Kemahalan, Righst Issue Garuda Kurang Dilirik Investor

Kamis, 27/03/2014

NERACA

Jakarta – Untuk memperkuat modal demi mendanai ekspansi usahanya, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menerbitkan rights issue atau melalui penawaran umum berkelanjutan (PUT) I sebanyak-banyak 3,23 miliar lembar saham. Hanya saja, banyak pelaku pasar menilai rendah apresiasi harga rights issue Garuda dengan berbagai pertimbangan kinerja keuangan yang masih terkoreksi.

Menurut Kepala Riset PT Buana Capital, Alfred Nainggolan, volatilitas rupiah yang masih cukup tinggi dan harga minyak dunia akan menjadi pertimbangan investor untuk menyerap saham Garuda. Tidak terkecuali untuk aksi korporasinya menerbitkan saham baru (rights issue),”Yang jadi masalah volatility-nya. Dengan laba yang mengalami tekanan akibat volatilitas kurs rupiah dan harga minyak sehingga investor lebih berhati-hati. Sehingga ini yang menyebabkan saham Garuda terlihat tidak menarik,”ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Rabu (26/3).

Jika dibandingkan dengan kinerjanya di tahun 2013 lalu, sambung dia, harga yang ditawarkan Garuda bisa dikatakan relatif mahal. Diketahui, rugi kurs yang cukup besar telah mengakibatkan laba emiten penerbangan ini turun signifikan. Namun, jika dilihat dengan asumsi rupiah yang mulai menguat dan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang membaik, saham ini masih cukup menarik. ”Kalau kita lihat PE-nya di 2014-2015 berada di kisaran 11-12 kali. Dengan PE tersebut sebenarnya tidak terlalu mahal.” ungkapnya.

Selain itu, harga yang ditawarkan saat ini sebesar Rp460 terbilang lebih rendah dari placement sebelumnya. Apalagi dengan adanya full commitment dari pihak penjamin emisi (underwriter). “Untuk long term investor akan menarik, dengan bonus demografi Indonesia tentunya sektor transportasi, termasuk penerbangan masih akan mengalami pertumbuhan yang baik ke depan.” ujarnya.

Seperti diketahui, dalam pengembangan bisnisnya di tahun ini Garuda juga tengah memperbesar jalur-jalur internasional, dengan harapan dapat menambah cashflow perusahaan. Meski belum menjamin rupiah akan membaik karena adanya beberapa persoalan seperti wacana kenaikan suku bunga The Fed dan internal makro ekonomi Indonesia, adanya penambahan kapal yang akan dilakukan emiten ini juga akan menjadi hal yng menarik. “Entry barrier juga cukup tinggi. Artinya, kalau masuk membutuhkan modal cukup besar. Apalagi wacananya nanti akan ada kenaikan suku bunga, sehingga ada pertumbuhan bagi likuiditas kita meningkat.” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari FEUI Budi Frensidy. Menurut dia, harga Rp460 per lembar saham yang ditawarkan Garuda masih terlalu tinggi. Pasalnya saat ini kinerja Garuda baru saja mengalami kerugian lantaran nilai kurs rupiah yang melemah. “Masih terlalu tinggi sehingga masih kurang menarik bagi investor. Terlebih dengan dilaporkannya bahwa kinerja Garuda pada 2013 mengalami kerugian, jadi harga saham yang ditawarkan masih terlalu tinggi,” ujarnya.

Menurut dia, harga yang pas per lembar sahamnya sebesar Rp450. “Untuk Rp450, mungkin masih menarik bagi para investor. Akan tetapi Garuda atau underwritter perlu mempersiapkan mitra strategis untuk berjaga-jaga sebagai standby buyer karena kalau antusiasnya kurang maka underwritter harus menyerap saham yang tidak terjual. Atau kalau tidak melalui Kementerian BUMN untuk dapat menyerapnya,” ujarnya.

Terkait dengan industri penerbangan, Budi menilai persaingan semakin ketat. Terlebih dengan semakin banyaknya maskapai-maskapai baru dengan menawarkan tarif murah. “Maskapai-maskapai sekarang banyak yang tutup lalu bikin lagi maskapai baru. Ini tentunya semakin menambah persaingan di bisnis industri penerbangan,” ujarnya.

Tak hanya itu, sambung dia, Garuda yang merupakan maskapai terbesar di Indonesia kerap kali mengalami masalah dengan nilai kurs yang melemah sehingga menyebabkan kerugian. “Tentunya ini menjadi perhatian bagi para investor. Karena begitu nilai mata uang rupiah melemah maka profitnya semakin tergerus,” imbuhnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengimbau kepada manajemen PT Garuda Indonesia Tbk dan penjamin emisi agar mencermati kondisi pasar modal sebelum menerbitkan saham baru, “Yang penting dari saya, jangan seperti kayak dulu (IPO). Saya tidak mau ikut-ikut," ujar Dahlan.

Dia juga mengakui, saat ini harga saham di Bursa Efek Indonesia tengah fluktuatif. Begitu juga dengan saham maskapai penerbangan pelat merah tersebut,”Cari investor memang paling sulit sebab harganya (Garuda) banyak orang bilang lagi murah sekali," katanya.

Serta, melemahnya harga saham, investor yang akan berpartisipasi dalam aksi korporasi ini harus memiliki komitmen. Dirinya mengharapkan kedua BUMN yang bergerak dalam bidang jasa keuangan non bank ini dapat menemukan investor yang kredibel. "Saya enggak mau Garuda kembali menyusahkan Bahana," jelasnya.

Disebutkan, dalam prospektus rights issue, Garuda mematok harga pelaksanaan rights issue Rp460 per lembar, sehingga hasil PUT I sebesar Rp1,5 triliun. Dalam aksi korporasi ini, pemerintah tidak akan menyerap seluruh rights issue perseroan yang menjadi haknya sebanyak 2,23 miliar lembar. lia/bari/bani