Ekonomi AS Patut Jadi Pelajaran

Ketika DPR Amerika Serikat melakukan pemungutan suara yang berakhir menyepakati paket batas utang baru untuk menghindari kebangkrutan pemerintah federal, kita melihat adanya suatu harmoni antara presiden dan anggota dewan di negeri Paman Sam itu. Bagaimanapun, ini suatu upaya positif untuk menghindarkan negara super power itu dari situasi gagal bayar.

Akhirnya Senat menyetujui paket tersebut menjadi sebuah undang-undang. UU ini nantinya akan menambah plafon utang pemerintah AS sebanyak US$2,4 triliun atau sekitar Rp 20.200 triliun. Sebelumnya batas tertinggi utang AS dipatok pada US$ 14,3 triliun atau setara Rp 120.900 triliun.

Walau terjadi perdebatan seru antara dua kubu politik di Washington, antara Partai Demokrat dan Republik selama beberapa pekan ini telah menyedot perhatian dunia, kita harus mengakui, segala sesuatu yang terjadi pada Amerika Serikat akan berdampak global. Kita masih ingat ketika krisis kredit perumahan melanda Amerika dan sempat merambat menjadi krisis keuangan global. Sekarang pun, dunia dihadapkan pada ”pertunjukan” yang tidak menarik. Jika AS sampai mengalami kebangkrutan, dampaknya bukan lagi krisis global, melainkan kekacauan ekonomi global secara masif.

Di negeri Paman Sam sendiri, krisis keuangan itu telah menyentuh sendi-sendi politik. Pada tataran praktis, apabila AS mengalami default atau gagal bayar utang, negeri itu bahkan tidak akan mampu membiayai pelaksanaan pemilihan presiden pada 2014.

Dapat dibayangkan, dampak dari sisi politik tersebut bakal berupa spiral kegagalan politik yang bisa berujung pada sebuah jalan buntu. Sebagai pemain utama dalam percaturan politik global, dampak politik dari kegagalan menangani krisis ini sesungguhnya sama dahsyatnya dengan dampak yang terjadi pada sektor ekonomi.

Makna pelajaran penting apa yang dapat dipetik dari pengalaman Amerika? Bagi kita, sekali lagi semua itu menegaskan, globalisasi adalah madu sekaligus racun bagi penghuni bumi sekitarnya. Dengan globalisasi, dunia menjadi semakin kecil dan terintegrasi sehingga memungkinkan kita memperbaiki kualitas hidup.

Namun globalisasi menuntut kekuatan fundamendal domestik agar entitas negara-bangsa tidak mudah terseret dalam pusaran kapital global. Ketika krisis keuangan AS pada 2008 melanda, kekuatan pasar domestik terbukti tangguh membentengi diri dari hantaman krisis. Contohnya, ekonomi Indonesia tetap tumbuh dan stabil saat itu.

Kematangan demokrasi di Washington juga menjadi catatan khusus. Karena melalui delapan bulan perdebatan dan negosiasi yang melelahkan, DPR AS berhasil meloloskan paket kenaikan pagu utang. Walau parlemen dikuasai kubu Republik, politik bipartisan diterapkan secara elegan menjelang tenggat batas waktu 2 Agustus agar negeri itu terhindar dari kehabisan dana tunai untuk menjalankan operasional pemerintahannya. Padahal, krisis ini dapat ”dikemas” menjadi bola politik yang panas untuk meraih tujuan partai sepihak.

Kompromi bersejarah antara Demokrat dan Republik dalam persoalan ini tidak terlepas dari kuatnya figur kepemimpinan Presiden Barack Obama. Politik bipartisan, kematangan demokrasi, dan kepemimpinan yang kuat, telah menghasilkan suatu momentum untuk penyelesaian krisis yang sebelumnya tampak sulit mencari titik temu.

Krisis keuangan AS ini paling tidak mengingatkan kita pada krisis 1998 karena faktor kemiripannya, yaitu sama-sama mengalami krisis APBN. Belajar dari Washington, Indonesia sebetulnya harus optimistis mengatasi berbagai krisis dengan memadukan ketiga faktor itu. Semoga!

Related posts