AS Dituding "Parasit" Ekonomi Internasional

DUNIA HARUS MENANGGUNG BEBAN

Rabu, 03/08/2011

Jakarta - Krisis utang telah menyadarkan dunia, Amerika Serikat tidak lagi bisa diandalkan sebagai “kiblat” ekonomi dunia. Toh, AS sekarang ini hidup hanya mengandalkan utang. Namun karena dunia sudah telanjur menggunakan dolar AS sebagai transaksi internasional, maka dunia juga harus menanggung beban kerugiannya. Sehingga benar apa yang dikatakan Perdana Menteri Rusia, bahwa AS ibarat "parasit" ekonomi dunia. Namun tak hanya AS, tapi negara Eropa pun juga sama berpredikat "parasit".

NERACA

Ekonom Indef, Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, mengamini pernyataan PM Rusia Vladimir Putin, yang menyebut AS sebagai "parasit" perekonomian dunia. Menurut dia, tak hanya AS Tapi Uni Eropa juga ikut mengatur ekonomian global dengan membuat regulasi liberalisasi pasar bebas. “Kasus utang AS dan Eropa ini harus dijadikan momentum membuat tata kelola ekonomi dunia baru dibidang perdagangan, finansial, dan industri,” jelas dia kepada Neraca, Selasa (2/8).

Guru Besar FE Universitas Brawijata itu juga menyebutkan posisi Rusia dalam BRIC tak bisa dianggap remeh ke depan. Dari aspek nilai ekonomi seperti produk domestik bruto (PDB) BRIC, berpeluang menyaingi AS dan Eropa. Namun perlu diikuti adanya tekanan terhadap negara-negara maju tersebut. “Intinya, Harus ada pembagian kekuasaan jabatan di level tertinggi. Tidak hanya dari AS dan Eropa saja tetapi Asia, Amerika Latin, Afrika bisa menduduki posisi strategis itu,” tegasnya.

Terkait posisi Rusia dan China dalam memegang surat berharga AS, diakuinya, cukup berperan. Tahun 2012 akan banyak tantangan bagi AS mengenai bagaimana akan membayar defisit utangnya. “Rusia dan China memegang surat berharga AS. Selain itu juga Jepang dan Brazil. Pertanyaannya, apakah mereka akan bantu tambah beli obligasi AS? Saya rasa tidak. Tahun depan juga political risk-nya sangat tinggi karena memasuki pemilihan presiden. Ini akan menjadi senjata oposisi untuk melemahkan kekuatan pemerintahan Obama,” tandasnya.

Hal yang sama dikatakan ekonom FE Unika Atmajaya, Prasetyantoko, terkait ulah AS sebagai "parasit" ekonomi dunia. “Ya, ada benarnya juga. Karena AS memang mendominasi perekonomian secara global. Mata uang negara tersebut di pakai dalam transaksi hampir si seluruh dunia. Sirkulasi kapital, seperti saham pun dominasi di Amerika,” katanya kemarin.

Menurut Kepala LPPM Unika Atmajaya ini memberi contoh, saat ekonomi AS bagus, tidak timbul masalah. Tetapi saat ini memasuki krisis dengan ketidakpastian, maka berdampak ke yang lain. "Bisa di bilang, posisi Amerika menentukan ekonomi dunia. Tapi kondisi sekarang, Amerika sedang krisis menanggung utang yang sangat besar. Masa depannya tidak jelas. Ini berdampak pada ekonomi negara-negara lain yang ikut jatuh dan bisa bernasib sama dengan Amerika," ujarnya.

Kejatuhan Amerika saat ini memang memberi dampak negatif secara global. Akan tetapi, menurut Prasetyantoko, kemungkinan ekonomi dunia akan di ambil alih Cina. Namun bukan berarti China menjadi kiblat ekonomi. "Kalau ekonomi AS tak juga bangkit, saya rasa ekonomi dunia akan di kuasai Cina.. Tapi, bukan berarti Cina menjadi kiblat (ekonomi) baru negara-negara dunia. Cina hanya jadi negara dengan perekonomian terbesar,” ungkap analis kebijakan dari Center for Financial Policy Studies (CFPS) itu.

