Produksi Gas Bumi

Sabtu, 29/03/2014

Produksi Gas Bumi

Oleh Bani Saksono (wartawan Harian Ekonomi Neraca)

Mencoba tak ingin bergantung dari impor, pemerintah Indonesia kembali berkonsentrasi memproduksi gas bumi untuk menggantikan bahan bakar minyak dan juga elpiji. Seluruh produksi gas bumi diperoleh dari hasil eksplorasi di dalam negeri, tidak impor dari Singapura yang sebetulnya sama sekali tak memiliki ladang migas.

Sepanjang 2013, produksi gas bumi Indonesia mencapai 6.981 British Thermal unit per hari (BBTUD) atau setara dengan 1,204 juta barel per hari. Data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menunjukkan pendapatan kotor dari produksi gas bumi dengan harga jual gas US$ 10,26 per mmbtu pada tahun lalu mencapai US$ 23,888 juta.

Berdasarkan sistem kontrak bagi hasil, tidak seluruhnya pendapatan kotor tersebut masuk ke dalam kantong pemerintah. Dari US$ 23,888 juta tersebut dibagi kepada perusahaan hulu gas (Kontraktor Kontrak Kerja Sama/KKKS) yang memproduksi gas bumi di Indonesia totalnya sebesar US$ 6,121 juta. Lalu, dipotong lagi pengembalian investasi yang telah dikeluarkan perusahaan gas selama 2013 (cost recovery) sebesar US$ 6,408 juta. Sehingga, bagian pemerintah hanya sebesar US$ 12,358 juta.

Tahun ini, pemerintah menaikkan kuota alokasi gas bumi untuk dalam negeri mencapai 3.782 miliar british thermal unit per hari (BBTUD) atau 52,7% dari seluruh produksi yang ada. Dalam Permen ESDM No. 03 Tahun 2010 Pasal 4 disebutkan untuk mendukung pemenuhan Gas Bumi untuk kebutuhan dalam negeri, kontraktor wajib ikut memenuhi kebutuhan gas bumi dalam negeri dengan menyerahkan sebesar 25% dari hasil produksi bagian kontraktor.

Jika kebutuhan domestik belum terpenuhi dengan kuota 25% tersebut, Kementerian ESDM dapat menetapkan kebijakan alokasi dan pemanfaatan gas bumi dari cadangan gas bumi yang dapat diproduksi dari setiap lapangan gas bumi pada suatu wilayah kerja. Untuk pemanfaatannya, sektor industri menyerap 19% atau sebesar 1.316 BBTUD pada 2013. Untuk pembangkit listrik, dari LNG dan gas bumi 1.097 BBTUD atau 16% dari total produksi gas.

Pada 2012, porsi gas domestik sebesar 3.550 BBTUD atau 49,5%. Jumlah itu dinaikkan lagi menjadi 3.774 BBTUD atau 52,1% pada 2013. Dengan demikian, volume gas yang diekspor menurun dari 3.631 BBTUD atau 50,5% pada 2012, dan turun lagi menjadi 3.402 BBTUD pada 2013 atau 47,9%. Sedangkan pada 2014, volume ekspor diturunkan lagi menjadi 3.393 BBTUD atau 42,7%.

Yang jadi persoalan saat ini adalah bagaimana mengurangi kuota ekspor gas untuk memenuhi kebutuhan domestik. Selain untuk industri, dan pembangkit listik, kebutuhan bahan bakar gas (BBG) itu juga akan disalurkan untuk kalangan rumah tangga. Sarana dan jaringan infrastruktur distribusi yang belum tuntas hingga memicu tingginya nilai ekspor di dalam negeri. []