Industri Asuransi Nasional Bakal Tumbang

Rabu, 26/03/2014

NERACA

Jakarta - Genderang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) semakin terdengar keras. Kendati demikian, industri asuransi nasional seperti belum percaya diri menghadapi “pertempuran” yang sudah di depan mata. Dengan persiapan ‘ala kadarnya’ diprediksi industri asuransi lokal bakal tergerus oleh industri asuransi negara Asia Tenggara.

Hal itu diamini oleh Kepala Eksekutif Bidang Industri Keuangan Nonbank Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Firdaus Djaelani, yang mengaku pesimistis industri asuransi nasional dapat bersaing dengan asuransi asing dalam lingkup Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

"Untuk jasa perbankan (integrasi di ASEAN) memang diundur menjadi tahun 2020. Waktu (pencanangan) itu, saya tidak tahu kenapa asuransi didahulukan menjadi tahun 2015," ujarnya di Jakarta, Selasa (25/3).

Dia mengatakan, setahun menjelang pemberlakuan MEA, regulator perasuransian Indonesia belum membahas persoalan integrasi asuransi dengan para regulator negara-negara ASEAN. "Saya merasa kurang terlalu optimistis akan tiba-tiba terbuka di 2015," jelasnya.

Namun, menurut Firdaus, sulit bagi industri perasuransian untuk menunda pemberlakuan pasar bebas Asia Tenggara ini. "MEA itu sudah dicanangkan sejak lama. Cuma persoalannya, itu bisa tercapai atau tidak di lapangan? Kalau penundaan, tentu harus ada kesepakatan bersama," ujarnya.

Menanggapi hal ini, pengamat asuransi Herris B Simandjuntak mengatakan, persiapan industri asuransi nasional menghadapai MEA ini ada tiga hal yang harus disiapkan.

Yaitu peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM), permodalan, dan teknologi informasi. Jika itu semua sudah disiapkan maka Asuransi nasional bisa bersaing secara kompetitif menghadapi MEA nanti. “Tapi faktanya ketiganya sebagian besar masih belum siap, terutama pada peningkatan SDM,” ungkap Herris kepada Neraca, Selasa (25/3).

Maka dari itu, OJK bersama perusahaan asuransi nasional, harus segera berbenah diri memanfaatkan waktu yang tersisa untuk dapat mempersiapkan diri karena kalau jika tidak hanya sebagai penonton saja. “Harus bertindak cepat karena memang waktunya sudah semakin dekat, jika tidak kita hanya menjadi pasar saja MEA nanti,” tegas Herris.

Selain itu, upaya lain yang harus dilakukan oleh Pemerintah saat ini adalah dengan memperbaharui maupun mulai menjalin kerja sama bilateral antarnegara ASEAN agar asuransi dalam negeri tidak dijegal di negara tetangga.

“Walaupun pasar bebas tetapi Pemerintah juga harus menyiapkan diri terutama untuk kerjasama bilateralnya mengingat setiap negara punya aturan dan regulasi yang berbeda walaupun bebas tapi punya aturan,” ujarnya.

Singapura Sangat Siap

Adapun Herris menilai bahwa sejauh ini negara ASEAN yang sudah sangat siap menghadapi Pasar Tunggal Asia Tenggara adalah Singapura. Karena belum bergulir saja ekspansi dan kesiapannya sudah matang harusnya Indonesia bisa melihat setidaknya belajar dari Singapura untuk industri asuransinya.

“Singapura yang sudah cukup ekstrak menghadapi MEA. Di samping negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Thailand, Indonesia harus mampu mengejar ketertinggalan itu. Apakah itu mungkin berhubung waktunya sangat singkat?” kata Herris, seraya meragukan.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perbankan dan Finansial, Rosan P Roeslani menambahkan, kesiapan Indonesia menghadapi MEA memang masih cukup rendah. Kesadaran individu maupun institusi terkait masih perlu ditingkatkan.

"Masih cukup rendah jadi harus melakukan awareness sosialisasi perbankan, asuransi dan pasar modal sehingga masyarakat kita siap. Kami para pelaku industri memang harus optimis tapi harus realistis. Masyarakat untuk melek asuransi masih sangat terbatas," kata Rosan. Di negara lain seperti Myanmar, mereka sudah lebih dulu melakukan persiapan-persiapan dalam menghadapi MEA.agus/ardhi