Pandangan berbeda justeru dari ekonom FEUI, Lana Soelistianingsih,, yang tak setuju AS dikatakan sebagai “parasit”. Alasanya kesepakatan batas utang AS itu dinaikkan US$2,1 triliun berlaku hingga 2013. Ditambah pemangkasan pengeluaran US$1 triliun dalam 10 tahun ke depan, dari keseluruhan rencana sebesar US$2,5 triliun. ”Jadi aya kurang setuju, kalau dibilang "parasit". Dulu Rusia dan AS itu kan selalu bersaing dalam segala hal. Jadi menurut saya itu propaganda politik kedua negara besar, ” katanya.

Menurut dia, AS justeru menjadi ”inang” bagi perekonomian berbagai negara di belahan dunia. Banyak negara-negara yang sangat bergantung dari kebijakan ekonomi Amerika.

Kontek ”parasit”, jelas Lana, bisa diibaratkan suatu tanaman yang hidupnya menempel pada tanaman lain. Dan mengambil makanan dari tanaman induknya. ”Amerika tidak seperti itu. AS justeru menjadi tumpuan ekonomi dunia, ” ujarnya.

Dia meyakinkan, hingga kini Ameria masih tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia. Dimana AS sebagai kontributor yang cukup berarti bagi PDB dunia. ”PDB total dunia itu mencapai US$70 triliun, sedangkan AS menyumbang 20 % dari total PDB dunia tersebut, sebesar US$ 14,7 triliun. Dari sisi perdagangan international, kegiatan ekspor dan impor, AS masih menduduki posisi tertinggi,” katanya.

Penyakit Kronis

Menyoal kondisi ekonomi AS yang melemah, Lana menyebutkan hal tersebut adalah ”lumrah” terjadi pada siklus perekonomian global. ”Memang AS sekarang sedang melamah, sehingga negara-negara yang lain juga melemah. Tapi apakah dengan melemah sehingga disebut parasit? Menurut saya justru dia seperti pohon yang sedang sakit atau melemah, sehingga "parasit-parasit" yang menempel juga ikut melemah,” ujarnya.

Ditempat terpisah, Peneliti ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho menandaskan, AS adalah negara yang sangat addict terhadap utang. Namun sekaligus spending too much. Konsumsinya jauh lebih besar dari produksinya. Menurut dia, AS punya penyakit kronis tidak mau menurunkan standard hidupnya di kala krisis. Alih-alih mau menurunkan konsumsi, AS justru meningkatkan plafon utangnya. “Itu penyakit kronis negara maju. Makanya tidak heran kalau imbas krisis di AS harus ditanggung renteng oleh seluruh dunia,” jelasnya kemarin.

Menurut dia, sengitnya kompetisi AS-Rusia, pernyataan itu paling tidak bisa dipahami dari dua alasan. “Pertama, dominasi AS atas perekonomian dunia. Namun dalam waktu bersamaan AS sedang mengalami defisit kembar, yaitu defisit neraca perdagangan dan defisit anggaran. Kedua, setiap AS menjual surat berharga, baik dari pemerintah maupun swasta pasti laku dengan ditambah transaksi dolar yang mendominasi. Ketika ekonomi mereka memburuk dan tak tahu kapan akan pulih, para pembeli surat berharga itu ikut terkena imbasnya,” terang Agus.

Lebih jauh Agus menegaskan, bukti AS sebagai "parasit" dunia juga dapat dilihat dari sektor finansial AS. Karena pengaruhnya sangat mengglobal, saat finansial AS jeblok, maka sektor finansial negara lain juga akan terkena imbas. Di lain sisi, tandas Agus, adanya surplus luar biasa di negara emerging market seperti China sangat mempengaruhi perekonomian dunia. “Adanya ketidakpastian di negara emerging market karena besarnya ekspor mereka terhadap AS. Ekspor dalam negeri negara-negara tersebut pasti terancam oleh krisis. Maka AS mengapresiasi mata uangnya agar ekspornya bisa terserap,” ujarnya. vanya/salim/ardi/munib/cahyo