Bus Listrik Lokal Belum Layak Produksi Massal - Sektor Otomotif

NERACA

Jakarta - Bus listrik yang dibuat Dasep Ahmadi hingga saat ini masih belum mendapatkan izin jalan dan produksi massal. Pemerintah beralasan masih ada syarat yang harus dipenuhi kendaraan itu sebelum bisa dapat izin-izin tersebut.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Gusti Muhammad Hatta mengatakan, syarat kendaraan untuk bisa diproduksi massal adalah jika tingkat kelaikannya mencapai level 9, sementara bus listrik buatan Dasep itu masih berada di level 7. "Bus listrik itu ada 9 level jadi kalau sudah level 9 baru bisa diproduksi massal, yang ada di tempat kita itu sudah level 7 jadi kita ujicoba di tempat sebenarnya," katanya di Jakarta (27/3).

Gusti menambahkan, uji coba sedang terus dilakukan terhadap bus tersebut. Tujuannya supaya bus tersebut bisa memperbaiki segala kekurangan dan naik level kelaikan. "Jadi harapan kita jangan ada yang mengawal, jadi kalau dia mogok ya biar mogok ketahuan, kalau dia nanjak ada macet nggak, kalau lagi padat dia berhenti dan nggak nyala nggak jadi supaya ketahuan seperti itu. Nah, kalau dia lolos naik ke level 8," tambahnya.

Menristek sendiri mengaku tidak bisa menjanjikan produksi massal bus listrik ini dalam waktu dekat, pihaknya menyatakan bahwa proses produksi bus itu diharapkan sudah dimulai pada tahun 2016. "Harapan kita 2016 sudah harus diproduksi, yang harusnya produksi perusahaan bukan Ristek, kita tugasnya meneliti saja. Terserah siapa saja yang mau terserah perusahaan Anda sendiri boleh bebas perusahaan mana saja," imbuhnya.

Disisi lain, masyarakat bisa menikmati dan membeli mobil listrik mulai tahun 2014. Pasalnya pemilik PT Sarimas Ahmadi Pratama, Dasep Ahmadi. Dasep menuturkan, tahap awal pihaknya akan memproduksi secara massal mobil listrik jenis executive bus dengan kapasitas 17 penumpang. "Di 2014 masyarakat bisa menggunakan mobil listrik asli buatan Indonesia," ucap Dasep.

Saat ini pihaknya telah menunggu hasil penyempurnaan 3 purwa rupa atau prototype mobil listrik tipe city car, executive MPV dan executive bus. Ke-3 tipe ini telah menjalani uji sertifikasi di Kementerian Perhubungan. Dasep menuturkan dari ke-3 mobil itu, mobil tipe executive bus yang paling siap diproduksi massal. "Executive bus yang kapasitas 17 penumpang, itu yang lebih duluan diproduksi," jelasnya.

Untuk proses produksi ini, pihaknya bakal menggandeng investor. Diakuinya sudah ada investor yang menjajaki untuk bekerjasama dengan PT Sarimas Ahmadi Pratama. "Kita sedang cari mitra yang tertarik bagi mereka yang tertarik," sebutnya.

Nantinya mobil listrik produksnya akan banyak menggunakan komponen yang dibuat di dalam negeri. Termasuk komponen penting seperti baterai dan motor. "Kita kan sedang pengembangan komponen misalkan baterai. Itu sudah bikin tapi yang elektronik masih banyak dari luar. Kalau motor masih dari luar tapi mau dikembangkan di dalam negeri," terangnya.

Namun Dasep enggan menyebut berapa harga per unit untuk setiap tipe mobil listrik yang bakal dijual dan meramaikan jalanan Indonesia kelak. "Kalau harga belum. Kan harga prototype dan produksi beda," katanya.

BERITA TERKAIT

Belum Seutuhnya Merdeka

Oleh: Dhenny Yuartha Junifta Peneliti INDEF Sudah 72 tahun Republik ini memproklamasikan diri sebagai negara merdeka. Namun, seiring nafas perubahan…

Menperin Pacu Kolaborasi Pengembangan Sektor Industri - Jelang 60 Tahun RI-Jepang

NERACA Jakarta – Hampir enam dekade, Indonesia dan Jepang menjadi mitra strategis dalam upaya pembangunan ekonomi kedua negara. Oleh karena…

Produksi Lele Bioflok Sokong Suplai Pangan Berbasis Ikan

NERACA Sleman- Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Penanaman Modal di Sektor Riil - Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

Mencari Alternatif Langkah Penyelamatan Perusahaan Negara

NERACA Jakarta - Rencana pemerintah membentuk induk perusahaan (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus mendapat kritik dari sejumlah akademisi…

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Gencarkan Implementasi Program e-Smart IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) kembali menggelar Workshop e-Smart IKM…