Meski Harga Naik, Pasokan Cabai Dinilai Aman

Sejumlah Daerah Panen Raya

Jumat, 28/03/2014

NERACA

Jakarta – Meski harga cabai di beberapa daerah mengalami kenaikan, namun Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menilai pasokan cabai aman. Pasalnya beberapa daerah sentra produksi cabai seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat (NTB) akan memasuki panen raya hingga satu bulan ke depan.

“Bahkan, untuk pasokan cabai di Pasar Induk Kramat Jati pada 25 Maret 2014 telah mencapai 171 ton atau naik sebesar 1,18% bila dibandingkan dengan pasokan sehari sebelumnya yang sebesaar 169 ton. Pasokan tersebut berada pada posisi normal yaitu berkisaran antara 150-200 ton perhari,” ungkap Mendag dalam kunjungan kerjanya di Boyolali, Jawa Tengah, kemarin.

Seperti diketahui, harga cabai di beberapa pasar telah mengalami kenaikan. Seperti di Pasar Induk Jambu Dua, Bogor. Harga cabai rawit merah naik hingga mencapai Rp 90 ribu per kilogram. Tak hanya rawit merah, harga cabai merah keriting juga naik hingga Rp 8.000 menjadi Rp 36 ribu rupiah per kg. Sementara di Pasar Induk Gadang, Malang.

Harga cabai rawit yang sebelumnya Rp15 ribu-20 ribu per kilogram menjadi hingga Rp70 ribu per kilogram. Dan di Pasar Anyar Buleleng, Bali terpantau harga cabai mengalami kenaikan dari sebelumnya seharga Rp60 ribu per kilogram, kini telah menjadi Rp80 ribu per kilogram.

Lutfi mengatakan kenaikan harga cabai belakangan ini terjadi karena minimnya pasokan dari daerah sentra produksi. “Kenaikan harga cabai rawit merah disebabkan minimnya pasokan dari daerah sentra produksi. Pasokan ke Pasar Induk Kramat Jati saat ini hanya mencapai sekitar 3% atau sekitar lima ton perhari dari total pasokan (pasokan normal biasanya 6% dari total pasokan),” ujar Mendag.

Namun demikian, sambung Lutfi, pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan cabai karena sifatnya yang mudah berubah dan intensitasnya yang sering memberikan andil terhadap inflasi nasional. Untuk itu, kecukupan pasokan ke pasar harus terjaga kontinuitasnya guna menjaga tingkat margin yang wajar bagi petani, serta stabilitas harga di tingkat konsumen.

Preferensi masyarakat yang lebih memilih cabai segar secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap tingginya tingkat permintaan masyarakat dan elastisitas komoditas cabai. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam dua bulan terakhir, baik cabai rawit maupun cabai merah memberikan andil terhadap inflasi. Pada bulan Januari 2014 cabai rawit dan cabai merah masing- masing memberikan andil inflasi sebesar 0,02% dan 0,08%; sementara pada bulan Februari 2014 cabai rawit sebesar 0,03% dan cabai merah sebesar 0,10%.

Saat ini, harga rata-rata nasional untuk cabai merah biasa dan cabai merah keriting dibandingkan minggu lalu relatif stabil. Harga cabai merah keriting turun 5,16% menjadi Rp23.838/kg, sedangkan harga cabai merah biasa hanya naik 0,78% menjadi Rp26.101/kg. Namun pada periode yang sama, khusus untuk cabai rawit merah mengalami kenaikan sebesar 9,69% menjadi Rp55.515/kg.

Dampak Inflasi

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan angka inflasi pada Maret ini akan lebih kecil meskipun harga beberapa komoditas mulai mengalami kenaikan harga. Kondisi ini diperparah dengan pergeseran puncak panen di sejumlah daerah.

Kepala BPS, Suryamin mengungkapkan, tren laju inflasi di bulan ketiga ini relatif lebih rendah. Bahkan Maret 2013, realisasi inflasi mencapai 0,63% dan di periode yang sama tahun-tahun sebelumnya pernah mengalami deflasi. “Jadi tergantung upaya pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam mengendalikannya. Tapi biasanya inflasi di Maret tidak terlalu tinggi,” ujarnya.

Suryamin mengingatkan, jika beberapa daerah mengalami kemunduran jadwal panen puncak sehingga dapat berpengaruh terhadap kelangkaan bahan pangan dan berimbas pada laju inflasi. “Yang saya lihat kecenderungannya sudah jauh dari pengaruh penyesuaian bahan bakar minyak (BBM). Tinggal menjaga suplai dan demand bahan pangan,” terangnya.

Di sisi lain, Suryamin mengaku, aktivitas kampanye seperti sekarang ini bisa berpengaruh terhadap inflasi. "Bisa naik, bisa juga turun. Bisa dorong inflasi karena harga naik, tapi bisa turun kalau banyak dikasih gratisan," cetusnya.

Saat ini, tambah Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengaku, harga cabai rawit merah dan beras mengalami lonjakan. Namun kenaikan harga beras tidak separah cabai rawit merah yang tembus Rp 90 ribu per kilogram (kg). “(Cabai) masih naik, tapi inflasi di Indonesia paling dominan dikontribusi oleh beras dan BBM. Tapi Maret ini, inflasi lebih kecil,” ujarnya. Saat ditanya prediksi inflasi di bulan ketiga ini, apakah bisa di bawah 0,5%, Sasmito enggan meramalnya. “Mudah-mudahan,” tutup dia.