Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 6,52%

Semester II Diprediksi Naik 0,02%

Jumat, 05/08/2011

NERACA

Jakarta---Melesatnya pertumbuhan sector industri transportasi, telekomunikasi dan meningkatnya ekspor membuat ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 6,52% pada kuartal II-2011. "Prediksi PDB kuartal II tahun ini 6,52% lebih tinggi dari kuartal I yang sebesar 6,5%," kata Ekonom Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Kamis (4/8)

Menurut peneliti Danareksa Research Institute ini, beberapa sektor yang mendorong pertumbuhan pada kuartal II antara lain sektor transportasi dan komunikasi yang menyumbang sekitar 13,2%, jasa dan perdagangan 8%, keuangan 7%, manufaktur 4,9%, dan pertanian 4,1%. “Sedangkan sektor konsumsi tumbuh sekitar 4,7% lebih tinggi dari kuartal I tahun ini yang sebesar 4,5%. Kontribusi konsumsi masyarakat masih dominan," tambahnya.

Lebih jauh kata Purbaya, sementara belanja pemerintah pada kuartal II 2011 akan lebih baik dibandingkan kuartal I tahun 2011. Pertumbuhan ekspor meningkat pesat, bahkan bisa mencapai double digit. Namun, investasi masih lambat, karena selama ini belum ada faktor yang memberikan daya tarik kepada investor untuk masuk. "Salah satunya adalah soal dukungan infrastruktur," ungkapnya.

Dengan demikian, Purbaya memperkirakan pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun berada pada kisaran 6,4% atau di bawah target dalam APBN-P 2011, sebesar 6,5%.

"Hingga akhir 2011, pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih sekitar 6,4%, lebih rendah dari target yang dipatok pemerintah sebesar 6,5%. Karena walaupun ada harapan ekonomi domestik akan tumbuh lebih cepat, tapi ada risiko perlambatan ekonomi global. Meski tumbuh, ekonomi global tidak bisa tumbuh secepat yang diperkirakan," katanya.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono juga memprediksikan pada kuartal II-2011 ini pertumbuhan ekonomi masih berada di 6,5%. Pertumbuhan ekonomi baru akan naik di kuartal III-2011 hingga 6,6%. "Pertumbuhan ekonomi RI ini ditopang dari net ekspor dan investasi," jelasnya.

Terkait dengan inflasi, berdasarkan penelitian Bank Indonesia (BI), menunjukkan indeks keyakinan konsumen semakin menguat, meskipun disertai dengan meningkatnya tekanan inflasi ke depan. Menunjukkan masyarakat tak khawatir dengan inflasi yang terus naik.

Survei konsumen Bank Indonesia juga mengungkapkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2011 semakin meningkat ke level 111,8, lebih tinggi 2,8 poin dari bulan sebelumnya. Menguatnya indeks keyakinan konsumen tersebut terutama didorong oleh kondisi ekonomi saat ini dan perkiraan kondisi ekonomi pada 6 bulan mendatang yang semakin membaik. Survei juga ditandai dengan indeks kondisi ekonomi saat ini yang berada pada level optimis

Tekanan kenaikan harga barang/jasa pada 3 bulan mendatang (Oktober 2011) dan 6 bulan mendatang (Januari 2012) diperkirakan akan semakin meningkat. Indeks ekpektasi harga 3 bulan dan 6 bulan mendatang masing-masing mencapai level 186,6 dan 181,3, level indeks tertinggi selama 3 tahun terakhir.

Beberapa penyebab tingginya ekpektasi kenaikan harga tersebut antara lain terbatasnya ketersediaan barang-barang kebutuhan pokok dan kekhawatiran akan terjadinya pencabutan subsidi Pemerintah terhadap harga energi (BBM dan gas LPG) dan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL).

Peningkatan keyakinan konsumen tersebut terutama terjadi pada kelompok responden dengan tingkat pengeluaran kurang dari Rp 5 juta perbulan dan memiliki latar belakang pendidikan sarjana atau lebih rendah, sebaliknya optimisme pada kelompok responden dengan tingkat pengeluaran lebih dari Rp 5 juta perbulan dan berpendidikan pasca sarjana semakin menurun.

Meningkatnya indeks keyakinan konsumen terjadi pada 9 kota dari 18 kota yang disurvei, dengan kenaikan tertinggi pada kota Samarinda, diikuti oleh kota Semarang dan Denpasar. **cahyo