Industri Asuransi Nasional Bakal Tumbang

NERACA

Jakarta - Genderang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) semakin terdengar keras. Kendati demikian, industri asuransi nasional seperti belum percaya diri menghadapi “pertempuran” yang sudah di depan mata. Dengan persiapan ‘ala kadarnya’ diprediksi industri asuransi lokal bakal tergerus oleh industri asuransi negara Asia Tenggara.

Hal itu diamini oleh Kepala Eksekutif Bidang Industri Keuangan Nonbank Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Firdaus Djaelani, yang mengaku pesimistis industri asuransi nasional dapat bersaing dengan asuransi asing dalam lingkup Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

"Untuk jasa perbankan (integrasi di ASEAN) memang diundur menjadi tahun 2020. Waktu (pencanangan) itu, saya tidak tahu kenapa asuransi didahulukan menjadi tahun 2015," ujarnya di Jakarta, Selasa (25/3).

Dia mengatakan, setahun menjelang pemberlakuan MEA, regulator perasuransian Indonesia belum membahas persoalan integrasi asuransi dengan para regulator negara-negara ASEAN. "Saya merasa kurang terlalu optimistis akan tiba-tiba terbuka di 2015," jelasnya.

Namun, menurut Firdaus, sulit bagi industri perasuransian untuk menunda pemberlakuan pasar bebas Asia Tenggara ini. "MEA itu sudah dicanangkan sejak lama. Cuma persoalannya, itu bisa tercapai atau tidak di lapangan? Kalau penundaan, tentu harus ada kesepakatan bersama," ujarnya.

Menanggapi hal ini, pengamat asuransi Herris B Simandjuntak mengatakan, persiapan industri asuransi nasional menghadapai MEA ini ada tiga hal yang harus disiapkan.

Yaitu peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM), permodalan, dan teknologi informasi. Jika itu semua sudah disiapkan maka Asuransi nasional bisa bersaing secara kompetitif menghadapi MEA nanti. “Tapi faktanya ketiganya sebagian besar masih belum siap, terutama pada peningkatan SDM,” ungkap Herris kepada Neraca, Selasa (25/3).

Maka dari itu, OJK bersama perusahaan asuransi nasional, harus segera berbenah diri memanfaatkan waktu yang tersisa untuk dapat mempersiapkan diri karena kalau jika tidak hanya sebagai penonton saja. “Harus bertindak cepat karena memang waktunya sudah semakin dekat, jika tidak kita hanya menjadi pasar saja MEA nanti,” tegas Herris.

Selain itu, upaya lain yang harus dilakukan oleh Pemerintah saat ini adalah dengan memperbaharui maupun mulai menjalin kerja sama bilateral antarnegara ASEAN agar asuransi dalam negeri tidak dijegal di negara tetangga.

“Walaupun pasar bebas tetapi Pemerintah juga harus menyiapkan diri terutama untuk kerjasama bilateralnya mengingat setiap negara punya aturan dan regulasi yang berbeda walaupun bebas tapi punya aturan,” ujarnya.

Singapura Sangat Siap

Adapun Herris menilai bahwa sejauh ini negara ASEAN yang sudah sangat siap menghadapi Pasar Tunggal Asia Tenggara adalah Singapura. Karena belum bergulir saja ekspansi dan kesiapannya sudah matang harusnya Indonesia bisa melihat setidaknya belajar dari Singapura untuk industri asuransinya.

“Singapura yang sudah cukup ekstrak menghadapi MEA. Di samping negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Thailand, Indonesia harus mampu mengejar ketertinggalan itu. Apakah itu mungkin berhubung waktunya sangat singkat?” kata Herris, seraya meragukan.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perbankan dan Finansial, Rosan P Roeslani menambahkan, kesiapan Indonesia menghadapi MEA memang masih cukup rendah. Kesadaran individu maupun institusi terkait masih perlu ditingkatkan.

"Masih cukup rendah jadi harus melakukan awareness sosialisasi perbankan, asuransi dan pasar modal sehingga masyarakat kita siap. Kami para pelaku industri memang harus optimis tapi harus realistis. Masyarakat untuk melek asuransi masih sangat terbatas," kata Rosan. Di negara lain seperti Myanmar, mereka sudah lebih dulu melakukan persiapan-persiapan dalam menghadapi MEA.agus/ardhi

BERITA TERKAIT

Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun - Dukung Industri 4.0

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…

Revolusi Industri 4.0 Untuk Bidik 10 Besar Dunia

NERACA Jakarta – Pemerintah telah menetapkan target Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia tahun 2030.…

Shell Rilis Dua Produk Bahan Baku Industri Manufaktur

Shell Lubricants Indonesia meluncurkan dua produk unggulannya, yaitu Shell Flavex 595B, Shell Risella X dan berbagai produk portfolio dalam kategori…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

SETELAH TERTUNDA SEJAK MARET 2018 - Peluncuran OSS Tunggu Putusan Presiden

Jakarta- Setelah tertunda pelaksanaannya sejak Maret hingga kini, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, rencana peluncuran sistem perizinan terpadu secara…

PENGUSAHA KHAWATIR PERLAMBATAN EKONOMI - IMF: Perang Dagang AS-China Tingkatkan Risiko

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) mengingatkan, kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan perang dagang dengan China dapat meningkatkan…

BANK DUNIA TURUNKAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI 2018 - Kebijakan “Pre-Emptive” Redam Gejolak Pasar

Jakarta-Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, kebijakan pre-emptive (menyerang) dengan menaikkan tingkat suku bunga mendahului The Fed ternyata cukup efektif dalam…