Lebih Hemat dan Ramah Keluarga

TRANSFORMASI BBM KE GAS BUMI

Sabtu, 29/03/2014

TRANSFORMASI BBM KE GAS BUMI

Lebih Hemat dan Ramah Keluarga

Selama puluhan tahun beroperasi, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) tidak pernah ada kasus kecelakaan penggunaan gas bumi di kalangan pelanggan rumah tangga.

Sebaliknya, Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso menyatakan, pemakaian gas bumi sebagai bahan bakar pengganti minyak dan elpiji untuk rumh tangga justru lebih irit atau hemat.Dicontohkan, untuk satu tabung elpiji ukuran 12 kg, harga di pasaran sekitar Rp 100 ribu. Sedangkan dengan menggunakan gas bumi yang disuplai oleh PGN untuk pemakaian yang sama hanya membutuhkann biaya langganan hingga Rp 40 ribu saja.

Jauh lebih murah lagi jika dibandingkan dengan pemakaian bahan bakar minyak (BBM), jenis minyak tanah, misalnya. Saat ini, konsumsi minyak tanah berkurang drastis, hingga hanya pun melambung seiring berkurangnya subsidi harga BBM. Lagi pula harganya juga tinggi, yaitu Rp 7.000- Rp 8.000an per liter. "Dengan penghematan tersebut, maka industri rumahan juga akan sangat tertolong dan berkembang," katanya.

Untuk memobilisasi transformasi atau perubahan penggunaan elpiji ke gas bumi di kalangan rumah tangga, PGN pun menggelar kampanye program ‘PGN Sayang Ibu’ di lapangan olahraga di samping Masjid Al Faizin, Gang Mawar 2, Perumnas Klender, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa. Pencanangan program itu dilakukan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan. Sebanyak 2 ribu rumahdi Perumnas Klender telah berlangganan gas bumi yang dipasarkan PGN. Tiap titip, PGN harus berinvestasi antara Rp 5 juta – Rp juta. Karena itu, Dahlan menyarankan agar PGN menggandeng perbankan untuk meringankan biaya tersebut. Warga bisa membayarnya secara kredit, jadi tidak memberatkan.

Hendi menjelaskan pula, pemanfaatan gas bumi di sektor rumah tangga merupakan solusi yang tepat. Karena, selain memperkuat ketahanan energi nasional juga merupakan energi yang baik, aman dan terjangkau.

"Pemanfaatan gas bumi merupakan solusi yg paling tepat. Selain aman, dari sisi biaya gas bumi juga terjangkau. Maka kondisi rumah tangga tertolong dan berkembang," kata Hendi.

Menurut dia, kalangan rumah tangga merupakan pelanggan terbesar PGN. Saat ini PGN telah melayani sekitar100 ribu pelanggan rumah tangga. Khusus di kawasan Jabodetabek, PGN mematok pelangan baru hingga 10 ribu titik. Jika mendapat dukungan dari masyarakat, jumlah pelanggan baru akan lebih banyak lagi.

Sudah barang tentu, pihak PGN juga akan mempercepat pembangunn jaringan infrastruktur. Selain itu, yang diperlukan PGN adalah meningkatkan kapasitas produksi yang ditunjang kemudahan perizinan. “Dukungan itu mulai dari masyarakat, pemerintah daerah hingga pemerintah pusat, baik itu dalam hal kemudahan perizinan maupun kepastian alokasi gas bumi," kata dia.

Yang jelas, transformasi bahan bakar dari minyak lalu ke elpiji, dan kini ke gas bumi merupakan upaya penghematan dan efisiensi energi nasional. Pemerintah dapat mengurangi subsidi BBM dalam jumlah yang signifikan ketika dilakukan pengalihan atau pengurangan BBM ke dalam bentuk bahan bakar gas (BBM). Namun ironisnya, produk BBG untuk rumah tangga dalam bentuk elpiji tak mencukupi kebutuhan.

Produk gas yang berlimpah lebih banyak diekspor. Akibatnya, mobilisasi konversi BBM ke BBG khususnya elpiji harus dipenuhi dengan impor. “Padahal, kata Hendi, gas bumi yang diproduksi PGN merupakan hasil eksplorasi dari perut bumi Indonesia, tak perlu impor,” kata dia. (saksono)

BOX

Ciri Masyarakat Moderen

Perluasan pemanfaatan gas bumi untuk rumah tangga, kata Menteri Dahlan Iskan, sejalan dengan visi kementerian BUMN tentang pengelolaan energi nasional. Ke depan, gas bumi harus bisa diproyeksikan sebagai pengganti bahan bakar minyak, sebab, potensi gas di Indonesia saat ini lebih besar dari minyak. Cadangan gas bumi tersebut diproyeksikan hingga 150 tahun lagi. “Jadi terima kasih pada PGN yang terus meyakinkan masyarakat untuk memakai gas bumi,” kata Dahlan Iskan.

Pada kesempatan itu, Dahlan, mantan direktur utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) persero itu, menyatakan, pengalihan pemakaian elpiji ke gas bumi yang didistribusikan melalui jaringan pipa merupakan bagian dari upaya menciptakan masyarakat yang modern. “Tidak ada negara maju yang ibu-ibunya tenteng-tenteng tabung elpiji, Malaka Jaya sudah merintis jadi kampung modern karena gas untuk dapur sudah disalurkan melalui pipa gas,” tutur Dahlan.

Dia pun menunjukkan betapa hematnya penggunaan gas bumi dari pada minyak. Pemasangan jaringan pipa Kalija I yang menghubungkan sumber gas Lapangan Kepodang ke pembangkit listrik PLN, yaitu PLTGU Tambak Lorok, Semarang diperkiakan mampu menghemat ongkos produksi hingga Rp 2 triliun per tahun. Karena itu, DI, sapaan akrab Dahlan Iskan mengaku bangga dengan program yang dicanangkan PGN, yaitu PGN Sayang Ibu. Program itu merupakan bagian dari upaya mewujudkan target pemasangan kepada sejuta pelanggan sepanjang 2014 ini. (saksono)