Jadikan Sebagai Public Utility

PROGRAM JARINGAN GAS RUMAH TANGGA

Sabtu, 29/03/2014

PROGRAM JARINGAN GAS RUMAH TANGGA

Jadikan Sebagai Public Utility

Mengapa pemerintah ingin mengganti bahan bakar minyak (BBM) tidak lagi dengan elpiji, tapi dengan gas bumi? Padahal, investasinya besar, sedangkan pengembalian modal-nya cukup lama?

“Yang pasti, hampir tak ada investor swasta yang berminat karena ya itu tadi, investasinya besar, tapi return-nya lama banget,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies (IResS) Marwan Batubara.

Menurut Marwan, di seluruh dunia yaitu di negara-negara maju, memakai pipa untuk menyalurkan gas ke rumah-tangga. Contohnya di Rusia dan Amerika Serikat (AS). Dia menjelaskan, ladang-ladang sumur migas di Indonesia kebanyakan menghasilkan elpiji (LPG) dalam jumlah yang sangat kecil, yaitu hanya sekitar 5% saja. Sebaliknya, dalam setiap gas bumi yang berhasil dieksplorasi sebanyak 90%an berisi gas metana (CH4).

Karena kebutuhan elpiji sebagai bahan bakar gas (BBG) sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM) sangat tinggi sedangkan produksinya kecil, pemerintah pun membuka keran impor. Sebaliknya, jika menggunakan gas jenis metana, jumlahnya masih melimpah ruang. Tidak perlu impor. Jadi harga dasarnya bisa lebih murah. Yang mahal hanyalah pembuatan jaringan pipa ke rumah-rumah penduduk.

“Jadi tak ada yang tertarik untuk membangun jaringan pipa,” kata Marwan kepada Neraca.

Kecuali, jika konsumennya adalah kalangan industri, pabrik, Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan pupuk. Dengan perusahaan-perusahaan besar tersebut, walaupun investasinya besar, namun keuntungannya cukup signifikan dan kembali modalnya juga tak lama. Birokrasi perizinannya juga mudah.

Karena itu, dia setuju dengan rencana besar yang dilakukan Perusahaan gas Negara (PGN) untuk mendistribusikan gas buminya ke rumah tangga-rumah tangga di Indonesia. “Kita dukung agar gas rumah tangga sebagai sarana umum atau public utility,” kata dia.

Sebagai konsekuensi dari keputusan itu, Marwan mengingatkan agar pemerintah mendukung penuh iktikad bisnis PGN tersebut. Dukungan yang diperlukan PGN adalah dalam bentuk kemudahan perizinan pemasangan instalasi pipa gas hingga ke perumahan. “Karena PGN harus menyiapkan infrastruktur transmisi dan distribusi, serta pasokan gasnya sendiri,” ujar Marwan, mantan general manager di Indosat.

Hemat Rp 55 Triliun

Sementara itu, Direktur Utama PGN Hendi Prio Santosa mengungkapkan, gas yang selama ini disalurkan PGN terbukti memberikan manfaat kepada sektor usaha dan perekonomian nasional. Usaha distribusi gas bumi sebanyak 827 MMSCFD atau setara 145 ribu barel minyak per hari ke kalangan industri komersial, usaha mikro kecil, menengah (UMKM), dan rumah tangga, mampu menghemat Rp 55 triliun per tahun jika bahan bakarnya menggunakan minyak (BBM).

“Dengan biaya bahan bakar yang lebih hemat dan ramah lingkungan, tentu sektor usaha akan memiliki daya saing yang tinggi dan mampu menciptakan multiplier effect yang luar biasa bagi perekonomian Indonesia,” kata Hendi, usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PGN di Jakarta, Kamis (27/3).

Proyeksi PGN itu diharapkan mampu menolong Indonesia dari defisit neraca perdagangan yang dipicu impor migas. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis defisit neraca perdagangan sepanjang 2013 hingga US$ 4 miliar. Kepala BPS Suryamin mengatakan, Defisit tahun lalu masih disebabkan perdagangan minyak dan gas (migas), yaitu sebesar US$ 12,6 miliar. “Untuk komoditas gas Indonesia sebetulnya surplus US$ 15 miliar, tapi impor hasil minyak membuat tekor US$ 24 miliar,” kata Suryamin.

Untuk mempercepat pemanfaatan gas bumi di Indonesia, tahun ini PGN telah menyiapkan investasi hingga US$ 1,25 miliar. Dana tersebut diperlukan untuk membangun infrastruktur gas bumi yang diperlukan sektor industri, komersial, UMKM. Di antara proyek infrastruktur itu adalah pembangunan pipa gas Kalimantan – Jawa (Kalija) tahap I, pembangunan samungan gas rumah tangga untuk menunjang Program PGN Sayang Ibu hingga 1 juta sambungan, serta membangun 16 stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) dan mobile refueling unit (MRU) atau SPBG berjalan.

Direktur Keuangan PGN Riza Pahlevi menambahkan, tahun ini PGN telah menyiapkan anggaran untuk pengembangan usaha hingga US$ 1,25 miliar. Sebanyak US$ 200 juta di antaranya untuk membangun infrastruktur gas bumi terintegrasi, US$ 400 juta untuk pengembangan bisnis di sektor LNG, dan US$ 650 juta untuk investasi di sektor hulu.

“Dengan fundamental yang sangat solid, PGN memiliki ruang yang cukup leluasa untuk membiayai ekspansi bisnis, karena itu kami akan terus memaksimalkan setiap peluang untuk mempercepat pemanfaatan gas bumi ke berbagai segmen pelanggan,” ujarnya. (saksono)

INVESTASI PGN 2014

No. PERUNTUKAN NILAI (US$)

-----------------------------------------------------------------------------------

1.Infrastruktur gas bumi terintegrasi 200 juta

2.Bisnis sektor LNG400 juta

3.Sektor hulu650 juta

-----------------------------------------------------------------------------------

Jumlah1.250 juta

Sumber: PGN, Maret 2014