Ganti Cadangan Devisa Dengan Emas

Kurangi Simpanan Dolar

Senin, 08/08/2011

Kurangi Simpanan Dolar

Ganti Cadangan Devisa Dengan Emas

Jakarta----Pemerintah didesak segera mengurangi cadangan devisa dalam bentuk dolar AS. Bahkan perlu dipertimbangkan mengganti dengan emas. Alasanya pasca penurunan bunga kredit AS menjadi "AA+" diperkirakan Indonesia terimbas kerugian.

"AS menjalankan perekonomiannya dengan banyak menerbitkan surat utang. Nah, surat- utang inilah yang sering dibeli negara lain,termasuk bank sentral. Salah satunya Indonesia yang menggunakan cadangan devisanya untuk membeli tress ribbon AS," kata Pengamat Ekonomi Farial Anwar kepada wartawan di Jakarta,7/8

Menurut Farial, pasca turunnya peringkat utang AS oleh Standars and Poors (S&P) dari "AAA" menjadi "AA+". Banyak negara mengurangi surat utang AS. Alasanya suku bunganya kecil dan nilai tukar dolar (AS) menurun. "Negara-negara lain yang lebih pintar seperti China sudah mulai mengurangi dan sekarang memegang sedikit sekali surat utang AS,” tambahnya.

Yang jelas, kata Farial, banyak negara menilai surat utang AS sudah tak ada harganya lagi. Karena itu beberapa negara mengganti cadangan devisanya dengan Euro dan emas. “

Mereka melihat tak ada gunanya lagi memegang surat utang AS. Karena bunganya hanya 0,25%, belum lagi nilai tukar dolar (AS) yang terus menurun khususnya terhadap Euro.

Banyak negara yang akhirnya menyimpan devisa mereka dalam Euro dan yang paling aman emas, kita belum," jelasnya.

Sementara itu, Pengamat ekonomi Universitas Atma Jaya A Prasetyantoko menilai, masih ada risiko-risiko yang perlu diantisipasi jika sentimen global ini terus memburuk.

“Pemerintah perlu memikirkan instrument apa yang bisa digunakan jika pasar modal yang terguncang karena instrumennya belum ada,” ujarnya

Menurut Prasetyantoko, potensi terjadinya sudden reversal cukup terbuka. Alasannya, jika kondisi di Amerika Serikat makin memburuk dan investor menarik seluruh modalnya, termasuk yang ditanamkan di negara berkembang, maka akan terjadi pembalikan arus modal secara besar-besaran.

Ketua LPPM Unika Atmajaya ini menambahkan untuk mengantisipasi ini pemerintah sudah memiliki instrumen untuk buy back. Selain itu, yang perlu diantisipasi adalah nilai tukar mata uang rupiah yang dimungkinkan tergerus dan melemah jika terjadi sudden reversal. “Bank Indonesia harus sterilisasi agar tidak terlalu lemah,” tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa meminta pelaku ekonomi dan pelaku pasar dalam negeri tidak panik menanggapi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta kondisi ekonomi di Amerika Serikat yang dikhawatirkan berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia.

Hatta meyakini kondisi ekonomi nasional masih cukup kuat. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah siap mempergunakan instrument-instrumen yang ada. “Kita punya bantalan yang cukup, kalau terjadi sesuatu. Bahkan cadangan devisa kita yang sudah USD120 miliar juga ada. Jadi tidak ada sesuatu yang harus kita khawatirkan,” ucapnya

Lebih jauh kata Hatta, modal asing yang masuk ke instrument jangka pendek seperti Surat Utang Negara (SUN) yang saat ini kepemilikan asingnya sudah mencapai 35 persen, perlu dicermati. Dia lebih mendorong agar perusahaan-perusahaan pelat merah melakukan penawaran saham perdana atau IPO.

Menurut Hatta, yang terpenting bagi Indonesia adalah memanfaatkan capital inflow agar tidak hanya terjebak pada portfolio atau pasar modal saja. Derasnya arus modal asing perlu terus menerus diarahkan ke jangka menengah.

Turunnya rating AS oleh S&P, menyebabkan “Cost of money yang harus dikeluarkan pemerintah AS, sekitar 0,67% atau tambahan sekitar beberapa ratus miliar dolar terhadap obligasinya. Dan itu tentu cukup membebani bagi ekonomi AS. Dari sisi itu, dan tentu apa ya semakin mempengaruhi perekonomian AS,” tandasnya. **cahyo