Pemerintah Akan Bangun Kilang LNG di Jateng - Industri Hilir Gas

NERACA

Jakarta – Pemerintah Indonesia berencana untuk membangun kilang gas alam cair (LNG) berskala kecil yang akan dibangun di Jawa Tengah. Rencananya, kilang tersebut akan dibangun dengan dana dari APBN 2014. Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Edy Hermantoro mengatakan pasokan gas kilang tersebut direncanakan berasal dari sumber yang berada di sekitarnya. “Dari alokasi infrastruktur gas APBN 2014 sebesar Rp1,5 triliun, di antaranya untuk membangun 'mini LNG plant' di Jateng,” katanya di Jakarta, Rabu (26/3).

Jika nanti telah terbangun kilang, lanjut Edy, nantinya pengelolaan kilang tersebut akan diserahkan ke PT Pertamina (Persero). Selain kilang LNG, lanjut Edy, dana Rp1,5 triliun digunakan membangun stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) sebanyak enam unit yang terdiri atas empat unit berlokasi di Jabodetabek dan dua unit di Balikpapan, Kaltim.

Lalu, pemerintah juga berencana membangun jaringan gas kota untuk rumah tangga di Semarang, Jateng dan Lhokseumawe, Aceh dan pipa gas di sejumlah wilayah seperti Jabodetabek melalui dana APBN 2014 tersebut. “Gas kota di Semarang akan memanfaatkan sedikit gas dari Lapangan Gundih,” katanya.

Edy juga mengatakan, selain Pertamina, mulai 2014, pemerintah menugaskan PT PGN Tbk untuk mengembangkan infrastruktur gas yang dibangun melalui APBN. Pada APBN 2013, pemerintah menganggarkan dana infrastruktur gas senilai Rp597 miliar yang terdiri atas Rp470 miliar untuk SPBG dan Rp127 miliar untuk jaringan pipa gas sepanjang 22 km. Pembangunan keseluruhan infrastruktur gas itu dilakukan Pertamina.

Tak hanya bangun di Jawa Tengah, pemerintah juga berencana menambahkan kilang LNG di Natuna Donggi-Senoro dan Masela, selain optimasi kilang yang telah ada (Arun, Bontang dan Tangguh). Hal tersebut dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan penemuan lapangan gas yang relative besar, untuk masa mendatang. Peluang investasi pengembangan maupun pembangunan kilang LNG masih terbuka luas, mengingat di masa depan kebutuhan akan bahan bakar gas semakin besar dan menjadi prioritas.

Kilang LNG ada yang mengikuti pola hulu atau hilir. Kilang LNG pola hulu umumnya dimiliki oleh KKKS (kilang PT. Arun di Nanggroe Aceh Darusalam, kilang PT. Badak di Bontang, Kalimantan Timur dan kilang LNG BP Indonesia di Tangguh). Sedangkan kilang LNG pola hilir (kilang PT. Senoro Donggi LNG di Sulawesi Tengah), dimiliki badan usaha yang telah memperoleh izin usaha pengolahan gas yang diterbitkan oleh pemerintah.

Rencananya akan dibangun kilang LNG berkapasitas 335 MMSCFD pada tahun 2014. Pembangunan kilang ini melengkapi kebutuhan infrastruktur untuk memenuhi pasokan gas alam cair di Jawa dan Sumatera, di mana pemerintah sedang membangun tiga terminal penampungan (FSRI) di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Utara. FSRT ini akan dimanfaatkan untuk menampung pasokan LNG dari Blok Tangguh dan Blok Mahakam Kalimantan serta LNG dari lokasi lain seperti Qatar.

Sementara itu, PT Perusahaan Gas Negara Tbk juga merencanakan membangun kilang gas alam cair sebagai upaya pengembangan pasar khususnya ke Indonesia bagian timur. “Kami akan bangun LNG plant untuk daerah-daerah baru yang tidak tersambung pipa,” kata Dirut Perusahaan Gas Negara (PGN) Hendi P Santoso.

Menurut dia, pihaknya mengalokasikan dana proyek gas alam cair (liquified natural gas/LNG) pada 2014 sekitar Rp 5 triliun. Dana tersebut merupakan bagian dari belanja investasi (capital expenditure/capex) 2014 yang dialokasikan Rp 15 triliun.

Sebanyak Rp2 triliun lainnya untuk memulai pengembangan jaringan daerah-daerah baru. Hendi mengatakan, mulai 2014 hingga beberapa tahun ke depan, pihaknya akan memelopori daerah distribusi baru di tiga lokasi yakni Sumatera bagian tengah, Jawa Tengah, dan Indonesia bagian timur. “Polanya nanti akan kombinasi. Kalau belum ada pipa transmisi, maka akan memakai LNG atau CNG,” katanya. Sementara sisa capex Rp8 triliun di antaranya buat akuisisi blok migas.

Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko PGN Wahid Sutopo mengatakan pihaknya akan menyediakan gas untuk masyarakat seluas-luasnya. “Di Indonesia bagian barat, polanya dihubungkan dengan pipa dan bagian timur mungkin pakai nonpipa misalkan mini LNG,” ujarnya.

Menurut dia, dengan pola LNG, pihaknya akan menyuplai pembangkit gas yang belum beroperasi di Indonesia bagian timur, karena terkendala ketersediaan gas. Sementara, di wilayah Semarang, Jogja, dan Solo memakai pola gas terkompresi (compressed natural gas/CNG). Untuk sumber gas untuk LNG dan CNG itu, menurut dia, bisa berasal dari beberapa sumber di Jatim. Wahid juga menambahkan, pihaknya berharap mendapat mandatori untuk mengurusi alokasi gas domestik, sehingga bisa mempercepat pengembangannya.

Related posts