Sertifikasi Manajer Investasi

Jumat, 05/08/2011

Oleh : Firdaus Baderi

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Menjadi manajer investasi (MI) profesional setidaknya pernah mengikuti pelatihan sertifikasi wakil MI yang merupakan program pendidikan terstruktur, yang diselenggarakan dengan tujuan utama untuk meningkatkan kualitas pengetahuan, serta kecakapan teknis seseorang agar menjadi praktisi pasar modal yang handal.

Secara khusus, program ini bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan bagi pialang dalam mempersiapkan ujian sertifikasi pasar modal, yang dilaksanakan bekerjasama dengan panitia standar profesi pasal modal. Harapannya, tentu calon MI akan memiliki bekal yang cukup untuk menjadi seorang praktisi pasar modal yang kredibel di mata publik.

Namun saat Bapepam-LK menyatakan siap melakukan ”pembersihan” atas kontrak bilateral dari 80 MI yang mengurus 1.000 kontrak pengelolaan dana (KPD) senilai Rp 54 triliun, berita ini terasa seperti petir di siang bolong. Ini tentu saja menimbulkan pertanyaan apa ada yang salah dalam silabus pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan selama ini. Bukankah Bapepam-LK turut andil memberikan materi pelatihan untuk mendidik MI profesional, dan bertanggung jawab?

Tak dapat disangkal bahwa program pelatihan MI kemungkinan besar kurang memperhatikan sisi perilaku dan moral hazard yang setiap saat bisa datang menggoda integritas sang MI. Jadi ada kesan program pelatihan yang dilakukan sejauh ini belum pas dengan kebutuhan penilaian pelatihan (training need assessment). Padahal, hal ini merupakan langkah strategis untuk mengetahui program pelatihan yang tepat bagi organisasi dan peserta pelatihan.

Mungkin saja aktivitas pelatihan yang diberikan selama ini dianggap sebagai “training for training’s sake” dan “doing comfortable things” , yaitu pelatihan yang diterima calon manajer investasi tidak sesuai secara kontekstual. Divisi pelatihan dan pengembangan yang aktivitasnya diperlukan untuk terjadinya suatu perubahan belum mampu sepenuhnya merealisasi tujuan yang hendak dicapai saat ini.

Pelatihan pada hakikatnya merupakan usaha organisasi mengembangkan kompetensi anggota organisasi dalam melakukan aktivitas pekerjaan, yang tidak dapat diselenggarakan terpisah dari perencanaan bisnis strategik. Selain dapat menghasilkan sertifikasi kompetensi dan efektivitas unit operasional, pelatihan diharapkan pula dapat menghadapi realitas dan tantangan organisasi di masa yang akan datang.

Karena itu, organisasi lembaga pelatihan MI perlu mengetahui value yang akan diperoleh dari program pelatihan. Nilai yang dihasilkan dari para peserta, sejatinya mencakup aspek moralitas MI yang menjunjung tinggi azas transparansi, akuntabilitas dan keterbukaan dengan pemilik dana, supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam praktik kesehariannya. Seringkali dijumpai adanya ketidakmampuan dalam kegiatan bisnis yang disebabkan bukan karena pengetahuan MI yang tidak memadai akan tetapi disebabkan oleh kondisi lain.

Kinerja buruk ini dapat terjadi antara lain karena kurangnya umpan balik, kurang motivasi, tugas yang tidak jelas, dan mungkin juga karena sanksi yang diberikan. Untuk itu Bapepam-LK selaku pengawas pasar modal, jangan ragu bertindak tegas terhadap komponen bursa termasuk manajer investasi yang tidak kapabel, di samping membenahi program sertifikasi MI untuk lebih ditingkatkan lagi.