk berbuat mesum, dan keempat, tempat itu tidak aman.

Karena sudah basah berkecimpung di dunia pervilaan, Ismoyo pun bertekad mengubah citra buruk tersebut. “Ketika vila mendapatan citra yang selalu buruk maka saya masuk ke sana. Saya dan teman-teman ingin membuang image buruk villa dengan mendirikan Bali Villa Association,” kata pria kelahiran Bandung, 22 Januari 1965 ini.

Dan hasilnya? Saat menjadi ketua untuk periode pertama, hasilnya sangat menggembirakan. Pada tahun 2006, pajak di Kabupaten Badung mencapai Rp 25 miliar setahun. Tujuh tahun kemudian, pada 2013, pajak tersebut sudah meningkat berlipat-lipat hinga mencapai Rp 365 miliar per tahun. “Jadi naik hingga lebih dari 1.000 persen,” tuturnya.

Bersama pengurus dan anggota BVA, seluruh vila ditata hingga teratur. Komunikasi antar pengelola vila pun dijalin. Dia pun bersyukur, melalui BVA, dapat berinteraksi dengan penduduk asli yang mayoritas beragama Hindu. Sedangkan dirinya seorang muslim. Jadi, di tengah heteroginitas masyarakat di Bali,dan Islam minoritas, dia pun menerapkan prinsip berbuat agar semua pihak merasakan manfaatnya. “Dan saya tak mau Islam eksklusifm tapi harus bisa berbaur dan menyatu. Dengan demikian, sema akan merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Kegiatan yang diikuti Ismoyo cukup beragam, mulai dari organisasi profesi di bidang kepariwisataan, organisasi keislaman, maupun organisasi keolahragaan. Selain di BVA yang kini dia diberi amanah sebagai salah seorang pengurus teras di Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali sejak 2006. Sejak 2009, Ismoyo ditunjuk menjadi ketua Divisi Promosi dan Pemasaran Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Provinsi Bali. Begitu aktifnya, Polda Bali pun memberinya gelar Polisi Kehormatan Polda Bali. Sedangkan, di bidang sosial, Ismoyo hingga kini masih tercatat sebagai anggota tim Konsultasi dan Promosi Badan Pariwisata Bali (BPB).

Di bidang keagamaan, Ismoyo juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MU) dan saat ini menjadi ketua Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Provinsi Bali. Dia tidak ingin hanya umat Islam saja yang dapat memanfaatkan keberadaan Bazda. “Semua orang dapat memetik manfaat dari keberadaan Bazda ini. “Apapun, bagi saya adalah semua orang di sekitarnya mendapat manfaat,” kata dia.

“Kami memberikannya lintas agama dan suku. Ya itu tadi manfaatnya. Siapa tahu ini bisa menjadi syiar yang baik,” kata dia. Ismoyo pun menyontohkan, saat Bazda Bali mengadakan acara bakti sosial, termasuk dalam bentuk pemberian santunan dan bea siswa, semua pihak mendapat bagian. Ada sekitar 100 anak sekolah hingga mahasiswa dari kalangan duafa yang menerima bea siswa. Tidak hanya dari komunitas Muslim, tapi juga yang nonmuslim pun mulai ikut menerima bagian.

Manfaatkan Jejaring Sosial

Untuk menghimpun dana kaum muslimin, Ismoyo pun tak segan mengingatkan rekan-rekan sejawatnya melalui berbagai sarana komunikasi seperti jejaring sosial, facebook, hingga grup BBM. “Saudaraku yang dirahmati Allah, jangan lupa kepada yang sudah gajian agar menyisihkan sebagian untuk zakat profesi mauun zakat penghasilan sebesar 2,5%,” kata dia. Karena itu, dia sodorkan pula sejumlah nomor rekening resmi Bazda Denpasar.

Jika ada rekannya yang lupa atau tidak bisa menghiung berapa rupiah yang harus ditransfer untuk zakat maupun bentuk lainnya yaitu sedekah, Ismoyo pun berssedia membantu menghitungnya. Satu lagi organisasi yang dirintis dan dipimpinnya, Yaitu Forum Studi Islam Bali (Fosiba).

Dalam menjalankan organisasi maupun memimpin perusahaan, Ismoyo juga banyak belajar dan introspeksi. Dia tak marah terhadap bawahan yang terbukti melakukan pelanggaran kerja. Sebab, di balik kesalahan itu, pasti ada hikmah yang bisa diambil. Dengan cara demikian, Ismoyo mengaku dengan mudah bisa mengambil langkah tegas yang sama-sama bermanfaat bagi dirinya, maupun di mata karyawannya.

“Mengapa karyawan saya bisa melakukan pelanggaran seperti ini, apa mereka meniru saya? Sehingga bagi saya introspeksi ini bukan hal yang tabu untuk dilakukan,” ujar pria berkacamata minus ini.

Sikap eksklusif juga coba dia hindari. “Saya tidak setuju dengan gaya sukuisme. Sebisa mungkin jangan melakukan hal yang demikian,” kata da. Itu sebabnya alumnus Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu tidak mau dipanggil ustad. “Saya tidak memberi taushiah dan tidak ceramah. Mungkin itu bukan maqam saya. saya hanya berda’wah bil hal, da’wah dengan perilaku,” katanya.

