Pemilu Diprediksi Hanya Berkontribusi 0,2% - Pertumbuhan Ekonomi

NERACA

Jakarta - Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Ryan Kiryanto, memperkirakan penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) tahun ini akan memberikan kontribusi sebesar 0,2% dari pertumbuhan ekonomi nasional. "Saya melihat pemilu memberikan dorongan ekonomi langsung sekitar 0,2%,” ujarnya di Jakarta, Selasa (25/3).

Ryan mengatakan, meskipun ada kontribusi terhadap pertumbuhan, namun ada kemungkinan sumbangan pemilu tidak sebesar yang diperkirakan karena penyelenggaraan pemilu yang tidak semeriah 2004 dan 2009 lalu.

"Tahun ini aktivitas penjualan atribut peserta pemilu sepi-sepi saja. Beda dengan tahun 2004 dan 2009. Itu karena pemahaman politik masyarakat tidak sebagus sekarang. Coba lihat, sekarang ini kampanye bisa memanfaatkan media sosial, tidak perlu hadir secara fisik. Ini jelas membuat permintaan riil berkurang," terang dia.

Namun secara keseluruhan, Ryan memperkirakan pemilu 2014 akan menjadi stimulus kegiatan ekonomi dengan ekspektasi publik yang lebih baik, dengan syarat kondisi politik yang ada sama seperti situasi pemilu 2004 dan 2009.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Chatib Basri tetap optimistis penyelenggaraan pemilihan umum akan menyumbang pertumbuhan ekonomi 2014 yang diperkirakan mencapai 5,8%-6%. "Sumbangan pemilu lumayan, karena belanja iklan pasti naik, kalau belanja naik, permintaan pun pasti naik," katanya.

Chatib juga mengatakan, pemilihan umum akan meningkatkan permintaan di sektor jasa serta mendukung kinerja konsumsi rumah tangga yang masih memegang peranan terbesar dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Dia juga mengaku tidak khawatir dengan revisi pertumbuhan ekonomi yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada kisaran 5,5%-5,9%, dari sebelumnya pada batas 5,8%-6,2%. Hal ini dikarenakan terbatasnya pengaruh pemilihan umum.

"Kita masih 5,8%-6%. BI hanya memprediksi 5,5%-5,9%. Jadi angka Pemerintah masuk di situ," ujar Chatib. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2014 pada kisaran 5,5%-5,9%, karena pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan lebih rendah dari perkiraan semula akibat terbatasnya pengaruh pemilihan umum, dibandingkan pemilihan umum dua periode sebelumnya.

Keberatan TDL naik

Pada kesempatan yang sama, Bendahara Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Pusat, Bayu P Djokosoetono mengatakan, pihaknya berencana melaporkan keberatan penyesuaian tarif dasar listrik (TDL) yang berlaku mulai Mei 2014 mendatang kepada dua Menteri. Yaitu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa.

“Kami telah menerima keluhan dari pelaku usaha besar serta kecil dan menengah (UKM) yang tergabung menjadi anggota HIPMI terkait kenaikan tarif dasar listrik ini. Kami juga mau memprotes karena listrik kerap mati di daerah,” ungkap Bayu.

Meskipun begitu, pihaknya belum menghitung pasti imbas dari kenaikan TDL terhadap biaya operasional perusahaan. Bayu pun mendesak supaya Pemerintah juga meningkatkan pelayanan listrik apabila penyesuaian tarif terealisasi.

"Sebenarnya, kalau mau menaikkan tarif listrik kita setuju saja. Tapi jangan mati-mati terus. Karena apapun jenis kenaikannya, mau itu tarif listrik atau upah minimum, pasti menggerus marjin atau keuntungan,” tandasnya. [ardi]

Related posts