Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Belum Tembus 7% - Kebocoran Anggaran Jadi Penghambat

NERACA

Jakarta--- Banyaknya kebocoran anggaran APBN dituding sebagai salah satu penyebab tak mampunya Indonesia menembus pertumbuhan ekonomi sekitar 7%. Alasannya belanja APBN juga belum maksimal. “Belanja APBN belum maksimal mendorong growth and equity karena banyak kebocoran di semua lini," kata Pengamat ekonomi Drajad Wibowo kepada wartawan di Jakarta,7/8.

Lebih jauh Drajad menyarankan perlu ada reformasi dan efisiensi belanja negara. Karena selain adanya kebocoran anggaran, ternya perlu juga membuat perubahan rezim APBN. “Harus ada perubahan radikal dalam rezim belanja APBN," tambahnya.

Menurut peneliti Indef ini menilai pertumbuhan yang dicapai Indonesia sebesar 6,5% selama 2 kuartal berturut dalam tahun ini memang masih dalam kisaran dalam APBN-P 2011, yaitu 6,4%. "Pertumbuhan tersebut masih moving-in-a-range masih bergerak dalam selang sesuai ekspektasi. Dia tidak anjlok ke batas bawah, tapi juga tidak menembus batas atas 7%. Karakteristik growth juga masih sesuai kebiasaan," ungkapnya.

Dikatakan Drajad, ada 2 hal yang perlu dilakukan agar pertumbuhan ekonomi tanah air bisa meroket menembus 7% atau paling tidak bisa mencapai target hingga tahun 2014, yaitu 7%. Pertama, menjaga investasi pada kisaran 10%-15%. "Kalau kita ingin meningkatkan kualitas growth, Pertama, usahakan agar pertumbuhan kita menjadi investment-led growth. Kedua, investasi harus dijaga minimal 10%-15%. Sekarang ini masih single digit," tuturnya.

Sebelumnya, Deputi Neraca dan Analisis BPS Slamet Sutomo mengakui pertumbuhan ekonomi di akhir 2011 diprediksi belum akan mampu menyentuh angka 7%. Alasanya saat ini kondisi PDB per kapita baru kisaran USD3.500-USD3.600, maka pertumbuhan ekonomi sampai dengan akhir tahun ini dapat mencapai sekira 6,7%. "Jadi kalau dikaitkan apa bisa 7%, kalau kita bisa jaga itu mungkin saja. Tapi mungkin 2012. Kalau sekarang dia rata-rata masih 6,48% jadi untuk mencapai tujuh persen juga masih agak berat," jelasnya

Selain itu, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 6,7% harus didukung dengan industri yang membaik sehingga bisa menjadi driver untuk meningkatkan perekonomian. "Tapi paling tidak kalau capital formation di atas 30% itu driver PE," tambahnya.

Dengan bergeraknya roda perindustrian, lanjutnya, maka akan terjadi multiplier effect pada eskpor-impor di Indonesia, karenannya langkah pemerintah melarang ekspor SDA dinilai sudah tepat. "Jangan ekspor SDA saja tanpa memberi efek ke ekonomi domestik. Jadi kalau kita bisa buat sisi industri naik. Jadi jangan ekspor ikan mentah, kalau bisa ada industri pengolahan ikan dalam negeri. Itu akan sangat membangun," urainya.

Ditambahkannya, kondisi ini juga didorong oleh masuknya capital formation walaupun short term. "Pemerintah harus menjaga agar capital inflow bisa diantisipasi supaya jangan terlalu banyak inflow yang short term," tandasnya.

Kepala BPS, Rusman Heriawan juga mengatakan, secara nominal, pertumbuhan ekonomi 6,5% (yoy) ini mencapai Rp 1.811,1 triliun. Lebih tinggi dari triwulan I-2011 yang sebesar 1.738,2 triliun. Sebab originalnya pertumbuhan ekonomi di triwulan I-2011 adalah 6,47%, dan di triwulan II-2011 adalah 6,49%. "Jika digabung semester I-2011 maka PDB nominal kita adalah Rp 3.549 triliun. Semester II diperkirakan lebih tinggi sehingga perkiraan kami PDB nominal bisa Rp 7.400 triliun," tuturnya.

Dikatakan Rusman, pertumbuhan per kapita Indonesia di 2011 bisa mencapai US$ 3.500-3.600 apabila nilai tukar rupiah adalah Rp 8.600/US$. Sepanjang triwulan II-2011 pertumbuhan ekonomi masih ditopang sektor konsumsi yang tumbuh 4,6%, lalu belanja pemerintah 4,5%, investasi 9,2%, ekspor 17,4% , dan impor 16%. **cahyo

Related posts