Bentuk pembauran dengan masyarakat yang dia lakukan lainnya adalah aktif di bidang olahraga. Menurut dia, olah raga merupakan sarana yang paing mudah untuk bergaul dengan siapa saja. Agar bisa memberikan manfaat pada orang lain, Ismoyo pun ikut aktif di pengurus Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) di Denpasar. “Sebisa mungkin, saya akan memberikan teladan kepada sesame muslim utamanya yang muda dan juga non muslim,” tuturnya.

Berbaur

Langkah yang tepat agar bisa diterima ketika bergabung dalam organisasi maupun di lingkungan masyarakat, kata pria bertubuh gempal ini, adalah berbaur dan tanpa pandang bulu atau pilih-pilih teman. Jika semua dilakukan dengan niat baik, dia yakin, akan mempunyai banyak teman. Dan, teman yang baik itu bahkan bisa lebih dari saudara.

Dengan cara seperti, kata dia, di manapun tempatnya, dia yakin akan bisa diterima dan mendapat kemudahan. Tanpa menuntut dibuatkan musala sebagai tempat salat, jika sejak awal orang simpatik dan merasa mendapat banyak manfaat, maka orang pun akan dengan suka rela memberikan tempat.

Sikap itulah yang sejak kecil selalu ditanamkan oleh ayahnya. Yaitu setia kepada pekerjaan. “Ini pun insya Allah produk dari pendidikan Ayah pula. Jadi saya harus banyak berterima kasih kepada Ayah yang telah membesarkan dan mendidik saya menjadi seperti ini,” katanya.

Dia mengaku orang tuanya mendidik anak dengan sangat keras. Satu contoh saat dia menjadi ketua OSIS di SMA 9, Yogya, mendapat giliran memberikan sambutan pada acara pada perpisahan kakak kelas. Di situ bahasanya berlepotan. Di depan umum dirinya dijendol kepalanya oleh sang ayah sambil bilang, “Kenapa tidak dipersiapkan.”

Ismoyo masa kecilnya dihabiskan di kota Bandung hingga lulus SD. Lalu hijrah ke Yogyakarta hingga menamatkan kuliah. Untuk mengasah ilmunya, dia smepat mengambil Summer Course di Cornel University in Ithaca, New York USA, untuk jurusan Hotel Finance pada 1992. Sedanggkan gelar S2-ny diperolegh di bidang manajemen pariwisata I Universitas Udayana, Denpasar, tiga tahun lalu.

Seabrek pengalaman dia mengelola hotel dan vila. Awalnya menjadi manajer keuangan di Hotel Intan Bali, lalu mengelola Hotel Mutiara di Cilacap, Jawa Tengah selama setahun. Kembali ke Bali menjadi general manager di sebuah perusahaan agen perjalanan. Dan hingga sekarang mengelola Uma Sapna Villa, selain memiliki vila sendiri yang diberi nama The Ismaya Villa. (saksono)

BIODATA

Drs Ismoyo S. Soemarlan MPar

Tempat & tanggal lahir : Bandung, 22 Januari 1965

Status : Menikah dengan 5 anak

Pendidikan Formal

1983 – 1988 Jurusan Manajemen FE UII Yogayakrta

1992 Cornell University in Ithaca, New York - USA

Jurusan : Keuangan Perhotelan

2009 - 2011 S2 Manajemen Pariwisata Universitas Udayana Bali

Pengalaman Profesional

1990 – 1993 Accounting Manager Hotel Intan Bali, Seminyak, Bali

1993 – 1994 Manager Hotel Mutiara Cilacap, Jateng

1994 – 2001 General Manager Hotel Intan Legian, Kuta, Legian, Bali

2001 – 2003 Managing Director Wisata Sutra Tour & travel Denpasar - Bali

2003 – sekarang General Manager Uma Sapna Villa, Seminyak Bali

1994 - sekarang Pemilik Prasetia Collection

2011 - sekarang Direktur PT Uma Sejahtera Bersama

2011 - sekarang Pemilik The Ismaya Villa

Organisasi

2011 – 2015 Pendiri dan Penasehat Bali Villa Association

2006 – sekarang Pengurus PHRI Bali

2005 – sekarang Ketua Badan Amil, Zakat Daerah Kota Denpasar

2005 – sekarang Pengurus MUI Bali

2001- sekarang Pendiri & Ketua Forum Study Islam Bali

2008 – sekarang menjadi Polisi Kehormatan Polda Bali

2009- sekarang Team Consultasi & Promosi Bali Tourism Board

2009 – sekarang Penasehat Forum Komunikasi Alumni ESQ Bali

2009- sekarang Bendahara BP4 Bali

Ketua Divisi Promosi dan Marketing GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia) Bali

Pengalaman

Mengikuti Pameran nasional dan internasional seperti: PATA, ATF, Canada Expo, Moskwa Expo, Australian Road Show, Singapura, dll.

Related posts