Produsen Mobil Harus Gunakan Aluminium Lokal

Penerapan UU Minerba No. 4/2009

Jumat, 28/03/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian MS Hidayat menyebut penerapan UU Minerba tidak mempengaruhi kinerja industri otomotif. Pembatasan ekspor tambang mentah seperti aluminium justru bisa membuat produsen mobil asal Jepang untuk menggunakan produk aluminium dalam negeri. "Saya mendapat kepastian dari produsen otomotif di Jepang yang akan menggunakan kebutuhan aluminium maupun baja dari Posco," ucap Hidayat di Jakarta, Kamis (27/3).

Menurut Hidayat, produsen mobil asal Jepang sudah mengerti keinginan pemerintah untuk memanfaatkan hasil tambang dalam negeri sendiri. Biasanya produsen mobil ini menggunakan aluminium impor.

Tidak hanya itu, penerapan UU Minerba No 4 Tahun 2009 tersebut juga akan membuat Indonesia lebih maju. Indonesia akan mampu mengolah aluminium menjadi alumina kemudian menjadi bauksit dan selanjutnya akan menjadi bahan baku pembuatan mobil.

"Kalau aluminium, sekarang sedang memproses agar aluminium jadi alumina itu diproses secara intensif di dalam negeri. Karena sekarang alumina kita mengimpor dari Australia. Jadi kita mau tata kembali supaya alur produksi itu dilakukan di Indonesia," tuturnya.

Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi meyakini Indonesia mampu menjadi salah satu eksportir otomotif terkuat di dunia. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya investor otomotif, terutama asal Jepang‪ yang membangun pabrik dan memproduksi kendaraan roda empat di Indonesia.

"Kelas menengah kita yang maju, ini akan menjadi bukti bahwa Indonesia akan jadi basis industri otomotif regional dan internasional. Jadi, kita ini akan mengekspor otomotif yang terkuat dan terbaik bukan hanya pasar dalam negeri, tapi pasar ASEAN bahkan dunia," ujarnya.

Satu contohnya pabrikan otomotif asal Jepang, Toyota yang tengah sedang gencar menambah kapasitas produksinya di Indonesia. "Seperti hari ini Toyota akan ekspor antara 108 ribu-136 ribu unit dan akan double menjadi 236 ribu unit pada 2016. Angka ekspornya pada 2016 diperkirakan US$ 3,1 miliar. Daihatsu triple dengan hampir 580 ribu unit, Suzuki double, Nissan double. Ini yang akan menjadi basisnya," tutur dia.

Selain itu, penggunaan aluminium ingot, yang merupakan bahan dasar untuk membuat blok mesin kendaraan mulai banyak diserap di dalam negeri. Padahal sebelumnya banyak diekspor ke Jepang. "Aluminium ingot kita ekspor dari Asahan, tadinya 285 ribu ton ke Jepang, itu sekarang 90% diserap di Indonesia, untuk dibikin engine block. Apalagi nanti yang akan menjadi tren produk itu adalah produk dari nikel, dipake unutk stainless stell. Nanti kita lihat dalam 28-48 bulan ke depan akan ada industri baru di Indonesia," tutur dia.

Lutfi juga mengatakan, dengan semakin banyaknya produk otomotif yang diekspor keluar negeri, diharapkan mampu mengimbangi impor otomotif Indonesia. "(Untuk Toyota saja) Impor sebesar US$ 2,4 miliar tetapi hampir US$ 700 juta akan surplus, itu hanya dari Toyota, yang angkanya hampir sama dengan Daihatsu. Daihatsu itu sendiri angka production capacity setelah 2016 nanti angkanya lebih besar daripada kapasitas Jepang itu sendiri," tandas dia.

Sekedar informasi, Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki industri aluminium dan berbiaya rendah di dunia, serta memiliki bahan baku dasar aluminium, bauksit, yang melimpah. Ironinya, untuk menutup kebutuhan aluminium nasional, Indonesia masih harus terus mengimpor.

Setiap hari jutaan minuman ringan (soft drink) dikemas dalam kaleng berbahan aluminium di seluruh dunia. Miliaran produk makanan, termasuk susu, farmasi, dan rokok, dan lainnya, dikemas dalam lembaran aluminium tipis (aluminium foil), agar terlindung dan kualitasnya terjaga. Logam teringan ini pun amat dibutuhkan bagi industri kabel bertegangan tinggi,peralatan rumah tangga, dan konstruksi. Industri dirgantara pun telah menggunakan aluminium untuk frame jendela dan pintu pesawat, yang memanfaatkan sifat ringan dan kuatnya.

Lalu industri otomotif menggunakan komponen aluminium dalam pembuatan kendaraan, karena mampu mereduksi bobot mobil hingga 40 %. Dengan bobot yang lebih ringan, konsumsi bahan bakar kendaraan pun berkurang hingga 10 % alias lebih irit. Hasil penelitian yang dilakukan University of Aachen, Jerman dan European Aluminium Association menyimpulkan, bahan aluminium yang digunakan di beberapa bagian kendaraan dianggap lebih baik dibanding bila menggunakan baja berkekuatan tinggi.

Bahkan selama beratus tahun, aluminium (al) menjadi logam yang luas penggunaannya setelah baja, karena sifat-sifatnya, yang ringan, tahan korosi, kekuatan, mudah dipadukan, mudah diproduksi, dan ekonomis. Terpenting lagi, aluminium ramah lingkungan, karena mudah di daur ulang, tanpa mengalami sedikitpun kehilangan kualitas.

Proses daur ulang tidak mengubah struktur aluminium, dan dapat dilakukan berkali-kali tanpa mengalami sedikit pun kehilangan kualitas. Mendaur ulang aluminium hanya mengkonsumsi energi sebesar 5% dari yang digunakan dalam memproduksi aluminium dari bahan tambang.

Di Eropa, terutama negara Skandinavia, 95% aluminium yang beredar merupakan bahan hasil daur ulang. Tidak mengherankan, bagi pengepul limbah industri, mereka lebih cenderung menganjurkan pemulung untuk memburu limbah yang terbuat dari bahan aluminium, dan berani membeli dengan harga tinggi.