Harga Cabai Masih Mahal, Pemerintah Salahkan Distribusi

Kebutuhan Pokok

Kamis, 27/03/2014

NERACA

Karawang – Harga cabai kembali terasa “pedas”. Pasca terjadinya erupsi di Gunung Kelud sehingga membuat beberapa sentra produksi cabai mengalami gagal panen dan banjir, kini harga cabai masih betah dikisaran Rp80-90 ribu per kilogram. Menanggapi masih mahalnya harga cabai, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menilai kenaikan tersebut disebabkan masalah distribusi.

Menurut Mendag, jalur distribusi yang tidak berjalan lancar turut menyebabkan naiknya harga cabai. “Kan memang ada permasalahan bulan lalu, masalah distribusi yang buruk,” ujar Mendag di Karawang, Jawa Barat, Rabu (26/3).

Meski harga cabai tergolong tinggi, Lutfi mengklaim bahwa dari sisi produksi nasional telah mencukupi sehingga menurut dia seharunya tidak terjadi kenaikan harga. “Tapi kalau kita lihat trennya, secara nasional ternyata produksi itu cukup. Ini yang sedang kita usahakan adalah untuk mempublish harga-harga tersebut,” lanjut dia.

Bahkan menurut dia, untuk wilayah Jakarta telah terjadi penurunan harga cabai rawit merah menjadi sekitar Rp 60 ribu per kg. “Tapi kalau kita lihat di Jakarta, trennya menurun, sudah Rp 60 ribu malah. Ini yang sedang kita usahakan untuk memulihkan harga-harga tersebut,” tandas dia.

Sementara itu, Ketua Dewan Hortikultura Nasional (DHN), Benny Kusbini memperkirakan harga cabai akan naik sepanjang 2014, akibat kurangnya pasokan dari sentra produksi. Benny menyatakan, salah satu sentra penghasil cabai yakni Kecamatan Kepung, Kabupatan Kediri,Jawa Timur kini mengalami gagal panen akibat erupsi Gunung Kelud sehingga mengancam pasokan cabai nasional.

Selain itu, Indonesia sedang memasuki musim penghujan serta beberapa daerah menjadi terkena banjir, dan hal itu menyebabkan produksi cabai mengalami gagal panen. “Saat ini hingga Bulan Mei ke depan merupakan masa panen cabai, tetapi hasil panen tercatat hanya mencapai 30% dari target. Sementara setelah bulan Mei, cuaca akan memasuki musim kemarau dan dipastikan terus menurunkan produksi cabai,” jelasnya.

Menurutnya, dengan produksi cabai dalam negeri yang merosot maka kebijakan impor cabai harus dibuka. Benny menyebutkan Indonesia bisa mengimpor cabai dari Vietnam dan Thailand. Dikatakan, pemerintah harus bergegas mengimpor cabai dari kedua negara itu. Pasalnya, jika terlambat, produksi cabai Vietnam bisa diserap China yang juga merupakan negara mengalami gagal panen cabai. “Kalau sudah keduluan China, kan merepotkan. Setelah Vietnam kosong, harapan berikutnya tinggal Thailand,” ungkapnya.

Kementerian Perdagangan bersama Kementerian Pertanian, lanjutnya, harus duduk bersama guna menentukan jumlah kebutuhan cabai nasional dan jumlah produksi nasional. “Dari situ, baru ditentukan berapa alokasi untuk impor,” tukasnya.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menyarankan agar pemerintah mengambil dua langkah untuk menstabilkan harga cabe rawit yang akhir-akhir ini melonjak. “Ada dua langkah untuk menurunkan harga cabai yaitu meningkatkan produktivitas dan menjaga stabilitas pasokan cabai. Dengan cara yang saya sampaikan dan membangun fasilitas yang bagus bisa menjamin stabilitas pasokan,” ujar Enny.

Menurut dia, cabai mempunyai sifat inlastis yang berarti jika cabai murah tidak mungkin masyarakat makan cabai sampai satu mangkok sedangkan cabai mahal tidak ada orang yang enggak akan makan cabai lagi. Ia juga menjelaskan kunci utama untuk menurunkan harga cabai dengan memperbaiki sistem logistik yang sempat terhambat bencana alam. “Ini akan menjamin stabilitas pasokan dan stabilitas harga di pasaran," jelas dia.

Surplus Produksi

Dalam kunjungannya ke Temanggung, Menteri Pertanian Suswono mengatakan produksi cabai secara nasional mencapai 855.000 ton per tahun, sedangkan kebutuhan hanya sekitar 799.000 ton, sehingga surplus 55.000 ton per tahun. “Namun, harus disadari bahwa memang ada bulan-bulan tertentu khususnya pada musim hujan, produksi cabai kurang bagus. Hal itu yang menjadikan produksinya pada bulan tertentu memang kurang dari kebutuhan atau konsumsi,” katanya.

Ia mengatakan hal tersebut usai panen dan pencanangan gerakan tanam cabai rawit merah di Dusun Gemawang, Desa Pakurejo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung. Menurut dia, kebutuhan cabai tidak bisa ditunda, sedangkan jika disimpan lama tentu akan rusak, kecuali ada coolstorage. “Hal itulah yang menjadikan pemerintah pada bulan-bulan tertentu memasok kebutuhan karena untuk menambah suplai, namun hal ini sifatnya darurat saja,” katanya.

Mentan mengatakan, konsumsi cabai rawit merah khususnya yang sering menjadi berita sesungguhnya hanya 10 hingga 15%. Namun harga cabai merah yang fluktuasinya cukup tajam sering mempengaruhi psikologi pasar dan kontribusi terhadap tingginya inflasi. “Akhirnya gara-gara cabai inflasi tinggi. Hal ini tentu menjadi catatan penting bagi pemerintah,” katanya.

Ia mengatakan pemerintah ingin mengajak pemerintah daerah dan para penyuluh untuk mengantisipasi hal yang sering menjadikan produksi terganggu karena hama atau faktor cuaca yang tidak bersahabat. Menurut dia, penyuluh menjadi sangat penting untuk memberikan bimbingan kepada para petani agar produksinya tetap baik dalam situasi apapun sebab petani tidak bisa menolak yang namanya perubahan iklim.