Macet itu Tidak Sehat

Jumat, 28/03/2014

Oleh : Kencana Sari

Peneliti Balitbangkes Kemenkes

Perubahan lingkungan yang drastis dewasa ini, mengubah hubungan antara manusia dan ekosistem di mana mereka hidup. Dengan mengetahui hubungan antara lingkungan dan gizi lebih mendalam diharapkan dapat memberi arah untuk menangani masalah gizi terkait lingkungan di Indonesia.

Sebuah studi menunjukkan bahwa mengendarai mobil di perkotaan, memicu timbulnya stress dan menurunnya kesehatan. Bisa dibayangkan kehidupan di Jakarta yang penuh dengan kemacetan dimana seseorang memungkinkan menghabiskan waktu lebih dari 4 jam dalam kendaraan setiap harinya. Kemacetan yang menggila membuat orang kadang menjadi “gila”.

Lama waktu berkendara dalam sehari juga berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas. Setiap pertambahan satu jam dalam perjalanan di mobil berhubungan dengan peningkatan kecenderungan obesitas sebesar 6%. Belum lagi pekerjaan yang menanti di kantor, memenuhi hari kita dengan bentuk stress yang lain. Manajer pada level menengah merupakan kelompok yang menghadapi stres paling besar dibanding level lainnya karena tekanan dari atas dan keinginan tertentu dari bawah.

Penelitian dalam jurnal Pshycosial Science menunjukkan bahwa bagaimana kita mengelola emosi kita setiap harinya berpengaruh terhadap kesehatan mental kita. Dalam jangka panjang, tidak hanya berdampak terhadap kesehatan mental tetapi juga peningkatan risiko penyakit kronis, dehidrasi, bahkan tak jarang mengganggu kehidupan biologis suami istri.

Kemacetan, di perkotaan terutama seolah merupakan hal yang tidak terhindarkan. Masyarakat pun seolah pasrah menyerahkan waktu setiap harinya di jalanan. Moda transportasi lain tak bisa disebut layak. Jumlah timbal yang masuk jika menggunakan trasportasi umum juga meracuni tubuh kita. Tak heran jika kita menggunakan trasportasi umum kepala terasa pening dan tubuh lelah akibat polusi udara yang terhisap.

Di sisi lain pertumbuhan ekonomi yang maju, urbanisasi dan modernisasi, karakteristik lingkungan yang unik, multi-etnis multi-budaya, mendorong metamorfosis lingkungan fisik, sosial, budaya menciptakan gaya hidup dan pola konsumsi yang baru. Sayangnya kebanyakan tergolong tidak sehat yaitu sedentary lifestyle dan konsumsi tinggi kalori lemak dan rendah serat. Padahal menjaga kesehatan dengan beraktifitas fisik dan makanan yang sehat sangat penting dalam menjaga stamina tubuh. Risiko kita untuk menjadi “sakit” berlipat ganda. Sudahnya berhadapan dengan macet terus ditambah gaya hidup dan konsumsi yang tidak sehat.

Bagi setiap individu sangat penting untuk mengubah cara kita merespon stress dan menterjemahkan siatuasi apa yang membuat kita stress, sama pentingnya dengan menjaga gaya hidup aktif dan konsumsi yang sehat. Perencanaan tata kota yang sudah pernah dilakukan berpuluh tahun lalu hendaknya diangkat lagi dan disesuaikan dengan dinamika yang akan terjadi berpuluh atau beratus tahun yang akan datang. Di Afrika saja, walaupun banyak lahan yang masih kosong belum berpenghuni namun sudah di tata sedemikian rupa, terkotak-kotak seperti di negara maju.

Indonesia yang diyakini akan menjadi salah satu negara dengan tingkat perekonomian yang baik harusnya tidak kalah. Jadi pemerintah baiknya menata juga daerah yang yang masih sepi bahkan terpencil sebelum berkembanganya daerah tersebut, tak terkecuali di semua daerah. Memberi mandat dari pusat dan mengesampingkan sedikit adanya desentralisasi. Memberi opsi apa yang bisa dilakukan oleh daerah tetapi disesuaikan dengan kemampuan masing-masing daerah.